Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 52


__ADS_3

Ara dan sherena tiba. Mereka langsung masuk dan disambut untuk memperkenalkan diri kembali pada semua staf yang ada. Brey juga ada disana, tengah memperhatikan istri dan sepupunya bicara.


"Saya Tiara Artamevia, semoga kakak senior disini bisa membimbing kami." Ara menundukkan kepala sebagai penghormatan pada mereka semua.


"Selamat datang kalian. Semoga bisa bekerja sama disini dengan para senior yang ada. Jangan ragu untuk bertanya, karena takutnya nanti akan tersesat. Iya, tersesat dihati saya..." celetuk Sean, dan saat itu segera mendapat lirikan tajam breyhan.


"Wuaduh," Sean segera menggaruki kepalanya yang tak gatal.


"Iya, Pak..." jawab ara padanya. Mereka kemudian diarahkan kania menuju sebuah bilik dan mereka akan bekerja disana.


Kania juga memberi pesan, karena mereka masih magang hingga harus lebih rajin bertanya pada senior yang ada disana. Dan bahkan, apapun yang senior katakan usahakan mereka menuruti karena itu termasuk dalam kriteria penilaian.


"Kalau suruh buatin kopi, masa harus nurut?" tanya sherena padanya. Mereka bukan Ob, dan tak harus menurut jika ditindas oleh senior jahat pada mereka.


"Itu, bagaimana cara kalian mengambil sikap nanti. Saya disini hanya mengarahkan, apalagi Mba she dan Nyonya tak mau ada hubungannya dengan Tuan sama sekali."


"Kak kania_" lirih ara, takut jika orang lain akan mendengar obrolan mereka. "Iya, ara ikutin arahan semua. Maaf,"

__ADS_1


Ara kemudian menarik sherena kembali ke ruangan, duduk dan mulai melakukan semua tugas yang ada disana dengan semestinya. Kadang memang disuruh ini itu, tapi itu adalah konsekuensi mereka. Menjadi tukang kopi, tukang fotocopy, tukang print, dan semuanya dilakukan.


"Permisi, Pak Bryehan ada?" tanya seorang wanita pada kania, sekretaris brryhan yang kini tengah duduk dikursinya.


"Bu Aya? Mari masuk, Pak Brey sudah menunggu daritadi." Kania segera berdiri dan membawa Aya masuk kedalam ruangan rekan kerjanya itu. Dan benar saja, breyhan langsung menyambutnya disana.


"Selama pagi, Pak Breyhan..." sapa Aya dengan senyumnya. Meski ia harus menjaga jarak karena breyhan telah memiliki istri saat ini. Sulit, karena ia sudah terlanjur terkesima oleh pesonanya.


Keduanya lantas mulai membahas ptoyek mereka berdua. Seperti biasa, jika aya menjadi wakil ayahnya saat ini.


Keduanya begitu profesional, pembicaraan tak melenceng kemanapun hingga semua selesai. Sampai seseorang masuk dan membawakan teh untuk keduanya. Dan saat itu aya memperhatikan wajah wanita yang menyajikan teh mereka.


"Maaf, Bu. Saya_"


"Ara sedang magang disini, Aya. Aku harap kau bisa profesional padanya." Breyhan memotong pembicaraan mereka berdua dan berusaha menjadi penengah.


Ara mengangguk dengan ucapan brey saat itu, dan memohon agar aya mengerti keadaan mereka saat ini.

__ADS_1


"Oowwwh_" Hanya itu yang aya ucapkan pada keduanya. Setelah itu ara pamit keluar, dan aya menangkap tatapan penuh cinta breyhan pada istrinya. Dan saat itu, masih saja terasa nyeri didada.


"Jadi, kalian akan berjauhan selama di kantor?" tanya ara pada brey.


"Ya, aku juga harus menjaga diri sebisanya. Padahal kami pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya," senyum brey.


Aya beberapa kali menganggukkan kepala. Entah apa yang ada dalam fikirannya saat itu, hingga ia tersenyum sendiri dengan keadaan ini.


"Ya sudah kalau begitu, bukankah kita harus ke proyek hari ini?" ajak Aya, dibalas anggukan breyhan padanya.


Pria itu segera beranjak dari kursi, lantas meraih beberapa alat penting yang harus ia bawa kesana. Sayangya sean keluar untuk acara dan pertemuan lain hingga tak bisa menemaninya saat ini.


Keduanya keluar dari ruangan pribadi breyhan, dan ara sudah kembali duduk ditempat untuk pekerjaan barunya. Mereka semua memberi hormat ketika bos ada didepan mata, tak terkecuali ara dan sherena.


"Oh, Pak, sebentar." Aya membalik tubuh menghadap breyhan saat itu, "Ini, dasinya miring. Jadi harus dibenerin biar rapi,"


Aya tanpa canggung merapikan dasi breyhan didepan para pegawainya, bahkan ia tahu jika ara tengah menatap merema berdua dari tempatnya saat ini.

__ADS_1


"Nah, kan rapi. Bos besar itu memang harus menjaga penampilannya, karena ia akan menjadi pusat perhatian diluar sana," senyum aya padanya.


Ara disana hanya mengerenyitkan dahinya. Ia manatap aya seakan tak suka, dan bahkan mencium aroma aneh dari dirinya."Ya, penampilan tak selalu menggambarkan isi apalagi hatinya."


__ADS_2