Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 21


__ADS_3

Hari kembali pagi dan Ara bangun cepat lagi. Ia membuatkan bekal untuk Brey lagi dengan menu yang berbeda pagi ini, tak lupa mengkoreksi rasanya agar tak lebih parah dari yang kemarin..


Ini bukan perkara balas budi. Ada sesuatu yang harus ia bicarakan pada Brey pagi ini, dan Ia sudah memantapkan hati. Usai dengan semua bekal itu, Ara segera membersihkan diri laluh beradandan rapi segera menuju kampusnya.


Ara duduk diatas motor cukup lama, menunggu dinparkiran hingga Brey datang bersama adiknya.


"Itu Ara nungguin? Apa mau kasih bekal lagi?" goda Ila pada kakaknya. Bahkan Brey membawa kotak bekal kosong kemarin untuk Ia kembalikan pada Ara.


Ila turun dari mobil menghampiri gadis itu, namun tatapannya tertuju kebelakang Ila dengan breyhan yang masih disana.


" Iya, bentar lagi turun kok," goda Ila pada sahabatnya itu.


Dan benar saja, Brey segera turun setelahnya dan menghampiri mereka dengan kotak bekal kosongnya.


"Semalem nekat ke kantor demi kotak bekal itu, bahkan dikira maling masuk kantornya sendiri." bisik Ila pada Ara.


Terenyuh dan tersentuh, wajah Ara langsung merah bagai tomat kematangan. Apalagi, teringat kejadian kemarin siang. Ingin rasanya ara segera berlari tunggang langgang meninggalkan mereka berdua disana. Namun tekadnya sudah bulat, Ia harus bicara pada Brey pagi ini juga.

__ADS_1


"Kalian ngomongin apa?" tanya Brey padanya.


"Ah, ngga papa. Itu, istri tercinta bawain bekel lagi. Makin rajin sepertinya,"


"Ila," tegur Brey pada adiknya. Apalagi Ia melihat wajah Ara yang sudah amat tegang, menggigiti bibir hingga semakin merah dan merona. Itu membuatnya semakin gemas pada istri kecilnya.


"Ara... Ara mau ngomong sama Kak Brey, boleh?" tanya ara yang amat gugup saat ini. Ia bahkan menggelengkan kepala ketika brey meminta langsung bicara didepan Ila, toh Ila adalah sahabatnya.


"Baiklah, kita bicara di..." Brey memperhatikan beberapa tempat. Tapi begitu ramai dan nyaris tak ada tempat sepi pagi ini.


"Di mobil aja, berdua..." potong Ara. Agaknya amat serius, Ila sampai mengerenyitkan dahinya. Tapi Ia berusaha memahami mereka dan mengalah pergi dari keduanya.


"Lalu mau bicara tentang apa?" tanya Brey dengan segala perhatian untuk ara.


Cukup canggung, dan ara bahkan menghela napas beberpa kali didepannya. Jika boleh, Brey saat itu ingin meraih dagu ara dan menatap matanya untuk bicara. Namun ia belum berani melakukan itu untuk saat ini. Ara akan berfikiran macam-macam padanya nanti. Ia saka masih berusaha meraih hati ara sepenuhnya.


"Ra?" panggil Brey. Hingga akhirnya ara menoleh dan memberikan tatapan cukup intens padanya.

__ADS_1


"Seberapa berharga ara buat kak brey?" tanya Ara.


Breyhan menyipitkan mata, Ia berusaha mencerna semua pertanyaan ara. Ia takut salah menjawab, dan Ara akan semakin ilfeel padanya.


"Kau tahu, bagaimana aku mengambil kotak bekal itu semalam?" tanya Brey, dan ara mengangguknya karena mendengar cerita Ila.


"Jika kotak bekal darimu saja begitu berharga, apalagi denganmu sebagai pemiliknya?"


Tatapan ara saat itu berubah menjadi haru. Matanya berkaca-kaca dengan jawaban spontan Brey padanya, meski terkesan gombal tapi begitu mengena dihatinya.


"Bahkan mahkota pernikahan kita masih ada sama kakak?"


"Kau melihatnya?"


"He'emh... Ngga sengaja,"


"Ya, jadi kau tak perlu bertanya lagi betapa berharga dirimu untukku. Kenapa?" tanya Brey pada Ara.

__ADS_1


Bahkan Brey merubah posisi duduknya agar bisa lebih dekat dengan ara, dan Ia mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.


"Kakak, mau nikahin Ara beneran?"


__ADS_2