Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 23


__ADS_3

Breyhan dan Sean saling duduk berdampingan saat ini, di balkon paling atas kantor mereka. Sean diam mengapit kedua paha dan tangannya, sementara Breyhan terus memberinya tatapan tajam penuh ancaman. Sesekali Sean tampak mengusap keringat di dahi, menunggu apalagi yang akan brey katakan padanya.


"Kenapa mendadak Ara ngajak nikah?" tanya Sean yang akhirnya membuka suara.


"Entah... Mendadak dia tanya," jawab Brey dengan santai dan wajah datarnya. Saat itu sean hanya bisa menghela napas, semakin kesal rasa didalam dada pada sepupunya itu. Sangking bahagianya mungkin, hingga Ia hanya meng'iyakan ajakan ara padanya.


"Bukan terpaksa kan? Aku dengar mami papi memberikan bantuan pada Om johan dan istrinya. Astaga!"  Sean langsung mengatupkan mulut dan menepuknya beberapa kali. Ia merasa keceplosan dan takut jika Brey menganggap lain dengan alasan pernikahannya dan ara nanti.


"Lantas?"


"Ngga, lupakan saja. Toh ara gadis berpendirian yang tak mungkin_..."


"Meskipun iya... Ara tetap akan jadi milikku, bukan?" Jawaban itu membuat Sean seketika menoleh padanya. Ia tak menyangka jika Brey benar-benar menginginkan ara meski bagaimana caranya.


"Tapi boong... Hahahhaha!" tawa Breyhan menyeringai terdengar hingga keseluruh ruangan. Sean langsung memanyunkan bibirnya, rasanya ingin menabok sepupunya itu sekuat tenaga bahkan sampai pingsan karenanya.


"Sudah... Mengkesal aku mendengarmu. Aku tahu kau bahagia, tapi jangan lantas mempersulit hidupku!"


"Apa? Kenapa Kau yang sulit? Memang aku kenapa?" lirik ngeri Brey padanya.

__ADS_1


"Ah... Au ah. Ayo kerja! Semua dokumen itu tak akan tertandatangani sendiri tanpa kau yang melakukannya. Kecuali kau serahkan perusahaan ini padaku,"


"Bisa... Nanti, kalau aku bulan madu sama Ara." Khayal breyhan sembari mengedipkan mata genitnya berkali kali. Itu semakin membuat Sean emosi, Ia menjauhkan kepala Sepupunya itu darinya. Namun, Brey terus saja mengusapkan kepala di lengan sepupunya.


"Hey!!!!" amuk Sean dengan segala jengahnya. Brey hanya tertawa, begitu lepas bagai orang kembung lepas dari begahnya.


Sementara itu, ara saat ini tengah banyak diam duduk menatap didekat jendela ruangannya. Ia menatap indah semua pemandangan yang ada tanpa sama sekali bicara, bahkan ketika Ila mengajaknya kekantin bersama.


"Ara kenapa sih?" tanya She yang akhirnya penasaran pada sikap ara. Padahal Ila sudah memberitahu jika Ara memang banyak diam hari ini setelah bertemu dengan brey dan bicara didalam mobilnya.


"Ara ngga papa, She." jawab Ara dengan nada malasnya. Bahkan Ia sama sekali tak menoleh kearah mereka berdua.


"Ngapa-ngapain? Maksudnya? Astaghfirullah... Ila! Bisa-bisanya kamu kira aku begitu sama kakakmu sendiri!" geram Ara pada tuduhan Ila itu. 


Ila langsung mengatupkan bibir, menunduk dan merasa tak enak hati pada Ara saat ini. Ia hanya ingin bercanda, tapi sepertinya Ara teramat sensitif hari ini dengan perasaannya. Bahkan Ara rasanya tak berani menatap Ara sama sekali dengan matanya.


"Ara, maaf..." sesal Ila dengan suara seraknya.


"Yaudah, jangan bahas lagi. Aku cuma pengen sendiri saat ini, bisa?" pinta ara. She segera membawa Ila untuk menyingkir dari sana, setidaknya berpindah kursi darinya sejenak.

__ADS_1


"Tapi aku khawatir," lirih Ila.


"Udah, diemin aja dulu. Sepertinya memang ara perlu waktu untuk berfikir, meski kita ngga tahu dia lagi mikirin apa. Diemin aja dulu,"


"Iya," pasrah Ila. Meski masih tak tenang, ketika sahabatnya yang selalu ceria itu menjadi murung hari ini. Apalagi murungnya Ara setelah bicara dengan kakaknya tadi pagi, hingga Ila begitu penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


Hingga waktunya mereka pulang dari kampus. Yang bahkan Ara tak mengajak Ila naik motornya siang ini dan memilih pergi dengan tergesa-gesa.


"Ara masih marah?" kejar Ila padanya.


"Engga, La. Kenapa?" Ara sembari memakai helm dikepalanya berusaha menjawab Ila.


"Tapi gitu,"


"Gitu gimana?"


"Ara cuek sama Ila dan sama She,"


"Ehmmm... Nanti malem kita ketemu, ya? Kak Brey akan bawa aku kerumah bertemu mami papi."

__ADS_1


__ADS_2