
Plukk! Mami kemudian menepuk bahu sang putra, "Bayangin apa?" tatapnya datar.
"Eng... Engga, ngga bayangin apa-apa. Brey_ Breyhan ke kamar dulu, Ma. Byeeee," pamit breyhan pada maminya. Ia dengan cepat, bahkan setengah berlari menaiki tangga hingga tiba ke kamar pengantinnya.
Disana ara tampak ara tengah tidur pulas diranjang pengantin mereka. Gadis itu tampak semakin manis dengan wajah polosnya. Dan itu lah yang membuat breyhan selalu terpesona oleh ara sejak masa kecil mereka. Hidungnya, bulu matanya yang lentik, dan semua meski dengan
Sifat manjanya.
Ara merasakan sebuah tangan membelainya. Ia kemudian bangun dalam keadaan cukup terkejut lalu seketika duduk dihadapan suaminya itu, "Kakak?" Ara berusaha mengembalikan kesadaran dirinya saat ini.
"Aku mengganggumu? Soryy. Aku hanya_..."
"Ngga papa, Ara cuma belum terbiasa aja. Kakak mau mandi? Biar ara siapin pakaiannya," tawar ara, ketika tengah mencoba menjadi istri yang baik untuk suaminya.
Breyhan memegang kedua bahu ara, membawanya tidur kembali diatas ranjang dengan nyaman. Ia bisa jika hanya mempersiapkan semuanya dan mempersilahkan ara istirahat kembali dan memejamkan matanya.
Namun, ara adalah tipe yang sulit tidur lagi jika sudah terbangun. Ia memang terbaring, tapi matanya masih saja terbuka. Ia menatap breyhan yang tengah membuka satu persatu apa yang ia pakai saat ini. Ara tersenyum malu-malu menatapnya.
"Lihat apa?" tanya Brey yang nerajh handuk ditangannya..
"Engga... Ngga lihat apa-apa. Katanya ara harus terbiasa, jadi ara lihatin biar besok ngga kaget lagi." senyumnya.
__ADS_1
"Biar terbiasa juga, mandi sama-sama. Mau?" goda brey padanya. Ara langsung melotot dan meneguk saliva, wajahnya juga pucat seketika. Ia langsung menutup seluruh selimut itu ke tubuhnya.
Brey hanya tertawa. Padahal ara sendiri yang sempat menggodanya tadi, tapi ia sendiri yang tampak ketakutan saat ini. Brey yang iseng justru mengerjainya, Ia mendekatkan wajah pada sang istri hingga kedua mata mereka kini saling bertemu.
"A-apa?" tanya gugup ara padanya.
Senyum brey mengembang, meraih wajah itu kembali dan mengusapnya dengan lembut. Turun ke dagu kemudian mengangkat wajah ara agar sejajar dengannya. Perlahan ia mendekat, dan semakin lama semakin dekat.
"Katanya mau mandi?" cemas ara padanya.
"Bentaran doang. Sini dulu," pinta Brey ketika ara berusaha menjauhkan wajahnya. Ara menggeleng, perlahan mundur menghindari brey yang terus memberikan tatapan smirk padanya.
"Ara... Sini dulu," bujuk Brey dengan tawa jahilnya.
"Emang mau ngapain?"
"Ngga tahu." jawab Ara yang terus mundur menghindarinya
"Ra, jangan mundur terus, nanti_..."
Buuggghhh!
__ADS_1
"Kan, jatuh..." ucap Breyhan ketika ara jatuh dari ranjang. Brey seger berdiri dan menolongnya saat itu membopongnya untuk naik lagi keranjang mereka.
"Udah dibilangin jangan mundur," omel brey pada sang istri.
"Ya, gmana? Namanya juga refleks. Kakak sih, kerjain ara terus."
"Mana lihat, ada yang luka ngga? Aku obatin dulu pake salep," pinta Brey padanya.
Ara menggelengkan kepala. Ia masih amat malu memperlihatkan bagian tubuh yang lain padanya. Mungkin hanya butuh sedikit waktu.
"Buka, Ara..." pinta brey dengan nada lembutnya.
"Ngga mau, malu. Nanti ada yang lihat,"
"Ngga papa. Cuma aku disini, ngga ada yang lain. Buka deh, biar tahu ada memar apa engga. Ayo, sayang..." bujuk breyhan padanya. Apalagi jatuhnya cukup keras barusan, hingga brey takut ada cidera dipunggung istrinya.
Brey kali ini sedikit memaksa. Ia meraih baju tidur yang ara pakai dan sedikit membuka bagian bawahnya.
" Kak, jangan... Ara malu, "
" Sedikit aja, cuma mau_..."
__ADS_1
"Kakaaaakkk... Araaaaa! Kok ngga sabaran. Ila bilangin mami loh," ancam Ila yang mendadak masuk kesana, yang bahkan breyhan tak dengar ketika ia membuka pintu kamarnya..
"Hah?" ucap ara dan brey bersamaan dengan mulut ternganga.