
Ara menatap mereka berdua. Sedikit tajam, tapi ia tak mengepalkan tangan meski ingin. Ia hanya menghela napas panjang, lalu kembali duduk menghadap laptop dengan tugas yang baru diberikan oleh seniornya disana.
"Bu Aya, maaf." tegur brey yang mundur selangkah darinya.
"Oh, maaf... Saya hanya refleks, karena sedikit aneh menatap dasi yang kurang rapi." Aya lalu menurunkan tangannya kembali.
Breyhan mengulurkan tangannya agar aya pergi terlebih dulu didepan dan ia mengikutinya dari belakang. Saat itu tatatapn breyhan langsung terfokus pada ara yang tengah fokus disana.
" Kau tak melihatnya?" tanya brey dalam hati, ketika takut jika ara cemburu dan salah paham dengan sikap yang diberikan aya padanya.
Atau, cemburu dan marah itu akan ara lampiaskan dirumah. Ketika mereka berdua dan bahkan ara akan menjauhinya, atau mereka tidur terpisah nanti malam. Brey langsung sesak membayangkan semuanya, dan ia kembali melonggarkan dasi yang baru dirapikan oleh aya.
Aya dan breyhan berangkat dengan mobil masing-masing karena aya akan ke Rumah sakit setelah menilik proyek keduanya. Setibanya di proyek, mereka fokus pada pekerjaan yang memang sudah hampir rampung dan siap diresmikan mungkin hanya tinggal beberapa minggu lagi jika tak molor dari jadwal seharusnya.
"Bu Aya?"
"Ya, Pak breyhan... Ada apa?" Respon yang diberikan aya begitu manis padanya. Tapi, Brey sama sekali tak mau melihat itu sebagai tanda jika aya menyukainya.
"Apa arti prfesional?" tanya brey, dan Aya segera menundukkan kepalanya.
"Karena tadi? Maaf, saya spontan karena_"
"Istriku disana, dan kita sudah membicarakannya."
__ADS_1
"Maaf," ucap Aya. Dan wajah yang tadinya ceria kini murung seketika karenanya.
Breyhan begitu profesional hingga tak menegurnya langsung seperti ini didepan karyawannya. Ia masih menghargai aya, tapi menyingkir karena ara disana. Ia kemudian diam menatap kesenduan wajah aya tapi juga tak berusaha untuk menghiburnya. Hingga aya pamit sendiri, karena sudah jadwal besuk untuk ayahnya..
Sepanjang jalan aya merenungi kepedihan hatinya. Ia seperti akan menyerah sebelum bertindak, dan terusir bahkan sebelum ia bisa masuk. Air mata tak terasa mengalir, tapi ia juga tak bisa pergi menjauh kabur dari brey dan dunia mereka.
"Aku harus tetap. Aki harus terus menetap dengan rasa sakit yang akan terus aku lihat," tangis aya dalam hatinya.
*.
"Ra, makan siang yuk," ajak sherena padanya. "Ayolah, kok lemes? Kepikiran yang tadi?" bujuk she ketika melihat ara diam tak menjawabnya.
"Cemburu itu, begini ya? Rasanya kesel, bikin males ngapa-ngapain." Ara terus saja menidurkan kepalanya diatas meja kerja.
"Udah, kak brey juga ngga respon dia."
Kadang rasa ingin menjadi seperti aya, tapi ia juga belum siap. Apalagi jika itu semua hanya dilandasi oleh rasa tak ingin kalah dan hanya demi saling rebut perhatian breyhan.
" Ara istrinya. Kenapa justru ara yang insecure pada diri sendiri. Kalau ara belum puas, ara bisa bicarain baik-baik sama kakak nanti,"
Ucapan sherena membuat ara menghela napas panjang. Ia sedikit lega, tapi tetap saja sesak dada sebelum bisa bicara dengan suaminya. Seperti, masih ada yang begitu mengganjal jika tak segera dilepaskan.
" Kalau nakal lagi, tinggal aja biar tidur sendiri." Bisik she pada kakak iparnya itu.
__ADS_1
Ara memanyunkan bibirnya, untung saja brey menelpon untuk mempertanyakan kabar ara saat itu juga. Yang tanpa ara sadari, Empat panggilan tak terjawab di ponselnya dari sang suami.
"Ya, Kak?"
"Hey, Sayang... Sedang apa? Sudah makan siang?" tanya brey dengan nada yang terdengar penuh cinta untuk istrinya.
"Ara lagi ngambek, Kak!" pekik sherena menyahut obrolan mereka.
Saat itu ara segera membulatkan mata, dan langsung menutup mulut ara dengan telapak tangannya. "En-engga... She bohong, ara ngga gitu," kilah ara pada suaminya.
"Maaf,"
"Hah? Iya, maaf untuk?"
"Sudah membuatmu cemburu hari ini."
"Eng-engga... Eh, iya sih ara cemburu. Tapi dikit, soalnya_"
"Aku suka," potong brey padqa ucapan istrinya.
"Hah? Kok gitu?" Ara justru tersipu mendengarnya. Wajahnya langsung merah, menggigit bibir bawahnya dan tampak salah tingkah..
"Karena jika kau cemburu, tandanya kau mencintaiku..."
__ADS_1
"Iiiih... Kakaaaak!" rengek manja ara padanya. Yang tanpa sadar, saat itu sherena menjadi pelampiasan dari semua yang ia lakukan tanpa sadar.
"Aawwhhh! Araaa!" pekik sherena, ketika ara memelintir jarinya dengan kuat karena begitu gemas pada suaminya.