Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 24


__ADS_3

"Hah?" Ila langsung menyipitkan mata dan mengerenyitkan dahinya. Ia diam, tubuhnya membatu mencerna semua ucapan Ara padanya hingga ara benar-benar menghilang dari pandangan mata.


"Ila, ara mana?" tanya She yang telat datang karena menghadap dosennya terlebih dulu.


Ila hanya menunjuk gerbang, pertanda Ara sudah pergi dan meninggalkan mereka. Dan Ila mengatakan ucapan terakhir ara padanya, "Maksudnya apa?"


"Entah, ngga tahu. Balik ngga? Yuk, aku anter," tawar She padanya. Menarik tangan Ila dan masuk kedalam mobil untuk melakukan perjalanan pulang bersama.


Sementara itu Ara dirumah mencoba menghubungi mamanya, Ia memberitahu semua rencananya untuk menikah dengan Brey. Karena sejujurnya Ara bahkan belum mendiskusikan itu dengan mama dan papanya, Ia justru bicara pada Breyhan terlebih dahulu dibanding mereka.


Sontak mama amat terkejut dengan pernyataan Ara. Ia takut jika putrinya terpaksa melakukan itu karena tak enak hati dengan bantuan mereka yang begitu besar pada keluarganya.


" Kenapa mendadak, Sayang? Ara kenapa?"

__ADS_1


"Ngga papa, Ma. Ara... Ara mau nikah sama Kak Brey, karena dia suka ara sejak lama."


"Mama akan balikin uang bantuan mareka kalau_..."


"Ma... Engga. Mereka ngga ada maksa ara, ara sendiri yang mau."


"Tapi Mama ngga mau kalau kamu nikah karena terpaksa. Mama ngga rela," tukas mama dengan suara seraknya. Ara tahu jika mama tengah menahan tangis disana karenanya.


Ara juga tak segan menceritakan perlakuan brey padanya yang begitu perhatian. Bahkan tentang Mami yang sejak awal merestui hubungan mereka.


"Jika Ara yakin, Mama akan restui semuanya. Ara ngga boleh terpaksa, Ara itu anak kesayangan Mama dan satu-satunya. Mama ngga mau_..."


"Apakah ara akan menderita dengan kebaikan mereka?" Ara memotong ucapan mamanya.

__ADS_1


Apalagi ara masih sangat muda, selama ini amat dimanja oleh kedua orang tuanya. Mama ragu jika ara akan bisa menjadi istri yang baik, apalagi masih harus fokus pada kuliahnya.


" Ara akan diskusiin itu sama Kak Brey nanti. Mama tenang aja," jawab Ara dengan segala rasa yakinnya.


Mama hanya bisa memberi doa. Mama begitu jauh disana hingga tak bisa banyak melakukan apa-apa, terlebih lagi dengan usaha yang baru saja dirintis itu perlu fokua darinya. Atau bahkan mungkin jika mereka menikah mendadak, Mama dan Papa ara tak akan bisa hadir dalam moment itu untuk menikahkan putri tercintanya.


Ara hanya bisa diam, Ia sudah memutuskan dan semuanya tak akan bisa lagi ditarik. Ia harus siap, meski dengan beberapa syarat yang akan ia ajukan pada brey setelah ini. Brey pasti akan mengerti dengannya, karena Brey tak pernah mau memaksa apapun berhubungan dengannya.


"Ngga papalah, terpaksa dikit. Ambil sisi positifnya dari semua yang ada. Kak brey ganteng, kaya, mempesona, berwibawa. Aaaaah... Bentar lagi jadi istri beneran,"


Ara membaringkan tubuhnya. Seketika membayangkan pernikahan mereka terdahulu. Ia tersenyum, ketika bahkan Ia menangis dengan ledekan mereka semua. Apakah kali ini akan menangis lagi, karena semua akan menjadi kenyataan.


" Aaaaaaa.... Ini kenapa pikirannya begini? Jadi menerawang kemana-mana?" Ara menepuki pipinya berkali-kali.

__ADS_1


__ADS_2