Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 13


__ADS_3

"Ra, itu tadi apa?" tanya Ila yang penasaran. Apalagi setelah itu Ara langsung berjalan secepat kilat menarik ila bersamanya. Ia terus diam sepanjang jalan hingga masuk kekelas mereka.


"Ra? Aku nanya,"


"Udah ih, Ila. Anggep aja ngga lihat apa-apa," gemas ara pada sahabatnya itu.


"Ya ngga bisa, yang kamu kasih kan kakakku."


"Aku ngga akan racunin kok. Aku udah berusaha membuatnya sebaik mungkin, bangun pagi dan masak. Ooopppsss!" Ara langsung membungkam mulutnya sendiri karena kelepasan.


Ila langsung memberikan lirikannya, tersenyum dengan penuh rasa bahagia setelah mencerna semua ucapan yang keluar dari bibir Ara.


Ara langsung mengatupkan bibirnya. Salah tingkah, lalu berusaha membuang muka dari ila dan mengalihkannya keluar jendela. Sementara Ila tak juga selesai untuk meledeknya, bahkan bisa jadi seharian ini ia akan jadi santapan utama dari sahabatnya itu.


"Dimulai dari sarapan yang berkesan,"

__ADS_1


"Arsyla! Udaaaaah," Wajah Ara merah merona dibuatnya.


*


Breyhan masuk ke loby kantor sendirian, tersenyum menegangi wadah bekal yang diberikan oleh Ara untuknya. Atau mungkin, ia akan membuat lemari kaca khusus untuknya menaruh semua benda yang diberikan ara untuknya sebagai koleksi berharga. Bahkan mungkin lebih berharga dari koleksi jam mahal yang ada dikamarnya.


"Pagi, Pak." sapa Intan salah seorang sekretaris di kantornya.


"Pagi Intan," jawabnya. Tapi modenya berbeda, tak seperti ketika ia memeluk wadah bekal itu dengan senyumnya.


"Nasi goreng?" takjub Brey melihatnya. Bahkan Ila bilang ara belum bisa memasak, tapi ia justru membuat nasi goreng spesial untuknya pagi ini dengan telor ceplok setengah matang diatasnya.


Brey tak dapat membayangkan, betapa keras usaha Ara untuk membuatkan itu untuknya.


"Dan benar, Dia sudah berusaha." ucap Brey, dengan wajah sedikit aneh ketika mulai menikmati hidangan didepan matanya.

__ADS_1


"Hay Brey! Tumben sarapan dikantor?" sapa Sean yang muncul dan langsung duduk didepan matanya.


Brey segera menyambutnya dengan senyum, dan begitu bangganya ketika ia bercerita jika mendapat bekal dari ara khusus untuknya. Ia memuji gadis itu didepan mata sepupunya saat ini,"Kau mau cicip?" tawar Brey padanya.


Sean hanya menatapnya dan sedikit menyipitkan mata penuh curiga. Ia menyendok nasi goreng itu dan menyuapkan ke bibirnya dengan sedikit ragu. Perlahan, tapi pasti masuk ke dalam mulutnya.


"Astaga... Pantas saja kau membiarkanku menyantapnya," Hela napas Sean begitu dalam dan panjang.Karena Sean tahu, jika begitu spesial dan nikmat maka brey tak akan membiarkan Ia menyentuhnya sama sekali.


Breyhan hanya tertawa renyah melihat ekspresi sepupunya itu. Tapi ia berusaha terus menyantap makanan yang ada didepan matanya saat ini. Biar bagaimanapun, Ara sudah berusaha membuatnya. Dan seketika itu ia merindukan masakan Ila untuknya.


"Kau tak apa? Kau terlihat tertekan." tanya Sean. Ia lantas meminta intan membuatkan segelas teh hangat untuk sepupunya itu.


Apalagi wajah Brey sepertinya tak bisa menghabiskan semuanya. Porsi yang dibuat Ara porsi kuli, mungkin ara teringat masa kecil yang memang Brey doyan makan dan sedikit berisi kala itu. Ia tak tahu, jima Brey bahkan sempat menjalani diet dan olahrga keras untuk mencapai bentuk tubuh yang proporsional seperti ini.


Akhirnya sarapan itu selesai. Brey bernapas lega sembari menutup wadah itu dan menaruhnya dipinggir meja. Ia bersandar sejenak dikursi besar sembari mengelus perutnya. Saat itu juga Sean menghela napas lega, karena tak terjadi apa-apa dengan sepupunya.

__ADS_1


__ADS_2