Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 15


__ADS_3

Ara  menyeret Ila segera keluar dari kampus mereka dan menuju motornya diparkiran. Ila merebut kunci motor itu karena takut Ara akan cemas dan berbahaya dijalan raya nanti.


"Daripada kenapa-napa, malah makin ribet,"


"Iya, maaf," balas Ara menundukkan kepala.


Ila menyetir motor itu kembali dengan cepat, tapi berusaha tak tergesa-gesa dan tetap mengikuti segala rambu dan peraturan lalu lintas yang ada. Justru Ara yang tampak gelisah disana dan meminta Ila meyetir secepatnya. Hingga keduanya tiba ditempat tujuan, dan Ara seakan tak sabar untuk segera bertemu dengan Breyhan diruangannya.


"Tunggu, Ara..." tarik Ila padanya.


Brey tengah berbaring di brankarnya. IA istirahat dan sejenak memejamkan mata usai semua proses pengobatan yang ada untuknya, bahkan Ia di rontgen demi melihat seberapa parah cidera yang ada. Untung tak terjadi apa-apa, hanya benturan dan membuat memar dipunggungnya dan hanya perlu diberi pereda nyeri dan salep untuk menghilangkan memar itu dengan cepat.


Breyhan bahkan tak dibawa keruangan rawat dan hanya menetap diruangan observasi untuk beberapa saat. Setelah semua mendingan, Ia bahkan sudah boleh pulang. Infuspun tak terpasang karena memang tak ada apapun yang harus terlalu dikhawatirkan.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Sean yang datang menghampiri usai mengurus semua administrasi yang ada.


"Aku baik-baik saja, kenapa kau sampai bawa aku kesini. Bahaya jika Mami dan Papi sampai cemas nanti," gerutu Brey, karena memang Mami begitu protektif akan dirinya setelah sempat mengalami cidera.


"Aku belum memberi kabar Papi Mami, tapi_..."


Braaakk!! Ila dan Ara masuk bersamaan kedalam. Wajah Ila tampak amat khawatir, tapi rupanya Ara sudah begitu cemas hingga berlari menghampiri dan memeriksa seluruh tubuh Brey saat itu. Kepala, wajah, dan semua yang tampak Ara periksa dengan baik disana.


"Kak Brey... Kakak kenapa? Apa mual, muntah, pusing? Ara minta maaf kalau ara salah masak. Ara cuma lihat konten di youtube dan bangun subuh supaya bisa masak buat kak Brey. Maafin ara jika salah masukin bumbu atau apapun yang buat Kak Brey sakit. Maafin Ara,"


"Kau tahu, sekarang dadaku rasanya amat sesak. Mungkin efek nasi goreng tadi pagi," ucap Brey, meraih tangan Ara lalu membawanya menyentuh dada.


"Mananya yang sesak? Kalau diginiin gimana?" tanya Ara. Ia kemudian beberapa kali mengusap dada bidang Breyhan dan bahkan meniupnya, bahkan sama sekali tak ada luka disana.

__ADS_1


Kedua anak manusia yang ada disana mencebik kesal melihat tingkah laku keduanya. Jika jahat rasanya ingin segera memisahkan mereka berdua dan jujur dengan segala keadaan yang ada, jika Brey bukan keracunan tapi terjatuh diproyek dan nyaris terluka.


"Mereka nyebelin," kesar ara.


"Ya, mereka menyebalkan. Lebih baik kita keluar, daripada kita semakin kesal melihatnya." ajak brey pada Ila. Keduanya keluar bersama lalu meninggalkan mereka dengan segala ke uwuan yang ada.


"Ya, disitu terus. Ini rasanya nyaman sekali, membuat debaran jantung yang tadinya lemah terpacu dengan cukup kuat." ucap Beryah  dengan dada yang bergetar kuat akibat sentuhan manja yang diberikan ara padanya.


Ara duduk didekatnya saat ini, dan terus melakukan hal yang sama beberapa kali. Apalagi Brey sama sekali tak mengizinkan tangan mungil ara beralih dari dadanya.


"Terpacu jantung? Memang kalau keracunan bisa sampai ke jantung? Kalau langsung, Kak brey udah meninggal dong?"


Mendengar ucapan itu Ara seketika mengangkat kepala. Ia langsung melotot pada breyhan yang justru menatapnya penuh tawa dan terlihat begitu ceria tak seperti orang keracunan pada umumnya.

__ADS_1


"Keracunan yang ini beda, Ara. Ini namanya keracunan cinta," jawab Breyhan padanya.


"Iiih... Kak Breyhan kerjain Ara!! Keseel!!!" Tangan mungil itu kembali meraih dada breyh


__ADS_2