Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 8


__ADS_3

Brey kemudian memberikan nomor hpnya pada gadis itu. Mereka terlibat bisnis, hingga tak mungkin ada sesuatu yang merugikan. Aya dengan senang hati menyalin nomir itu dihpnya.


Hingga Sean menyadari jika waktu rapat telah tiba, dan Ia segers mengajak keduanya berangkat bersama menuju Resto tempat mereka membuat janji karena ada beberapa kolega lain yang akan ikut dalam rapat itu.


Ketiganya berjalan bersama, Brey berusaha ramah dengan gadis itu dan membuatnya nyaman saat ini. Bukan perkara perasaan, karena Brey memang amat konsisten dengan segala pekerjaan yang ada. Entah, jika Aya yang justru baper dengan sikap lembur Brey padanya meski dingin dan tegasnya masih amat terasa disana.


Aya diminta naik mobil bersama kedua pria itu. Karena aya berhijab dan mereka menghargainya, maka Brey dan Sean duduk bersama didepan sementara Aya dibelakang.


"Saya jadi ngga enak," ucap Aya sungkan.


"Tak apa, Bu Aya. Ini adalah bentuk penghargaan kami terhadap hijab yang anda pakai," ujar Sean padanya.


Aya lantas tertunduk dan tersipu malu dengan semua penghargaan yang diberikan. Ia kemudian duduk tenang dibelakang mendengar obrolan mereka berdua, dan sesekali menyambung jika ia mengetahuinya.


Saat ketiganya tiba, bahkan Brey membukakan pintu untuk gadis manis berlesung pipit itu. Semakin tersipulah Aya dengan tindakan simple namun menyentuh hati dari breyhan untuknya. Ia tak percaya, jika pria setampan dan seperhatian itu belum juga memiliki kekasih, bahkan Calon istri.


"Terimakasih," ucap Aya pada keduanya agar tak terkesan ia lebih memperhatikan breyhan.

__ADS_1


Brey hanya tersenyum datar, justry seanlah yang membalas ucapan itu padanya. Breyhan memang reflek membukakan pintu ketika ada gadis didekatnya, itu semua ajaran Mami dan Ia selalu begitu jika dengan maminya.


Brey berjalan lebih dulu didepan sembari merapikan jas dan dasinya, sementara Sean mengekor dibelakang dengan Aya sembari membahas apa saja inti dari pertemuan mereka nanti disana.


"Selamat siang, Tuan jack." sapa Brey yang mengulurkan tangan hingga mereka berjabatan. Aya pun demikian, Ia datang dan menatap ramah pada koleganya itu.


"Tak apa bersalaman?" tanya Brey.


"Tak apa," jawab singkat Aya padanya, lalu duduk bersama untuk mulai membahas segala proyek yang ada.


*


"Aku makan pizza sisa semalam, La. Sayang kalau ngfa habis. Mama sama Papa belum ada kirim uang buat minggu ini, jadi aku harus hemat." jawabnya jujur.


Ila langsung tak tega mendengarnya, "Pizza ngga enak kalau udah semalem. Kenapa ngga bilang daritadi?"


"Aku ngga papa, ini cuma karena belum terbiasa aja. Nanti lama-lama terbiasa kok," kilah Ara. Ia tak enak jika nanti Ila kan mentraktirnya lagi seperti biasa, Ia hanya terbiasa hidup serba ada hingga baginya moment ini hanya tahap kaget saja.

__ADS_1


"Kamu itu naik motor juga jarak jauh gini, pasti dingin dan kamu masuk angin. Coba semalem nginep,"


"Hah? Serumah sama kak Brey? Ngga mau, bukan mahram."


"Dibilang, mahramin aja sekalian biar enak."


"Shilaaa! Iih, masih aja bisa ngeledek." wajah pucat itu memerah. Tapi justru menjadi pink dan aneh dibuatnya.


Untung saja setelah itu She datang dan kembali menengahi, hingga ara mengalah dan mau ikut keduanya kekantin bersama untuk sarapan.


"Tapi Ila engga... Ila udah sarapan sama kek brey,"


"Bibik pulang?" tanya She.


"Belum... Ila yang masak," jawabnya dengan percaya diri. She hanya menatapnya cengo sembari menelan salivanya sendiri disana. Entah kenapa bayangannya amat buruk dengan apa yang ila ucapkan padanya.


"Jangan gitu... Kak Brey suka loh masakan Ila,"

__ADS_1


"Suka beneran apa suka terpaksa, La?" tanya Ara, dan itu sontak membuatnya dan She tertawa terbahak-bahak disana.


Apalagi Ara, yang sepetinya amat puas ketika bisa membalas ledekan Ila padanya meski amat sangat langka.


__ADS_2