Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 19


__ADS_3

Ara masih tersedu malu di dalam kamarnya. Brey membujuknya keluar, tapi ara tetap tak mau dan masih bersembunyi didalam selimutnya.


Brey tak ingin yang lain curiga dengan semuanya. Ia keluar dan duduk didepan pintu menunggu Ila dan Sean datang bersama. Meski. Brey amat menginginkan Ara, tapi bukan dengan terpaksa ataupun harus menghalalkan berbagai cara.


Pria tampan itu duduk disana, diam meski menjadi pusat perhatian beberapa anak kost yang juga ada disekitanya. Mereka menatap kagum ketampanan Breyhan dan bahkan tak segan menyapanya.


"Kakak kok diluar? Masuk ke tempat aku aja yuk, kalau Ara ngga ada." tawar salah seorang diantara mereka.


"Ara ada didalam, tak enak jika saya terlalu lama."


"Kakak siapanya?" tanya gadis itu, yang tak hentinya membatin mengagumi ketampanan pemuda didepan mata. Apalagi dengan penampilan yang mendukung, tampak matang dari segi usia dan mapan.


"Calon suaminya," jawab Brey dengan santai. Mereka semua hanya bisa meneguk saliva dengan rasa kecewa, bahkan beberapa segera pergi agar tak semakin berharap padanya.

__ADS_1


"Kirain Kakaknya," jawab gadis tadi yang masih bertahan disana. Hanya berusaha ramah, dan tak membiarkan pria tampan nan gagah menganggur disana.


Hingga akhirnya Ila datang. Ia segera masuk untuk mengembalikan motor ara yang sudah ia isi full kembali minyaknya. Ia mengira ara sudah tidur didalam selimutnya, kemudian segera pamit tanpa banyak bicara.


Sepanjang jalan Brey hanya diam. Ia amat fokus dengan jalanan yang ada didepan dan diam. Itu membuat Ila dan Sean saling tatap dan melempar tanya satu sama lainnya.


"Jangan seperti ini lagi," ucap Brey dengan wajah datarnya. Meski ia tahu kedua adiknya itu juga berambisi mendekatkan ia dan ara, tapi Brey tak mau karena justru akan membuat canggung keduanya.


Ila dan Sean tertunduk bersamaan. Mereka hanya ingin keduanya memiliki waktu bersama untuk bercerita atau membahas apapun untuk masa depan keduanya.


"Tadi aku ajak Ila makan siang dulu, Brey." imbuh Sean, agar Ila tak merasa bersalah seorang diri disana.


Brey hanya takut Ara akan menjauhinya akibat ingat terus kejadian barusan. Ia baru saja senang, karena ara memberi perhatian untuknya meski baru sehari ini. Apalagi ketika ia mmepertanyakan hubungan Brey dan Aya, itu cukup membuatnya menaruh harapan pada hubungan mereka.

__ADS_1


Sean diturunkan di kantor untuk menjemput mobilnya, sementara Brey membawa ara untuk segera pulang bersama. Brey hanya terdiam dingin sepanjang jalan, membuat Ila semakin tak enak hati pada sang Kakak yang seperti ada pada mode lain yang ia takuti selama ini.


Masih dibawah selimutnya. Hp ara mendadak berdering di dalam tas yang masih ada dilantai depan kamar kostnya. Ara menyibakkan selimut itu, turun dan kembali berjalan mencari benda pipih itu untuk menjawab panggilannya.


"Ma?" sapa Ara pada mamanya yang menghubungi sore itu.


"Mama udah kirim uang ke kamu. Mama sekalian may kasih kabar, kalau bisnis keluarga kita mulai ada perkembangan."


Mendengar itu Ara langsung membulatkan mata. Pasalnya baru kemarin sang mama mengeluh saat tak ada kemajuan dalam usaha mereka hingga harus menunda pengiriman ara dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan.


Ara meloundspeaker panggilan itu, Ia sembari membuka layar hp untuk melihat nominal yang mama kirim padanya.


"What?!" kaget ara pada nominal yang ada. Ia sudah lama tak melihat jumlah itu masuk dalam rekeningnya, meski ketika masih kaya sejumlah itu masih kecil untuknya. "Ma, kok banyak?"

__ADS_1


"Iya, satu bulan ya sayang. Mama papa mau fokus dulu dengan segala pekerjaan yang ada. Nanti kalau sudah stabil, mama akan kirim sejumlah itu. Sama Ara setiap bulannya." ucap Sang mama.


Ara hanya membulatkan mata dengan mulutnya yang masih ternganga.


__ADS_2