
Seperti yang Brey katakan sebelumnya, jika mereka akan sampai dikampus itu bersaama. Saat ini Ara tengah memarkirkan motor dan bahkan belum sadar keberadaan breyhan dibelakangnya.
"Hay Ara," sapa Breyhan, dan itu membuat ara diam seketika mencerna suara yang terngiang dikepalanya.
"Eh... Astaghfirullah," Ara tersentak dan seketika mengelus dada. Ia memperhatikan Brey sejenak, menatapnya beberapa kali dan mencolek dadanya.
"Kenapa, Ra?" tanya Ila yang bingung dengan tingkah sahabatnya itu.
"Hmmm... Aku kira aku masih terjebak dialam mimpi, tau-tau ada kak Brey disini."
"Kamu mimpiin kakakku? Hhhh!" Ila dengan lebay nya menutup mulut. Entah Ara yang terlalu jujur atau begitu polos untuk menceritakan semua itu padanya, tapi disatu sisi ia bahagia.
"Enggga... Bukan begitu, tapi_..."
"Its okey, Ara. Memang aku terkadang menjadi mimpi dari setiap gadis untuk menjadi suaminya," balas Breyhan dengan segala rasa percaya diri yang ada.
__ADS_1
Ila langsung menyipitkan mata, rasanya ingin meraup wajah sang Kakak dengan segala kenarsisan yang ada dalam dirinya meski itu semua benar adanya. Tapi Ia kesal jika narsis itu terlalu berlebiha dan membuatnya mual ketika mendengarnya.
Sementara itu ara justru bengong melihat tingkah brey yang seperti itu. Ia hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, dan Ila segera menggandeng tanganya untuk masuk kedalam kelas mereka bersama.
"Udah sana ih, berangkat ke kantor. Udah siang nih," Ila meraih tangan sang kakak untuk ia kecup punggungnya.
Brey menatap ara sejenak, tapi ara justru terdiam dan gugup menatapnya balik. Ia menundukkan kepala dan segera ikut Ila pergi dari kakaknya. Brey hanya mengulurkan senyum dan masuk kedalam mobil, ia harus segera kembali kekantor dengan segala pekerjaan yang menunggunya.
"She belum dateng?" tanya Illa yang mencari sepupunya itu.
Ila membalik badan, lalu memegangi bahu Ara dan menatapnya dengan tajam." Kalau She sama aku, aku bakalan nanya ngga? "
Seketika itu juga ara menggelengkan kepalanya. Ila menundukkan kepala, lalu menepuk bahu ara beberpa kali. Dan ia menuntun ara kembali masuk kekelas mereka, karena dari tadi belum juga sampai disana.
Breyhan telah sampai dikantor, semua pegawai menundukkan kepala untuk menyambutnya. Ia dikenal pendiam, dan berbicara hanya seperlunya terutama pada karyawan disana. Ia telah ditunggu Sean diruangan, pemuda itu tengah duduk memangku laptop dengan segala jadwal dan laporan yang ada untuk kakak sepupunya itu.
__ADS_1
"Apakah sibuk hari ini?" tanya Brey padanya.
"Cukup sibuk, dengan tiga pertemuan dan kita harus mendatangi tempat dimana proyek baru kita dibangun."
"Baik, apa yang harus ku mulai saat ini?" tanya Brey, dan Sean hanya menunjuk semua dokumen diatas meja itu dengan bibirnya.
"kau seperti tak punya tangan. Tak sopan," sindir Brey padanya. Seketika itu juga Sean langsung berdiri dan medekat pada sang kakak, bahkan ia membantu membuka dokumennya satu persatu untuk dibaca bersama.
Fokus mereka terganggu sejenak rupanya. Ada seorang pengusaha cantik yang datang dan masuk menghampiri mereka. Namanya Aya, Soraya wicaksana panjangnya. Gadis cantik berhijab itu amat anggun dengan busana yang terutup dan elegan, begitu sejuk dipandang mata.
"Permisi, apakah Pak Brey sedang sibuk?" tanya aya dengan begitu sopan dan lembut.
"Tidak juga, Bu aya. Ada apa?." jawab Breyhan langsung padanya.
Aya hanya tersenyum. Ia datang kesana untuk mewakili ayahnya dalam pertemuan hari ini, tapi ia lupa pertemuan itu dimana.
__ADS_1
"Saya tak punya nomor Bapak. Jadi, saya langsung saja datang kemari. Tak apa kan?" tanyanya tak enak hati. Gadis itu memang pemalu, apalagi dihadapan pria sebayanya. Tapi, ia amat tegas dimata para anak buahnya.