Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 49


__ADS_3

Breyhan tertawa sembari menggelengkan kepala. Padahal ia tak berkata apa-apa, namun ara seolah selalu menawarkan diri padanya.


Sesuai niat breyhan, ia mengambil laptop diruang kerja lalu kembali pada istrinya. Duduk bersandar disana meneruskan pekerjan, sembari sesekali mengusap bahu atau rambut sang istri yang tidur lelap disampingnya.


Ara nyaman, dan ia benar-benar tenang disisi brey yang selalu bisa memberikan perhatian ditengah segala kesibukan yang ada. Ia yang dulu sempat takut pada brey, bahkan menyesal telah meminta pisah ranjang sebelumnya hanya karena ego semata.


Hingga akhirnya malam berganti pagi, tapi saat itu ara tak menemukan breyhan diranjang mereka berdua. Ia meraih belezer dari gaun tidurnya dan mengikat rambut sembari berjalan menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan keduanya.


Berjalan sedikit sulit, rupanya sesakit itu bagi ara yang memang baru pertama. Brey juga, tapi pasti ia tak merasakan sakit seperti yang ara alami saat ini.


"Hey, sayang... Sudah bangun?" sapa brey ketika ara mendekat padanya..


"Kok kakak masak?" tanya ara yang melihat brey telah mengenakan celemek ditubuhnya.


"Kakak fikir masoh sakit, jadi kakak gantiin buat masak. Gimana?" Brey balik bertanya pada istrinya.


Saat itu brey tengah memasak omelete dengan bahan seadanya. Ia tahu, jika sudah waktunya mereka belanja berdua untuk keperluan bulanan mereka. Yang tersisa memang hanya bawaan mami beberapa hari lalu.

__ADS_1


Mendadak ara memeluk tubuh brey dari belakang. Brey yang kaget, berusaha meraih kepala ara lalu mengecupnya dengan mesra, "Kenapa?" tanya brey padanya.


"Makasih udah jadi suami yang pengertian buat ara. Padahal ara kayak bocil,"


"Bocil? Bocilnya gemesin. Bikin nagih," goda breyhan, yang seketika membuat ara memukul bahunya. Ara masih saja malu mengingat kejadian semalam, apalagi breyhan berkata seperti itu seolah ia memang tak mau berhenti melakukan itu padanya.


Siapa yang mau berhenti. Apalagi brey mungkin akan semakin gencar untuk memproduksi kecebongnya didalam rahim ara yang sudah tebuka untuknya.


Kompor brey matikan, ia meraih ara dan ia dudukan diatas meja kompor mereka. Keduanya kini sejajar, hingga brey tak perlu menunduk lagi untuk meraih bibir ranum yang bebas ia nikmati kapan saja.


Tapi brey tak perduli, dan ia membuka tangan ara yang menutup bibir itu dengan perlahan kemudian mengecupnya kembali.


Ting... Tuuuuungg! Suara bel kembali berbunyi. Siapa lagi kalau bukan ila si bungsu tercinta. Sepertinya pasangan pengantin baru itu begitu sulit mencari kemesraan dipagi hari. Padahal menurut ara itu mesra, tapi tapi apa boleh buat karena itu belum jadi nasibnya.


"Pasti Ila," ucap kesal brey menyebutkan nama adiknya.


"Hussst... Ngga boleh gitu. Mandi sana, udah hampir siang. Hari ini ara siapin keperluan buat besok, jadi libur ngampus dan mau belanja."

__ADS_1


"Hmmmm," balas breyhan seadanya. Ia pun segera berjalan menuju kamar dengan wajah lesu, dan ara membukakan pintu untuk sang adik ipar tercinta.


Tak hanya ila, tapo sherena juga ikut datang untuk bebelanja bersama persiapan magang mereka.


"Kok lama? Ara kok belum mandi?"


"Ilaaa," tegur sherena padanya. Yang lantas menarik tangan ila untuk masuk ke dalam dan duduk diatas sofa.


"Ara kenapa? Sakit? Kok pucet?" tanya Ila lagi dengan segala penampakan didepan matanya.


Sepertinya, yang tak tahu menahu tentang kondisi pengantin baru hanya ila saja. Entah polos, atau memang tak mengerti sama sekali akan mereka.


"Ila, iiih... Biarin deh, ara gitu. Biar cepet dapet ponakan kitanya,".


"Emang kalau mau dapet ponakan, ara harus sakit dulu?"


"Ilaaaa! Astaghfirullah!" geram sherena menahan segala rasa emosi yang ada.

__ADS_1


__ADS_2