Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 54


__ADS_3

Mobil saat ini telah berhenti dan terparkir lantai dasar apartemen. Brey baru saja pulang usai lemburnya malam ini, dan tentunya tak sabar untuk mendapatkan kecup hangat sang istri. Ia menaiki lift, sembari menggenggam buket mawar cantik yang baru saja ia beli.


Ting! Lift berhenti tepat di lantai yang ia tinggali.


Hari memang sudah cukup larut saat ini, dan untunga brey memabawa kunci cadangan agar tak perlu membangungkan istri untuk membuka pintu. Ia hanya akan membangungkan ketika memberi kejutan untuk bunga yang ada ditangannya.


Dan benar saja, saat itu ara telah tidur pulas tapi diatas sofa besar apartemen keduanya. Ia sepertinya memang menunggu sejak tadi, karena tv masih menyala dan justru menonton ara saat ini.


Brey menaikkan sedikit celana bahan yang ia pakai, kemudian berjongkok didepan ara yang tidur bergitu lelapnya. Tapi, seolah ara sudah paham hanya dengan bau parfum maskulin suaminya, ia lantas membuka mata. "Sudah pulang?" sapa ara melengkungkan senyum indahnya.


"Maaf, telat... Tadi_"


"Ita, tahu... Kania kasih jadwal kakak hari ini kok," potong ara pada ucapan suaminya.


Brey segera memberi bunga itu pada ara, dan mendapat hadiah kecupan manis dari sang istri di bibirnya. Hanya itu, karena ara memberi kode jika brey harus libur setidaknya seminggu ini untuk mendapat jatah malam dari sang istri.


"Kenapa mendadak?"


"Ngga mendadak, memang udah tanggalnya."

__ADS_1


"Tapi... Tapi... Aaaah!" Breyhan menjambaki rambutnya sendiri saat itu. Duduk dilantai menekuk kaki bersandar dimeja yang ada dibelakangnya. Benar-benar seperti orang yang tengah frustasi saat ini, padahal hanya satu minggu meliburkan diri.


"Kan ngga lama. Katanya sepuluh tahun lebih menunggu aja bisa," celoteh ara pada suaminya.


"Tapi ini beda, Ara."


"Beda apanya? Yaudah, mandi dulu yuk... Ara siapin makan malamnya, jan ngambek." Ara segera berdiri menuju dapur dan menghangatkan makanan untuk suaminya. Ia juga meraih sebuah wadah untuk pot bunga indahnya agar ia bisa menatapnya setiap saat.


Breyhan dengan malasnya berdiri, dan ia segera berjalan menuju kamar untuk mandi.


Saat menemani brey makan malam, ara menceritakan kegiatan hari ini dibelakang suaminya. Bahkan menceritakan beberapa karyawan senior yang begitu ramah padanya. Bahkan ada yang memberi kado ucapan selamat datang pada dua anak magang yang ada disana.


"Boneka kecil. Gantungan tas," tunjuk ara pada tas yang ada dimeja. Tapi gantungan belum ia pasang karena ara bukan gadis yang ribet dengab accesoris dalam dirinya. Itu hanya akan dia taruh sebagai pajangan dikamarnya nanti.


"She juga dapet," imbuh ara pada suaminya.


Brey menganggapnya biasa tanpa rasa curiga. Ia hanya meminta agar ara menjaga diri ketika ia atau yang lain tak ada, karena mereka tak akan bisa menjaga ara full selama bekerja.


"Tapi kalau ada yang deketin ara gimana? Seperti bu aya deketin suami ara, misal." Ara membuat brey seketika memicingkan matanya. Tatapannya begitu tajam dengan aura yang mengerikan.

__ADS_1


"Araaa,"


"Iya, ara serius. Kalau ada yang deketin ara gimana?" Ara justru tersenyum melihat ekspresi kesal sang suami. Ia tertawa, tapi terus menggoda menceritakan beberapa pria yang sering menyapanya. Bahkan sengaja duduk didekat ara ketika makan siang tiba.


"Ngajak ke kantin, bahkan nanya tempat tinggal. Kalau ibarat jomblo, dia mau ngapel ara mungkin ya?" tawanya kian menggema, Brey memanyunkan bibir menatapnya nelangsa.


"Ucuk ucukkk... Suaminya ara cemburu rupanya. Gini kalau cemburu? Lucu sih," goda ara memainkan jari di pipi kaku sang suami.


"Lucu? Lucu menurut ara? Suamimu sedang kesal, Tiara Artamevia. Bisa-bisanya... Iiisss!" geram breyhan. Ia bahkan mengepalkan tangan begitu ingin meraup wajah sang istri. Tapi ia memilih diam dan menarik napas, karena ia takut justru hal lain yang terpancing dan ia tak bisa menahannya.


Cup... Satu kecupan di kening breyhan. Kecupan lain turun ke pipi dan bahkan bibirnya dengan penuh goda.


"Puas menggoda?" tanya datar breyhan padanya..


"Puas... Puas banget malahan,"


"Awas kau Araaaa!" Breyhan mengeluarkan suara baritonnya. Saat itu, ara sekejap turun dari kursi dan berlari menghindari sang suami. Tak marah, karena mereka hanya bermain-main saja seperti ketika mereka masih kecil dulu.


Ara tertawa, brey menangkap dan kemudian membopongnya ke kamar mereka. Andai saja tamu ara tak datang tiba-tiba, pasti gelora muda akan kembali memanas malam ini menciptakan dunia mereka sendiri dengan begitu indahnya.

__ADS_1


__ADS_2