Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 14


__ADS_3

"Apa jadwal hari ini?"


"Seperti biasa. Kita hanya akan ke proyek sebentar, Aya akan menunggu disana."


"Aya yang kemarin?" tanya Brey padanya. Sean mengangguk, memang mereka akan sering bertemu dengan Ayah belakangan ini karena Papa Aya tengah dirawat di Rumah sakit.


Sean menceritakan kondisi Papa aya yang terkini, dengan sakit cukup parah di ginjalnya dan harus menjaalani pengobatan rutin setiap sebulan sekali untuk cuci darah. Brey menunjukkan simpatinya, dan berencana mengajak Sean untuk menjenguknya ketika mereka senggang.


Setelah perut itu terasa ringan, Brey segera mengajak sean untuk kembali melakukan perjalanan ke proyek mereka. Sepanjang jalan sean menceritakan semua perkembangan yang ada, dan Brey mendengarnya dengan baik disana.


Wajar saja, Brey memang jarang ke proyek dan hanya menerima laporannya saja kala itu karena semua kesibukan yang ada.


Aya menyambut ketika mereka tiba disana. Dengan seragam proyeknya, Hana yang dimata brey gadis feminim itu tampak tak sungkan bermain kotor dengan bahan proyek yang ada. Memastikan jika semya bahan yang dipakai itu baik hingga bertahan kokoh hingga sekian lama.


"Kan udah biasa, Pak. Dulu Papa sering bawa ke proyek. Inget kan, kita sering main bareng?" tanya Aya, mengingatkan ketika mereka juga pernah bermain bersama di masa kecilnya.


"Oh... Maaf lupa. Maklum, sudah lama sekali rasanya." balas Brey yang menggaruki kepalanya.

__ADS_1


"Iye, ingetan Lu Ara mulu." ledek Sean yang menyenggol bahunya.


"Ara?" tanya Aya dengan sedikit memajukan kepala.


Sean menceritakan, jika Ara itu adalah teman kecil mereka juga dan sama seperti Aya yang sering bermain bersama mereka. Aya hanya mengangguk, lalu melihat ekspresi Breyhan ketika mendengar nama Ara ditelinganya.


"Sepertinya gadis yang sepesial," ucap Ara dalam hati.


Mereka melanjutkan semua pekerjaan dan pengawasan yang ada disana. Aya bahkan mengajak Brey naik ke lantai atas untuk meliahat beberapa ruangan yang sudah selesai dibangun oleh para anak buahnya.


"Katanya Papamu dirawat, betul?"


"Ah, iya Pak. Maklum, sudah tua. Jadi, kadang ada saja sakitnya dan sekarang ginjal. Papa itu pekerja keras, kadang lupa jaga kesehatan dan pola makan kalau lagi gila kerja." jawab Aya.


"Bisa kau antar kami menjenguknya?"


"Hah? Jenguk?" kaget Aya. Karena dari sekian banyak rekan, hanya Brey yang menjenguk sang ayah saat ini. Semua teman baiknya belum ada yang sempat kesana, atau bahkan mulai menghindari karena sudah tak bisa apa-apa.

__ADS_1


"Bauklah, sebentar lagi saya antar. Saya, mau bersihkan diri dulu." pamit Ara. Tapi entah karena gugup atau tersanjung, Ara justru oleh dan tersandung dengan sebuah batu yang ada didepannya.


Aya memekik kaget, lalu dengan sigap Brey meraih tangan Ara agar tak semakin jatuh dan terluka. Namun, malah mereka jatuh bersama dengan tubuh Aya tidur diatasnya.


"Aarrghhh!" pekik Breyhan yang mendapat benturan cukup keras dipundaknya.


"Pak, Bapak ngga papa? Maaf saya ceroboh," Aya segera bangkit dari tubug Breyhan dan menyingkir darinya, Hingga Sean datang dan segera menolong Sepupunya.


Benturan itu sepertinya cukup keras, wajah Breyhan pucat seketika dan lemas. Sean yang takut jika akan makin parah, segera membawa sepupunya ke Rumah sakit untuk segera diberi tindakan.


"Apa? Kak Brey dibawa ke Rumah sakit?" pekik kaget Ila mendengar laporan dari kakak sepupunya. Ia yang baru saja selesai presentasi segera merapikan meja dan akan menyusul kakaknya kesana.


"Ila, Kak Brey kenapa?"


"Kakak masuk Rumah sakit. Ayo, kita kesana bareng pakai motor aja. Itu akan lebih cepat," ajak Ila.


"Rumah sakit? A-apa Kak Brey keracunan? Kak Brey keracunan makanan dari Ara? Astaga!" Ara ketakutan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2