
Waktu untuk ara magang telah tiba. Ia bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan sarapan untuk sang suami, dan mempersiapkan semua keperluan secara bersamaan.
Ara mulai lihai mengurus semuanya, apalagi breyhan tak segan membantu meski kadang sembari menjahili sang istri ketika bekerja. Kadang mendadak mengecup pipi atau bibir ara ketika masak, mencolek pinggang ara ketika menyapu, dan bahkan mendadak brey mempbopong ara ke kamar dan mulai memanam benih kecebong.
"Ara belum boleh hamil,"
"Siapa yang larang?" tanya brey yang terus menggoda istrinya.
Apalagi ara dan ila tak satu kantor, hingga ia tak akan datang sepagi ini menjemput kakak iparnya. Hingga pagi yang indah itu dapat mereka lakukan dengan segala ketenangan yang ada.
"Nanti dikantor, ara ditanyain kalau hamil. Dari kampus juga ngga bolehin, jawab ara yang mulai kegelian dengan semua aktifitas brey di tubuhnya.
Brey tak mendengar itu semua, justru terus tenggelam dalam geliat hasrat yang membara terus mengecupi setiap jengkal tubuh istrinya. Mereka masih memiliki waktu setidaknya satu jam hingga mereka bersama pergi kekantor untuk melakukan semua tugasnya.
Ara tak pernah bisa menolak karena ia juga menikmati semua itu. Tapi, ia masih belum siap untuk hamil karena ia harus mendapatkan gelar sesuai dengan apa yang ia kejar. Ia harus lulus kuliah, dan itu salah satu kesepakatan mereka berdua.
Adegan panas dipagi hari itu begitu menggelora bagi jiwa muda yang tengah dimabuk cinta. Pagi yang dingin itu justri dipenuh peluh ditubuh keduanya, menggambarkan betapa panas permainan mereka barusan. Yang bahkan berlanjut hingga ke kamar mandi untuk membersihkan diri bersama disana.
__ADS_1
Ara mempersiapkan pakaian brey dan mendadaninya dengan rapi, hingga mengurus dirinya sendiri dengan seragam hitam putih yang cukup modis hari ini.
"Sesuai perjanjian, nanti ara transit dipersimpangan buat pergi sama she." Ara mengingatkan jarak diantara keduanya ketika sudah keluar dari appartmen.
"Ya, sayang. Aku akan berusaha menjaga diri ketika kita harus jauh meski dalam satu ruangan,"
"Please deh, lebaynya kumat. Ara kan siap diawasi kapan saja," manja ara pada suaminya ketika sarapan bersama.
Brey terus menatap kecantikan ara hari ini. Dan entah kenapa, semakin hari terasa semakin mempesona dari ujung kaki hingga ujung kepala. Atau, karena brey tak pernah puas untuk menikmati setiap jengkal tubuhnya yang selalu membuat candu kapan saja.
"Iya, sayang ...." Breyhan langsung meraih dan meneguk air putihnya hingga tandas.
Mereka keluar bersama menuju mobil, hingga benar-benar tiba dipersimpangan dan mereka berdua berpisah disana.
"Sampai ketemu dikantor, Sayang." Brey mengecup kening sang istri, lalu ia pergi dengan mobilnya sendiri. Tak enak, tapi itu perjanjian mereka sebelum menikah.
Brey masih beruntung stidaknya, karena permintaan pertama justru ara sendiri yang membatalkan karena ia sadar bagaiman seharusnya sang istri. Dan untuk yang ini, setidaknya brey masih bisa terus mengawasi.
__ADS_1
"Bro... Hari ini ara sama she pertama kali magang." Sean berbisik pada kakak sepupunya itu ketika sama-sama sampai dikantor mereka.
"Ya, kau awasi ara aku awasi sherena."
"Lah, kok gitu? Tukeran?" kaget sean. Ia baru saja pulang untuk tugasnya diluar kota bersama papi bagas saat itu, dan brey tak memberitahu apa rencana mereka sebelumnya.
"Kau tahu, bagaimana rasanya ketika dekat dengan istri tapi tak dapat menyentuhnya sama sekali?" tanya Brey dengan tatapan bulatnya.
"Hey bro, kau kan bisa menyentuhnya dengan bebas ketika dirumah. Lebay sekali," cibir sean pada kakaknya, tapi seketika mengatupkan bibir ketika diberi tatapan tajam ala brey untuknya. "Iya, maaf."
"Kau hanya tak tahu. Dan jika kau tahu, kau mungkin akan lebih lebay dariku." Breyhan keluar dari lift, dan ia mulai memasang wajah serius disana ketika semua karyawan mulai memberi hormat atas kedatangannya.
Ia masuk kedalam ruangan, hingga kemudian mendengar kania menjelaskan samua jadwak untuknya hari ini.
" Kita ada rapat dama Bu soraya sekitar Dua jam lagi, karena sebelumnya Bapak harus menyambut anak magang yang akan datang. Mereka masih bersama dosen yang melepaskan keduanya kemari,"
"Baik, persiapkan semuanya," titah brey padanya. Berusaha tenang, padahal tengah menjaga sikapnya sendiri saat ini.
__ADS_1