
Jantung berdegup kencang, akral rasanya dingin namun tubuh terasa begitu panas. Malam ini, adalah pertama kali ara dan breyhan tidur di satu kamar bahkan satu ranjang.
Ara mere mas seprai yang menutup tubuhnya itu dengan kuat, rasanya gemetaran jika membayangkan brey sebentar lagi akan masuk ke kamar itu dan tidur di sebelahnya. Tapi ia juga tak enak hati, jika meminta brey tidur disofa yang ada disana.
Pintu dibuka. Ara semakin tegang dengan mata mendelik dan helaan napas panjangnya.
"Ara mau sesuatu ngga, mumpung aku belum baring?" tanya brey padanya.
"Hah, apa? Ara mau apa?" tanyanya yang justru semakin gugup.
Brey tersenyum, ia tahu bagaimana ara saat ini. Pasti ia tengah begitu cemas dengan keberadaan keduanya di dalam satu kamar itu. Untung saj kebiasan mereka sama, yaitu harus membawa air putih ke dalam kamar dan itu sudah brey bawa ditangannya.
Brey menghampiri ara. Ia duduk didepan ara saat ini dan memegang tangannya yang dingin lalu mengecupnya dengan begitu hangat. Ia kemudian meraih sebuah bantal dan berdiri untuk membawanya pergi.
"Kakak mau kemana?" tanya Ara yang langsung memegangi ujung bajunya.
"Lah, bukanya ara yang minta kita pisah kamar dulu. Jadi kakak mau tidur di sofa supaya ara bisa tidur bebas malam ini. Kenapa?"
__ADS_1
Ara hanya mengedip-ngedipkam matanya saat itu. "Tapi... Tapi nanti kalau disana, badan kak brey sakit semua. Jadi... Disini aja ngga papa. Nanti ara batesin pakae bantal guling."
Ara kemudian menyusun panjang beberapa bantal guling yang ada dan dia menaruh ditengah. Yang berarti bantal itu ada diantara mereka berdua."Sudah... Jadi, kan?" ucap ara pada brey yang hanya tersenyum melihatnya..
"Kaalu begini, aku tak janji. Karena kau akan tetap dekat denganku,"
"Tak janji... Untuk?" Ara menelengkan kepalanya, ia mencerna apa yang brey saat itu ucapkan padanya. Namun, otak polosnya terasa belum bisa menerawang apa-apa.
"Kenapa? Ara bingung?"
"Iya, bingung. Jujur ara ngga ngerti apa-apa."
"Ya... Ya karna, ara belum siap aja." jawab polos ara untuk kesekian kalinya.
Breyhan kemudian menangkap wajah mungil itu dengan tangan besarnya. Kedua mata mereka saling bertemu, bertatap satu sama lain disana.
"Kakak?"
__ADS_1
"Diam, sebentar saja. Aku akan memberikanmu sesuatu malam ini." tatap tajam brey padanya.
Tadi siang, ia sudah berhasil mencium kening ara dengan mesra. Dan saat ini, ia harus mendapat yang lainnya. Meski sederhana, karena breyhan hanya sekali mengecup bibir ara dengan bibirnya.
Ara saat itu membulatkan matanya. Ia mentap breyhan yang saat bibir mereka bertemu. Ia menarik napasnya dengan begitu kuat, seakan akan napas itu berhenti seperti dunianya saat ini.
Ya, rasanya seperti semuanya berheti dan ia sendiri tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Bahkan ketika brey mulai menggigit bibir ara dengan bibirnya, yang bahkan ara tak tahu harus apa setelahnya. Mendorong brey dari dekatnya saja, ia seperti. Tak memiliki tenaga.
"Jangan pingsan, jangan pingsan. Tapi lemes," gumam ara dalam hati dengan kondisi yang ada sekarang ini.
Brey menyudahi gigitan kecilnya. Ia kembali menatap ara yang masih membulatkan mata melihatnya. Wajahnya memerah, seperti kepiting yang barus diangkat dari kukusan. Bibirnya juga merah akibat brey barusan. Untung saja brey tak kalap, menggigit bibirnya hingga terluka.
"Itu, tadi?" Ara memegangi bibirnya. Tapi ia tak mengusap bekas breyhan disana.
"Bukan apa-apa. Tidurlah, hari sudah malam. Bantal ini, semoga masih ada ditempatnya hingga esok pagi."
"Emang bantalnya bisa pindah sendiri?" tanya ara.
__ADS_1
"Dia bisa pindah kapan saja jika mau. Dan kau, bisa jadi juga akan pindah kesini." Breyhan menepuk dadanya beberapa kali. Ara segera memalingkan tubuh dan menutupnya dengan selimut tebal membelakangi breyhan saat itu. Ia kemudian memejamkan matanya dengan susah payah agar bisa terlelap dengan segera.