
Mami membawa menantu kesayanganya itu masuk ke kamar barunya. Semua dibuat persis seperti kesukaan ara selama ini, yang sempat ia rindukan selama beberapa tahun sejak kemalangan nasib keluarga mereka.
Hanya bisa terharu dan lagi-lagi terharu hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hingga rasanya ia menyesal sudah mengucapkan beberapa syarat pada breyhan saat itu.
"Ngga boleh... Ngga boleh ragu, Ara. Ara harus jadi istri yang baik dan ngga boleh mengecewakan mereka semua." Ara mengepalkan tangannya untuk memberi kekuatan pada dirinya sendiri.
Hari juga sudah semakin sore, Ia segera mandi dan bergegas membantu Mami memasak dibawah. Meski nanti ia sendiri bingung akan melakukan apa disana.
Breyhan yang mendapat kabar itu langsung semringah. Ia begitu bersemangat untuk segera pulang menemui pujaan hatinya.
"Kemana?"
"Pulang, kenapa?"
"Kok cepet?" tanya Sean yang mengerutkan dahi melihat tingkah sepupunya saat ini. Biasanya ia selalu pulang tepat waktu, dan menunggu semua pekerjaannya selesai tuntas baru Ia bisa pulang.
"Ara udah dirumah." bisik breyhan padanya. Yang bahkan ia tak segan untuk menceritakan rencananya dengan ara sore hingga malam ini. Apalagi jika bukan untuk mengajaknya berkencan.
__ADS_1
Dengan ucapan breyhan itu Sean langsung menatapnya dengan nelangsa. Ia kadang sedih jika sepupunya itu akan menikah hingga nanti akan mengabaikannya karena dia.
"Dan yang parah lagi, semua pekerjaan akan beralih padaku saat itu. Aaaahh, jadi pengen balik ke papa kalau begini." kesal Sean yang mengacak-acak rambutnya sendiri.
Brey segera naik ke mobil lalu berjalan pulang dengan santai, Ia bahkan mampir ke toko bunga untuk membeli sebuah mawar merah untuk calon istrinya itu.
Brey yang masuk kedalam rumah segera mencari ara, dan ia melihatnya sedang ada didalam dapur sana. Ara tengah membantu mami untuk mengupas sayuran sekaligus mencucinya.
Ara yang saat itu tengah fokus, lantas terkejut dengan kehadiran bunga mawar yang ada didepan matanya. Ia bahkan nyaris tersentak karena kaget, namun breyhan berhasil mencegah dengan menutup mulutnya.
"Hey, jangan teriak. Nanti dikira kita ngapa-ngapain,"
"Untung ngga ara gigit tangannya," Tapi bukan brey namanya jika tak menggoda, yang bahkan saat itu ia justru memberikan jari besarnya untuk ara.
"Apa?" lirik tajam ara, tapi breyhan hanya tertawa dengan kepolosan calon istrinya itu. Ara yang kesal akhirnya benar-benar menarik jari itu dan ia masukkan kedalam mulutnya, ia gigit dengan kuat hingga brey berteriak sekuat tenaga..
"Hey... Aaakhh! Sakit, Ara!"
__ADS_1
"Tadi katanya minta digigit?" balas ara dengan ucapan yang tak jelas.
"Ta-tapi bukan begini, Sayang. Aaaaaah!" Untung saja ara langsung diam kembali ketika brey memanggilnya dengan ucapan itu, hingga brey dengan cepat bisa menarik tangan dari mulutnya.
Ara yang melihat tangan brey terluka, melaju dengan cepat mencari kotak P3k untuk membalut lukanya. Ara diam dengan wajah tersipu ketika brey terus menatapnya saat itu.
"Sakit ya?" tanya ara, padahal jelas-jelas jari itu terluka karena gigi tajamnya.
"Perlukah bertanya jika tahu jawabannya?" jawan brey. Ara hanya bisa diam sembari terus meniup dan mengusap tangan yang terluka itu, bahkan sesekali mengecupnya dengan mesra.
"Maaf, Ara kaget.".
"Mawar nya, suka?"
"Suka lah, siapa yang ngga suka dikasih mawar sama... Sama calon suami." ucap ara yang kemudian tertunduk malu.
Breyhan lalu meraih dagunya, mengangkat sedikit kepala ara hingga tatapan mereka saling bertautan. Brey tersenyum manis menyingkirkan anak rambut ara yang mengganggu pandangannya. Ibu jari itu kemudian mengusap lembut bibir ara yang sebentar lagi akan jadi miliknya, lalu tangan itu naik dan mengusap wajah mulusnya.
__ADS_1
Ara hanya diam menerima semua perlakuan lembut breyhan padanya. Bukan terkesima, melainkan ia terlalu gugup hingga bingung harus berbuat apa.
"Kalin ngapain?" tanya Ila dengan wajah datarnya, saat ia sudah berada ditengah dan mengagetkan keduanya.