
Keduanya mengakhiri pertemuan dengan makan malam bersama. Mereka sempat berdiskusi dengan mama papa Ara untuk membawa Ara tinggal dirumah itu mulai besok. Mereka tak ingin menantunya tinggak sendirian dan serba kekurangan dikost kecil itu.
"Ngga boleh, kan belum mahram. Nanti gimana anggapan orang-orang?" tolak Mama ara dengan lembut dari sana.
"Ngga papa, Ma. Kan Ila jagain. Lagian mereka pisah kamar, jadi nanti juga gampang kalau Kak Brey antar jemput kekampus." jawab Ila menengahi mereka..
Namun, Breyhan lebih dewasa hingga mengalah dengan argumen semuanya. Breyhan yang mengalah dan pergi dari rumah untuk tinggal di Appartemen miliknya yang sudah Ia beli beberapa tahun lalu..
" Ara jadi ngga enak," ucap Ara.
"Kenapa ngga enak. Nanti kita akan pindah kesana setelah menikah. Anggap saja, ini latihan dan agar disana tak senyap karena lama tak dihuni," balas Brey dengan senyumnya
"Terima kasih," ucap Ara menggigit bibirnya. Pria sebaik itu, bagaimana bisa ara tolak. Apalagi memang sudah menunggunya sejak lama, seribu satu pria seperti itu rasanya diluar sana.
Ara mulai untuk kembali terharu. Brey yang menyadari lalu meraih tisu dan mengusap air matanya dengan amat lembut agar tak melukai wajah putih mulus itu. Bersih, seputih susu tanpa noda sama sekali disana. Mana bisa brey melukainya, dan tak akan pernah membiarkannya terluka.
"Ara malam ini pulang dulu, ya? Lusa baru urus pindahan kesini." pinta Aram untungnya besok lusa libur, hingga Ila dan She juga pasti akan membantunya berberes kost mereka.
Dan mengenai she, Ia belum tahu kabar itu dari Ila hingga malam ini. Tapi sepertinya She tak mungkin jika belum mendengarnya dari Sean disana.
Ara pamit pulang karena memang sudah malam. Tak lupa mami memberikan bekal untuk sang menantu untuk sarapan paginya besok agar tak terlalu repot untuk memasak lagi.
__ADS_1
"Tapi Ara udah belajar bangun pagi, Mam."
"Oh iya, kan ara masakin Bryhan terus ya? Aaah, manisnya kalian. Tapi ngga papa, ini buat ara dan ara masak lagi buat Brey ngga papa." jawab Mama sembari memberi kotak bekal untuk menantunya.
Brey membawa ara pulang, dan sepanjang jalan mereka membicarakan mengenai pernikahan. Mungkin seminggu lagi, karena masih banyak tugas yang harus brey kerjakan diluar sana. Bahkan mungkin harus keluar kota untuk beberapa lama.
"Lama?"
"Kenapa? Masa udah ngga mau ditinggal?"
"Bukan gitu, tapi..."
"Iya, sama Ila aja." angguk Ara padanya.
Sesuatu yang ara cemaskan, adalah ketika menikah dan memiliki suami super sibuk seperti breyhan. Ia membayangkan ketika papanya masih begitu sibuk dahulu, hingga begitu sulit untuk bersama keluarganya.
"Apa ini cobaan ketika menuju pernikahan?" gumam Ara dalam hati.
"Oh iya, aku punya sesuatu. Maaf lupa," ucap Brey yang kemudian merogoh dashboard mobilnya.
Sebuah kotak berwarna ungu, seperti kotak perhiasan dan Brey memberikannya pada Ara.
__ADS_1
"Maaf, gagal romantis." sesal Brey. Yang kadang membayangkan sebuah moment, namun harus gagal dengan moment lainnya yang bahkan kadang tak penting.
Ara membukanya. Sebuah cincin indah tepat ada didepan matanya, cincin permata itu seperti sudah dipesan sesuai warna kesukaan dan ukuran yang pas untuk Ara ketika ia memasang sendiri di jari manisnya.
"Eh... Ini buat pernikahan, kan?"
"Engga... Ini untuk Ara. Nanti pernikahan, Mami yang akan persiapkan. Katanya buat hadiah kita,"
"Aaah, manis sekali. Makasih," ucap Ara yang bahkan tak tahu harus berekspresi bagaimana. Masa harus menangis lagi sangking terharunya, dan bahkan sudah berapa kali menangis malam ini.
"Itu aja?" goda Brey padanya.
"Iiih, terus apa?"
"Yaudah, ngga papa." jawab breyhan yang memainkan sendiri bibirnya.
Ara tertunduk, Ia menggigiti kukunya dalam sebuah keraguan besar di dalam dada. Tapi kemudian ia menatap kembali pada breyhan, merubah sedikit posisi lalu mengecupnya sekali.
Brey nyaris saja mengerem mendadak mobilnya karena terkejut. Namun itu tak terjadi karena masih ia tahan dengan helaan napas panjang dari hidung dan Ia keluarkan dari mulutnya.
"Kalau begini, mustahil bakal pisah kamar." teriak bahagia Breyhan dalam hati.
__ADS_1