
Semua barang sudah dikemas dengan rapi. Beberapa barang diberikan pada tetangga kost yang belum memiliki barang seperti itu. Lagipula untuk apalagi itu bagi ara yang akan pindah kesebuah rumah mewah. Dan lagi, setelah menikah Ia dan Brey juga akan pindah ke appartement yang tak kalah mewahnya.
"Ila, udah tahu appartemen kak Brey?" tanya Ara ketika mereka beristirahat sejenak, merebahkan diri dikamar yang sudah nyaris kosong dengan barang-barang disana.
"Pernah... Ila pernah kesana, She juga pernah kesana."
"Kenapa Ra?" sahut She dari sebelahnya.
"Ngga papa, penasaran dikit."
She lalu menceritakan bagaimana bentuk dalam apartement itu. Apartemen yang cukup besar dan mewah meski tak sebesar rumah mami papi. Brey membelinya sudah Tiga tahun, dan sesekali ditempati atau She dan Ila sekedar ingin berlibur dan tidur disana bersama.
Apartement memiliki satu lantai, dengan tiga kamar yang cantik dan cukup luas. Perabotan sudah sangat lengkap disana, benar-benar hanya tinggal membawa badan dan pakaian.
Ara mengedip-ngedipkan mata mendengarnya, "Semewah itukah?"
__ADS_1
"Lumayan buat kalian berdua aja sih. Tapi nanti kalau udah mulai ada baby, bisa jadi Kak Brey beliin rumah yang lebih besar lagi."
"Uhuukkk! Uhuuuuk, uhuk!" Ara tersedak dan terbatuk mendengarnya. Padahal ia sama sekali tak tengah minum atau makan saat ini, hingga tenggorokannya perih dan mengeluarkan air mata.
She yang cemas lansgsung mengambil air minum yang ada didekatnya untuk ara.
" Kenapa sih?" tanya She yang lanta mengusap punggung ara dengan tangannya.
"Ngga papa, aku kaget aja. Lagian si Ila, bahas-bahas ponakan. Nikah aja belum," lirik kesal ara padanya. Tapi Ila hanya tersenyum didepan mereka tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Ini hanya perkara waktu, tenang aja." jawab santai ila pada keduanya.
"Wuooo... Wuoooo! Kok nyasarnya gitu? Ngga lucu, Ih Araaaaa!" kesal Ila, sontak mimik wajah Ila saat itu membuat She dan ara tertawa terbahak-bahak bersama.
Sebuah wajah cemas dari seorang anak bungsu yang selalu jadi prioritas, bahkan tak pernah membayangkan memiliki adik dimasa kecil mereka. Lalu apalagi dengan usia mereka yang saat ini, ketika kebanyakan di usia itu mereka punya anak sendiri
__ADS_1
"Udah ah, ayo pergi. Mami udah nungguin dirumah," ajak Ila yang kemudian mengalihkan obrolan mereka bertiga.
Mereka bertiga berangkat menggunakan mobil Sherena usai pamit pada pemilik kostnya. Semua barang telah diangkut dengan mobil pick up yang mereka sewa dan mengiring dibelakang mobil mereka.
Mereka tak hentinya saling berbalas goda, atau ejekan lain hingga tanpa terasa telah tiba dirumah yang mereka tuju.
She turun dengan Ila, tapi ara justru masih diam ditempatnya. Entah kenapa, Ia seperti didera dengan rasa ragu atau bahkan takut yang cukup luar biasa saat ini. Wajahnya pucat dan akralnya dingin, seperti ia baru pertama kali datang. Atau karena datang dengan status yang berbeda.
"Ra, ayo..." ajak Ila yang kemudian menarik lengannya untuk keluar. Ia menggandeng tangan sahabatnya itu, lalu masuk kedalam. Mami langsung keluar untuk menyambut menantu kesayangannya.
"Sayang, udah dateng. Mami anter kekamar langsung? Udah mami siapin buat kamu,"
"Kamarnya yang mana, Mi?"
"Ya...Yang dideket kamar Beyhan. Mami ngga mingkin taruh kamu dikamar tamu, kamu kan bukan tamu Mami yang cuma mau menginap." ucap mami dengan begitu jujur padanya.
__ADS_1
Lutut ara terasa bergetar dengan hebat. Rasanya ia ingin memohon arga sekamar saja dengan ila karena sedikit jauh dengan kamar brey saat itu.
" Janganlah... Itu nanti kan bakal jadi kamar pengantin, masa dikamar aku." celetuk ila, dan Ara hanya bisa membulatkan mata mendengarnya. Ia benar-benar tak kepikiran sampai sejauh itu.