
Para tamu sudah pulang. Mami dan Papi masuk untuk berganti pakaian dikamar dan mengistirahatkan diri sejenak disana hingga waktu makan malam tiba.
"Mamiiiii," panggil Ila yang mengetuk kamarnya. Tanpa diminta, Ila segera masuk dan berbaring ditengah-tengah mami dan papinya dengan begitu manja.
Papi yang saat itu tengah bersandar santai dengan tab ditangan, langsung membuka kacamata dan memberi perhatin untuk anak gadis semata wayangnya itu.
"Apa sayang? Manja sekali hari ini?" Papi langsung mengusap rambut ila dan mengecup kepalanya.
"Emang Kakak harus pindah, ya? Kenapa ngga tinggal disini aja? Kan ila baru rasain punya temen dirumah yang sefrekuensi," rengeknya.
Mami dan papi hanya saling tatap mendengar ucapan sang putri padanya saat itu. Hanya menghela napas, lalu mami mengambil alih pembicaraan yang lebih serius pada putrinya yang masih polos.
"Kakak sama Ara kan sudah menikah, mereka harus tinggal bersama supaya lebih bisa saling mengenal. Mereka kan ngga pacaran,"
"Nanti Ila yang kenalin, gampang kan?" celetuknya, membuat papi menggaruk kepala.
"Ila, kakak itu harus belajar mengenai ara dengan sendirinya. Begitu juga ara dengan kakak, ngga bisa dan ngga boleh jika ila masuk ke dalam hubungan mereka."
__ADS_1
"Ara cari pacar sendiri aja sana,"
"Papiiiii!" sergah mereka berdua secara bersamaan.
"Eh... Salah ya?" tawa papi mencairkan suasana yang ada. Hanya untuk menggoda ila, agar tak terlalu sedih akan ditinggal kakaknya padahal tak jauh, tapi mungkin akan semakin tak bebas untuk bermain bersama seperti biasa.
"Udah ih, ngga usah bahas lagi. Kakak juga ngga akan kasih batasan Ila untuk main kesana."
"Asal jangan tengah malem aja,"
"Papi! Keterusan deh nyeletuknya," omel mami.
"Nyonya, makan malam sudah siap." panggil Bibik pada mereka semua.
Mami membujuk putrinya yang tengah lunglai, hingga papi turun tangan memanjakan dan memberi punggung untuk menggendongnya. Jika seperti ini, tak terasa jika anak mereka berdua semua sudah dewasa. Tak terasa waktu berjalan dengan begitu cepatnya.
Kreek! Pintu kamar dibuka, bersamaan dengan pintu kamar pengantin yang tak jauh dari kamar mereka. Sepasang pengantin baru itupun keluar, tapi ada saja yang mengganggu pandangan.
__ADS_1
"Ara sakit?" tanya mami yang begitu perhatian. Apalagi wajah ara tampak pucat dan cara jalan yang aneh menurutnya, sedikit menahan nyeri dipinggang.
"Mami? Engga, Mam. Ara ngga sesakit itu kok. Ini hanya_..."
"Yaudah ngga papa, yuk kita makan malam," ajak Mami. Ia bahkan bingung, antara bangga dan kasihan dengan mereka berdua..
Bangga dengan putranya yang perkasa, tapi kasihan pada menantunya.
(Padahal mereka juga ngga ngapa-ngapain😌😌)
Langkah ara begitu pelan, yang bahkan brey menawarkan diri untuk menggendongnya saat itu. Tapi ara tolak karena malu, apalagi takut diledek oleh Ila yang memang suka usil padanya.
Makan malam berlangsung ceria karena brey juga kembali kerumah setelah seminggu berpisah. Saat itu, brey juga sudah tak segan memperlihatkan segala perhatiannya untuk sang istri dan menampakkan kemesraan didepan mereka semua. Ia berkaca pada papi yang selalu bisa memanjakan istrinya
Bahkan hingga sekarang papi masih seperti itu, selalu menampakkan kemesraan pada sang istri didepan anak-anaknya.
"Apa-apaan ini? Pemandangan macam apa ini? Iiiih, keseeeeeell!" geram Ila melihat mereka semua. Apalagi ia sendiri diantara mereka yang memiki pasangan.
__ADS_1
"Uluh, ucuk ucuk... Adek kakak yang manja, mau apa sayang? Sini, kakak ambilin." goda brey pada adiknya.
Tapi sayang, saat itu ila sudah terlajur mengerucutkan bibirnya. Sepertinya bisa diikiat dengan karet sayur kangkung milik bibik yang ada didapur mereka.