Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 33


__ADS_3

Malam ini Brey tengah mempersiapkan kepindahannya dibantu Ila dan Ara. Mereka menaruh setiap pakaian rapi itu ke koper besar, sementara Brey tengah membersihkan tubuhnya dikamar mandi.


"Enaknya, abis nikah mau langsung pindah. Takut Ila ganggu, ya?" jahil Ila pada sahabatnya itu.


"Ilaaa, apaan sih? Kan udah keputusan berdua. Kalau masih suruh tinggal disini sementara ngga papa kok,"


Jujur Ara terasa masih belum siap mendadak tinggal berdua dengan brey di apatemen nanti. Ia seperti masih butuh beberapa persiapan disana, apalagi Ia hanya gadis manja yang tak bisa apa-apa. Apalagi harus melayani suami, seperti apa maksudnya sama sekali belum tergambar dikepala.


Kreeek! Pintu kamar mandi dibuka. Breyhan keluar hanya dengan handuk dipinggangnya, dan itu memperlihatkan setiap cetakan otot yang tergambar ditubuhnya.


Ara menoleh. Tubuhnya seketika membeku, dan matanya bahkan tak bisa berkedip dengan apa yang ia lihat. Selain Papa, baru kali ini ara melihat tubuh pria lain didepan matanya seperti ini.


"Kakaaak!" tegur Ila padanya. Saat itu Ara yang langsung terkejut, dan Ia segera membuang muka pada calon suaminya.


"Apa dek? Kakak cuma mau ambil baju, tadi lupa."


"Harusnya panggil Ila aja, nanti ila anter kok. Lihat tuh, Ara ampe pucet lihatnya," omel Ara, dan Brey hanya berjalan santai menggelengkan kepala.


"Nanti terbiasa,"

__ADS_1


"Kakaaaaak!" Ila melempar bantal kearahnya.


"Hey! Jangan gitu, nanti malah lepas gimana? Malah kelihatan semuanya,"


"Uhuuukk!" Ara langsung tersedak mendengarnya, padahal ia tak tengan minum atau makan apa-apa disana.


"Tuh, kan..." balas Breyhan. Usai menemukan pakaian, ia segera kembali ke kamar mandi untuk memakainya. Ia lantas keluar lagi menghampiri kedua gadis itu, lalu turun untuk mengajak mereka makan malam bersama.


Makan malam terasa sunyi, karena mami papi sedang tak bersama mereka malam ini. Keduanya tengah sibuk mempersiapkan acara pernikahan mendadak anaknya. Yang walau hanya kerabat, tapi cukup banyak jika dikumpulkan satu persatu.


"Malam ini, Ila yang bertanggung jawab mengawasi kalian berdua."


"Lah, ya janganlah. Masa tega suruh Ila dirumah sendirian? Ikuuut!"


"Hey! Apaan? Orang mau kencan kamu ikut. Tinggal!"


"Aaaa... Ngga mau, ikut pokoknya."


"Kakak panggil She kerumah. Kalian berdua, titik!"

__ADS_1


Sedangkan Ara disana hanya bisa diam menyaksikan keributan keduanya. Ia tak berani melerai, karena itu bukan keributan biasa antar kakak dan adiknya. Ara hanya merasa nyaman disana meski dengan kebisingan antar keduanya.


Brey memenuhi janji. Ia memanggil She, bahkan sean untuk menemani Ila dirumah mereka.


"Mami papi lagi dirumah, Loe nyuruh kita kesini. Ngga sopan," tukas sean pada kakak sepupunya itu.


"Daripada kencan diikutin adeknya, kan ngga enak. Kayak sama siapa aja, Loe."


"Mccccckkkk! Dasar!" kesal sean padanya. Malam ini, ia harus mengasuh kedua gadis itu dirumah besar mereka.


Ia tak dapat membayangkan bagaimana ia terhimpit diantara obrolan kedua gadis yang kadang membingungkan dan menyakiti isi kepalanya itu. Yang bahkan mungkin Ia akan diseret untuk menonton drakor bersama, menjadi pelampiasan dan kemarahan mereka berdua yang mulai larut kedalan bapernya.


"Bolehkah aku jadi supir kalian saja?" tanya sean, berusaha lari dari tanggung jawab yang ada.


"No... Ila aja No, kenapa loe yes?" tukas Breyhan, yang kini telah amat rapi dan mempesona siap untuk kencan bersama calon istrinya.


Hanya tinggal menunggu ara, yang kebingungan berdandan untuk kencan pertama mereka.


"Bahkan ara ngga punya baju yang pantas untuk mengimbangi Kak brey malam ini." ratapnya, ketika melihat isi lemari yang isinya hanya baju lama dan sederhana.

__ADS_1


__ADS_2