Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 37


__ADS_3

Acara demi acara selesai. Beberapa tamu undangan yang datang pamit untuk pulang, dan beberapa lagi masih bertahan dan mengobrol bersama Papi dan Papa reza untuk urusan bisnis mereka. Tampak papa aya disana yang masih ditemani putrinya.


Namun, aya tampak amat murung dan sama sekali tak merasakan semangat saat ini untuk dirinya sendiri.


"Kak... Ara istirahat dulu, ya? Capek," pamit ara pada pria yang saat ini bergelar suaminya itu.


"Okey sayang... Tunggu aku dikamar kita," bisik Brey pada istrinya. Itu lagi-lagi membuat jantung ara berdegup lagi dengan begitu kuat.


"Kakak, iiiih..." Ara mencubit pinggang brey, malu-malu sembari menggigiti bibir bawahnya sendiri.


"Hey, sakit. Itu bibirnya jangan di gigitin, nanti luka, ngga enak..."


"Iiiisssh! Udah lah, Ara mau naik ke kamar aja. Ini mana lagi, Ila sama she? Bukannya bantuin malah," omel Ara yang kehilangan Dua pagar ayunya, hingga ia harus berjalan sendiri menuju kamar yang cukup jauh dari tempat acara mereka.

__ADS_1


Apalagi ara memakai heels yang cukup tinggi. Daripada jatuh, ia melepas hels itu dan menyangkingnya demi keselamatan diri.. Ia terus berjalan, mengangkat rok dari kebaya yang ia pakai dengan mulut terus meracau mengomeli dua dara yang menghilang entah kemana.


Hingga akhirnya ia tiba di kamar. Dibukanya pintu dan segera duduk diranjang pengantinnya. Ia buka sendiri beberapa peralatan dari riasan yang ada. Untung saja mami saat itu segera datang atas permintaan brey untuk membantu menantunya.


"Sayang, sini mami bantu. Ini ngga bisa dilepas sendiri," Mami langsung duduk disamping ara untuk membantu membuka satu persatu. Bahkan tak segan membantu membuka kebaya itu dan mencarikan ganti dengan sebuah gaun tidur yang lebih nyaman untuknya.


"Makasih, Mam. Ara ngerepotin,"


"Eh, kok gitu? Ini tugas mami lah, kenapa malah ngga enak. Tadi fikir perias, masih lama selesai. Jadi mereka pamit ke pesta satunya lagi,"


Apalagi ara yang masih harus magang, dan mengurus persiapan untuk wisudanya sebentar lagi. Asal tak molor, atau keburu hamil dan mengharuskannya cuti. Tak yakin jika brey bertahan untuk tak menyentuh istrinya dalam waktu yang cukup lama.


Make up juga sudah bersih. Mami meminta ara istirahat sejenak sebelun ia membersihkan diri, karena ini masih cukup siang dan nanti ara pasti akan gerah lagi.

__ADS_1


"Mami keluar lagi, ya? Ara istirahat aja."


"Iya, Mam." angguk ara pada mertua tercinta.


Ara berbaring, menatap semua hiasan indah yang ada dikamarnya. Semua bernuansa serba putih, yang kata orang itu berarti ikatan suci. Apakah benar-benar suci, ketika ara belum benar-benar mencintai.


"Tapi ara janji, ara akan berusaha memberikan hati sama kak brey. Suka, tapi belum cinta. Itu mudah kan, tinggal mengasah lagi?" tanya dan jawabnya sendiri saat itu. Hingga perlahan matanya terpejam, dan ia terlelap disore hari dengan segala rasa lelah yang ada.


" Ara mana, Ma?"


" Tidur sebentar, sayang. Biarkan dia istirahat. Kamu kalau capek, istirahat dulu sana. Tapi_... "


" Tapi apa?" Breyhan mengerutkan dahinya.

__ADS_1


Saat itu mami hanya tersenyum, ia kemudian meraih tubuh sang putra dan mendekatkan bibir ketelinganya lalu berbisik mengatakan sesuatu. Dalam bisikan itu, Brey seketika membulatkan mata dan menelan salivanya


__ADS_2