Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 9


__ADS_3

Ara menyudut pergi dari Ila dan She usai kelas mereka. Ia diam-diam menelpon mamanya yang ada disana untuk mempertanyakan bagaimana nasibnya.


"Ma, dompet Ara udah tipis banget, Itu aja bagi buat bensin setiap hari." lirihnya dengan hati yang perih. Sang mama disana hanya meminta penegrtian lebih lagi darinya, berjanji akan segera mengirim dengan segala usaha yang ada.


"Apa ara kerja aja? Ara yakin bisa kok bagi waktunya. Ara kerja sore sampai malem, kemarin lihat_..."


"Ra, mama mohon jangan. Kamu harus kuliah bener-bener hingga lulus, nanti mama tinggal carikan koneksi agar kamu bisa kerja diperusahaan besa. Sabar sayang," mohon sang mama padanya. Ara hanya bisa kembali menghela napa berusaha menerima nasib yang ada untuknya.


"Mama janji, mama akan kirim kamu sebentar lagi." imbuh sang mama padanya.


Ara sebenarnya amat tak tega melihat kondisi mereka saat ini. Mereka berusaha dengan amat keras disana memulai dari Nol lagi semua usaha mereka yang bangkrut. Bukan tak mau meminta tolong dengan sahabat, hanya saja prinsip hidup mereka adalah tak mau merepotkan orang lain dengan urusan mereka.


"Iya, Ma. Ara akan sabar nunggu," jawab ara. Ia juga tak enak jika harus cerita bahwa sahabatnya sering mentraktirnya, karena mama akan kepikiran disana. Ara selama ini anak yang selalu dimanja dan dituruti apa maunya, mendadak harus hidup dalam keadaan pas-pasan.


Ara memayikan panggilannya dan kembali kekelas menghampiri sahabatnya. Ia mengusap air matanya itu agar mereka tak curiga dan kembali mengkhawatirkannya, lalu merubah kembali mode wajah cerianya.


"Lama bener?" tanya Ila padanya.


"Sakit perut gara-gara pizza dingin," kilah ara mengelus perut ratanya. Ila lantas mencarikan obat untuknya di apotek kampus yang tedekat, setidaknya meringankan sakit yang dialami sahabatnya itu meskis semua hanya alasan semata.


"Hari ini pulang kerumah gue ya," pinta Ila padanya.


"Kenapa?" Ara memicingkan mata. Selain sungkan, ia tak ingin bertemu dengan brey hari ini. Ia seakan tak ada tenaga untuk meladeni keusilan suami masa kecilnya itu.


Ila terdiam sejenak, ia berfikir akan mencari alasan apa untuk membawa ara kesana. Ia hanya hanya ingin membawa ara kesana dan makan bersama sepuasnya, bahkan membawakan ara beberapa persediaan meski hanya roti dan mie instan. Tapi ara pasti menolak jika Ila jujur padanya.


"Kan ada tugas, kita kerjain bareng-bareng aja. Ngga enak kalau sendirian," kilah Ila, bahkan mengatakan jika She akan ikut bersama mereka.

__ADS_1


"Hah... Aku?" tunjuk She pada dirinya sendiri. Tapi Ila mengedipkan mata berkali-kali agar She meng'iyakan niatnya kali ini.


"Eh, iya aku ikut. Tapi, aku mau pulang dulu nanti. Aku nyusul kalian aja karena mau temenin mama," balas She meski terpaksa harus berbohong pada mereka berdua.


Ila kembali membujuk ara, bahkan ia mengerlingkan mata berkali-kali untuk memohon padanya. Tak ada cara lain, akhirnya Ila menyanggupi ajakan ara padanya kali ini. Ara bersorak sorai karena ara main kerumahnya lagi.


"Tapi inget, aku males kalau diledekin sama kak Brey lagi. Aku mau langsung pulang," ancamnya pada Ila. Tapi ila hanya tersenyum dan mengangkat kedua jarinya untuk ara.


Ketiganya keluar lingkungan kampus bersamaan. Tapi She berbelok karena akan pulangĀ  kerumahnya menuruti ajakan sang mama.


Ila membawa motor ara saat itu, dan bahkan sempat mampir ke Pom untuk mengisikan minyak motornya secara full disana. Ara sekali lagi tak enak hati, tapi lagi-lagi terlanjur dan tak dapat lagi mencegahnya kali ini.


"Besok aku ganti," ucap ara yang sudah membonceng lagi dibelakang Ila saat ini.


"Apaan sih, Ra? Lima puluh ribu doang kayak apa aja. Lagian ngga habis sehari kan?"


"Tapi_..."


Terharunya ara memiliki sahabat sebaik ila, meski menyebalkan tapi ila amat perduli padanya. Ara langsung memeluk tubuh ila dengan erat, dan menyandarkan dagu dibahunya dengan amat mesra.


Sepanjang jalan mereka begitu ceria dan tertawa sembari terus bercerita. Apalagi mengenai masa kecil mereka yang penuh bahagia. Tapi Ara selalu mencubit ila ketika membahasnya dan brey kembali dengan pernikahan mereka.


Keduanya telah tiba dirumah. Ila langsung memarkirkan motor itu digarasi dan membawa ara masuk langsung menuju kamarnya. Ia mengajak ara makan siang, namun gadis itu masih menolaknya dengan alasan belum lapar.


Ila berusaha tak memaksa, menunggu perut itu berbunyi dengan sendirinya dan bahkan memasak sendiri dibelakang sesuai seleranya. "Ada mie, ada telor, dan banyak bahan lainnya. Kamu tinggal pilih yang mana kamu suka."


"Iya, nanti." jawab ara yang berbaring dikasur ila saat ini. Begitu nyaman, tak seperti kasur di kostanya yang sudah keras dan menyakitkan. Ia terakhir merasakan kasur seempuk itu dua tahun lalu, sebelum papanya benar-benar bangkrut seperti sekarang.

__ADS_1


Belum jadi belajar. Keduanya justru tidur bersama diatas kasur ila dengan begitu nyenyaknya. She juga tak jadi datang, toh ia hanya menjadi alasan dari tujuan ila dan saat ini ia tengah sibuk mengerjakna tugas sendiri dirumahnya.


Hingga satu jam berlalu. Ara mulai lapar, gelisah dan bangun dari tidurnya. Dengan mata yang masih lengket ia melihat ila yang masih pulas disebelahnya, dan ia tak tega membangunkannya dari mimpi yang indah.


Ara mengikat rambutnya, kemudian turun kebawah mencari makanan. Ia hanya bisa memasak mie instan, dan sesekali menceplok telur atau memasaknya dadar. Ia mulai mencari keberadaan mie didapur besar itu, ia membuka setiap lemari yang ada bahkan naik kekursi untuk membuka yang ada diatas sana.


"Mana sih? Kok ngga ketemu juga," lirihnya sembari terus berusaha.


Saat itu pintu terbuka. Papi Mami rupanya pulang hari ini dan berniat memberi kejutan pada dua anaknya. Namun, mereka berdua justru dikagetkan dengan seseorang yang ada disana.


Mereka tahu itu bukan Ila, dan mereka masih terus mengawasi gerak geriknya hingga papi mendekat lalu menangkapnya.


"Huwaaaa! Ini siapa? Kenapa, ada apa?" kaget Ara yang langsung gelagapan dibuatnya. Apalagi Ia lapar, untung saja ia tak langsung pingsan dikagetkan seperti ini dari belakangnya.


"Kamu yang siapa? Kenapa ada disini mengobrak abrik dapur?" tanya Mami padanya.


"I-ini Ara... Tiara temen Ila, Mi. Ara anak Pak Johan sama Bu rina," ucap ara menunjukkan identitas dirinya.


Papi saat itu segera melepaskan ara, dan mami langsung datang mendekat dan memeluknya dengan erat.


"Kamu ara? Tiara artamevia?" Mami masih bertanya seakan tak percaya, dan ara seketika mengangguk padanya.


"Iya, Mi. Maaf, ara lancang."


"Oh... Tak apa sayang. Astaga, menantu Mami akhirnya kembali."


Ara rasanya ingin berteriak sekuat tenaga dan menangis sejadi-jadinya. Saat ini. Tapi ia kelaparan, ia butuh makan agar tenaganya pulih kembali.

__ADS_1


Kenapa semua orang disini? Siapa lagi yang kembali akan meledeknya dengan semua ini? Tiara kesal, marah, dan semuanya menjadi satu berkecamuk dalam hati.


"Aaaarrrrgghhh!"


__ADS_2