Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 55


__ADS_3

"Hay cantik," sapa seorang manager keuangan bernama david. Ia begitu ramah pada ara dan sherena, dan ia lah yang memberi hadiah boneka kecil itu padanya.


Ia menyapa ara ketika tengah memnfotocopy beberapa file dan membanginya sesuai urutan yang dieperlukan. Lalu kemudian merapikannya menjadi sebuah dokumen, menaruhnya diruang rapat yang sebentar lagi akan segera dilaksanakan.


"Pak David?" balas ara menundukkan kepala.


"Kau tak memakai gantungan kuncimu? Kau tak suka?"


"Ehmmm... Suka, tapi ara simpen dirumah. Maaf, ngga suka ribet." Ara berkilah dengan penolakan halusnya. Kadang ia risih ketika Pak david terlalu ramah padanya meski ia bilang jika ara mengingatkan david pada adik perempuannya yang sudah meninggal.


"Oh, kamu lebih suka koleksi boneka dirumah?"


"I-ya, begitulah. Permisi, Pak David." Ara pergi dari pria itu, yang seperti masih ingin bertegur sapa dengannya.


Ara berjalan sedikit cepat, karena harus menyusun semua bahan itu di meja rapat. Dan ia juga harus mengantarnya keruangan bos besar yang tak lain adalah suaminya sendiri. Ara mengetuk pintu, dan brey segera memintanya masuk kedalam.


"Pak, ini materi rapat nanti. Sudah saya_"


"Kania_"


"Ya, Pak?" jawab sang sektretaris, yang kemudian menyadari kode yang diberikan bos padanya. Ia menganggukkan kepala, lalu keluar dari ruangan itu segera..

__ADS_1


Mode breyhan seketika berubah. Ia menaruh tangan dimeja lalu menyangga wajah memperhatikan istri cantiknya. Ara terus dengan profesionalnya memberikan dokumen itu dimeja, bahkan meminta breyhan memeriksa semunya.


"Jangan nakal," tegur ara ketika brey mengendap-endap meraih tangannya untuk ia sentuh.


Tapi bukan pak bos namanya jika akan meyerah begitu saja, apalagi ia sudah seminggu lebih tak bisa menyentuh istrinya dengan sempurna. Ia segera mengganggam tangan ara dan menariknya, hingga mau tak mau ara yang berputar menghampiri ia dikursinya saat itu juga.


"Jangan nakal," tatap tegas ara padanya..


"Ngga nakal, hanya rindu."


"Kayak ngga pernah ketemu dirumah aja."


"Entah kenapa, mengendap-endap seperti ini seperti menimbulkan adrenalin tersendiri." Tangan breyhan meraih wajah mulus ara kemudian membelainya. Turun lagi ke bibir dan mengukirnya dengan lembut menggunakan jari besarnya yang kokoh.


Nyaris saja breyhan memekik, tapi memilih menahan itu semua dan menggigit bibirnya sendiri sebagai penahan rasa nyeri. "Araaaa," lirih brey dengan suaranya yang tercekat amat berat.


Ara justru menjulurkan lidah melihat suaminya seperti itu, tak ia lihat wajah kesal brey melihatnya.


"Kau," geram breyhan. Ia menarik pinggang ara hingga reflek jatuh kepangkuannya, tangan satunya meraih dagu ara dengan paksa kemudian menyerang bibir itu dengan buas seperti singa kelaparan. Ia tak perduli ketika ara terus memukuli bahu dan bahkan mencubit dadanya saat itu..


Breyhan tak perduli, ia justru meraih belakang kepala ara dan menekannya untuk memperdalam panguutan mereka.

__ADS_1


"Eeemphh!" Ara terus memekik dan berusaha memberontak, tapi ia kalah tenaga dengan suaminya. Hanya ketika brey melihat ara yang nyaris kehabisan napas, maka ia melepaskannya sejenak.


"Minta ditabok," omel ara yang kemudian meraih hp dan berkaca merapikan dirinya.


Brey dengan begitu tenangnya mengusap bibir basah itu lalu ******* jarinya, menikmati sisa sisa bibir ara lalu tertawa melihat tingkah istrinya sendiri.


"Berantakan," keluh ara yang kemudian merapikan penampilannya..


Pintu diketuk. Kania memanggil dan mengingatkan keduanya saat ini agar tak kebablasan didalam sana. Untung saja karyawan yang lain saat itu tengah makan siang hingga tak ada yang curiga dengan aktifitas keduanya.


"Ara males masuk lagi ah, kalau begini. Kakak nakal,"


"Bahkan aku belum sempat membuka kemejamu,"


"Iiiih! Makin jadi. Dah ah, ara keluar."


Dan benar saja, ara mengayunkan kakinya untuk keluar dari sana dengan segera melewati kania. Sekretaris itu hanya tersenyum melihat pasutri itu, yang memang tengah hangat seharusnya.


Ara duduk dikursinya lagi, hingga ia melihat sebuah boneka beruang kecil ada didekat laptopnya. Ia suka, tapi penasaran siapa yang memberikannya.


"She tahu?"

__ADS_1


"Engga, she baru dari kantin. Itu she bawain makanan buat ara," tunjuk she dengan matanya.


"Makasih," ucap Ara yang kemudian membuka kotak makanan itu lalu menyantapnya. Sesekali menatap boneka itu, warnanya cantik dan bulunya begitu halus. Ara suka dan akan membawanya pulang tanpa rasa curiga.


__ADS_2