Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 11


__ADS_3

"Mam, Mami kenapa?" tanya Brey yang langsung mencium tangan maminya. Bahkan breyhan memeluknya agar sedikit tenang tak lagi mengeluarkan airmata.


"Mami cuma sensitif dengan Ara, Sayang. Kasihan,"


"Brey juga sama, tapi brey tak bisa berbuat apa-apa untuknya. Mau bantu uang nanti malah ngga enakanterus menjauh, kan malah bahaya." jawab Brey. Ila mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan kakaknya, karen ia juga merasakan semua itu barusan ketika mengisikan bensin motornya. 


Tak enak hati kadang juga membuat seseorang menjauh, karena mereka takut nanti dikira akan memanfaatkan rekannya yang lain dengan kesulitan yang Ia punya. Ila tak mau kehilangan ara, karena sudah seperti kakak baginya meski ara sebenarnya lebih manja.


"Papi sedang mencari tahu pasal mereka, dan nanti akan membantunya diam-diam." imbuh Brey. 


Mereka cukup lama bertukar fikiran, hingga mami sudah sedikit tenang dan brey kembali kekamarnya untuk berbbenah diri. Waktu yang cukup langka ketika ia pulang cepat, bahkan harus mengorbankan sean yang ada disana. Untung saja alasannya tepat, hingga sean tak langsung mengomelinya lewat panggilan suara.


"Mami pulang. Aku akan menemaninya sebentar,"


"Alasan, karena Ara ada disana kan?"


"Kok tahu?" kager Brey yang langsung tersenyum saat itu.


"Sudahlah... Kau memang menyebalkan. Matikan panggilang dan pergi sana sepuasmu, membuat kesal saja."


"Yang menghubungi aku siapa? Kau pula yang mengomeliku. Dasar penggerutu," omel balik Brey padanya. Dengan kesal, Ia segera mematikan telepon itu.


Breyhan lantas melangkah keluar dari kamarnya, Ia ingin menemui ara untuk sekedar mengobrol dengannya saat ini. Apalagi ia berharap ara akan sedikit melunak karena mulai bisa memberikan senyum indahnya tadi. Namun rupanya Ara ada tengah lewat tepat didepan pintu kamarnya, Ia tertabrak oleh tubuh besar breyhan dan jatuh tersungkur kelantai.


"Aaakkhh!!" Ara memekik, dan Brey spontan langsung mendekati untuk menolongnya. Tak perlu basa basi dan aba-aba, Brey langsung membopong tubuh itu untuk masuk kedalam kamarny


"Kak, kenapa kekamar? Ngga boleh," 


"Eh iya, lupa. Belum jadi beneran. Yaudah, aku bawa ke ruang tamu aja lagi." ucap brey yang keluar kembali dan membawa Ara pergi.


Brey tampak amat berhati- hati membawa gadis itu menuruni anak tangga yang ia lewati. Seakan ia takut jika Ara akan jatuh dan menggelinding dibawah hingga akan lebih dakit daripada jatuhnya tadi.

__ADS_1


"Kak, ara turunin aja. Malu dilihat orang,"


"Jangan, kaki kamu sakit kan?"


"Engga, serius ara ngga papa. Turunin aja," rengek gadis itu padanya, bahkan ia memukuli bahu breyhan dan memksanya turun dari sana. Hingga akhirnya brey mengalah dan menurunkannya ketika tiba dilantai bawah.


"Nah, udah dibilangin ara ngga papa." ucap ara, sembari merapikan dirinya kembali.


Tapi ia langsung tersentak ketika ketika rupanya seluruh keluarga ada disana. Meloncat, nyaris saja jatuh lagi jika brey. Mereka semua menatap ara saat itu, mata mereka dipenuhi tanya akan apa yang terjadi pada keduanya. Ara langsung gugup, tapi brey justru tampak begitu santai dengan sikapnya untuk mereka.


Ara menggigit bibir atasnya. Hari sudah semakin sore dan Ia pamit untuk pulang ke kostnya, terlebih tadi dengan segala tugas yang ada.


"Kak Brey antar ya, Sayang?" tawar Mami yag masih saja khawatir dengannya. Tapi ara menolak, Ia masih tak nyaman begitu dekat dengan brey saat ini.


"Ara kan, bawa motor, Mi." tolaknya secara halus.


"Mami takut kamu kenapa-napa dijalan,"


Sementara mereka berdebat,  saat itu brey justru memangku siku di paha dan menopan wajah dengan genggaman tangannya. Ia menghadap Ara dan terus memperhatikannya yang sebenarnya tengah bingung dengan sikap mereka yang begitu baik padanya. Tatapannya benar-benar fokus pada satu titik yaitu ara, dari kilatan mata, bibir dan hidungnya yang bangir.


"Aaaah... Sempurna,"


"Hah, apaanya yang sempurna?" tanya mereka yang seketika beralih menatapnya.


Breyhan seketika bingung, dan bahkan seakan linglung dengan ucapannya barusan. Ia menatap mereka semua secara bergantian dan justru bertanya kenapa mereka semua menatapnya.


"Apa, kenapa?" tanya Breyhan dengan wajah bodohnya.


"Kakaaak!" geram Ila, yang begitu sangat ini menepuk bahunya disana. Tapi breyhan hanya mengedikkan bahu dengan kegeraman sang adik, dan kembali terus memperhatikan istri masa kecilnya itu.


Ara kekeuh ingin pulang dengan motornya, hingga akhirnya mami mengalah dan tak mampu berbuat apa-apa. Mami hanya pasrah dan membirakannya pergi dengan syarat ara mau menerima apa yang Mami beri padanya.

__ADS_1


Ya, betapa tercengang ara dengan apa yang mami bawakan untuknya. Satu bungkusan super besar ada didepan mata, bahkan Ara merasa bingung harus membawanya bagaimana dengan motor maticnya itu.


"Itu beras, mie instan dan beberapa keperluan lain buat ara disana. Telur juga ada, supaya setidaknya ara masih dapat gizi dari telur itu nanti," ucap mami padanya.


"Daging sama ayam ngga sekalian, Mam?" celetuk ara bercanda, tapi mami seakan terlalu serius menanggapinya.


"Oh, Ara suka daging? Yaudah kalau gitu, mami bungkusin_..."


"Oh... Mam, ara cuma bercanda Mam, ngga serius." ucap ara yang hanya bisa menghela napas dibuatnya.


"Mami mau ambilin loh,"


"Eng_ngga usah, Am... Ngga usah, ini aja cukup kok." tolak ara padanya. Lagipula, ara juga tak bisa memasaknya nanti disana, apalagi tak memiliki alatnya.


Ara hanya mengelus dada, ingin mengeluh tapi hatinya bersyukur karena memiliki mereka. Ia bahkan bingung harus berkata apa, selain hanya terima kasih yang ia ucap berkali-kali. Rasanya ara seperti anak perantauan yang mudik, dan ketika kembali lagi pasti akan dibawakan begitu banyak macam barang oleh ibunya.


"Wooo, ya jelas. Kan menantu mami, jangan sampai kekurangan gizilah." ucap mami saat itu padanya.


"Yaudah, karepmu lah Mi." pasrah Ara, lalu pamit pergi dengan segala barang yang ada dimotornya. Yang entah bagaimana nanti ketika dijalan saya, sayangnya brey tak memiliki tali atau kardus untuk mengikat semuanya dibelakang sana.


"Kenapa kakak ngga ajak nikah beneran aja?" tanya Mami.


"Kakak mau Mam, tapi ragu sama ara nya." jawab Ila. 


Sementara itu, Ara kini telah tiba di kost mungilnya. Ia turun denga semua barang yang ia bawa lalu segera membuka semua isinya, "Astaga, Mami..." Ara terkaget dengan isi yang super lengkap disana. Bahkan nuget dan sosis siap makan juga ada hingga bertanya-tanya kapan mami membeli itu semua untuknya. Yang bahkan ara tak menemukan itu dikulkas tadi siang.


"Terharu..." ucap ara yang langsung meraih sosis itu dan menggigitnya dengan air mata yang berderai,


"Kayak gini, kalau Ara nikah beneran sama kak brey gimana? Tapi ara belum siap menikah. Kak brey serius ngga sih sama ara? Apa cuma main-main aja gara-gara kisah lama?" galau ara. 


Kejadian itu sudah sangat lama, Ara bahkan sempat tak percaya jika brey bahkan masih mengingatnya hingga saat ini. Ara bahkan sempat lupa dengan wajah breyhan karena semakin tampan dan rupawan baginya, seakan tak percaya jika brey masih bertahan jomblo demi menunggunya.

__ADS_1


"Tapi ara lihat mahkota itu disana. Kak brey masih simpan rupanya? IIiih, Ara galaaaau!!!"


__ADS_2