Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 22


__ADS_3

Pertanyaan itu membuat Brey diam, seketika tubuhnya mematung menghentikan semua pergerakan yang ada. Ia menatap pada ara seakan tanpa bekedip. Seluruh pergerakan terasa berhenti baginya pagi ini.


"Kak, Ara nanya..."


"Kenapa mendadak?"


"Kakak bahkan udah nunggu lebih dari sepuluh tahun."


"Alasannya, Ara. Apa karena_... Aku ngga mau jika kamu terpaksa,"


Ara menggigit bibirnya lagi. Niatnya sudah terbaca oleh Brey dan tak lagi dapat Ia sangkal. Ia memang ingin berterimakasih dengan semua yang Mami Papi berikan pada keluarganya dengan memberikan diri pada Breyhan.


" Tapi... Aku tak perduli. Meski awalnya terpaksa, aku akan sekuat tenaga meraih hati kamu. Ketika sudah menjadi hak milik, maka hanya tinggal berusaha menjaga. Begitu kan?"


Ara kembali mengangguk. Ia juga meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Ia fikir akan penuh drama seperti dalam novel yang sering ia baca, namun tidak karena sejak awal Brey menginginkannya.


" Tapi... Bisakah ara menjadi seorang istri dalan usia seperti ini? Yang sebenarnya ara belum siap sama sekali." tanya Ara dalam hati.


"Baiklah... Kita akan menikah, dan kita beritahu Mami secepatnya mengenai ini. Kau siap?"


"Iya,"


Senyum brey terukir indah ketika mendengar ucapan itu dari Ara. Ia mengulurkan tangan kembali meraih wajah putih bersih itu dan membelainya dengan begitu hangat, bahkan tak segan menyingkirkan anak rambut Ara yang sedikit mengganggu pandangannya pada sang pujaan hati.

__ADS_1


Sebuah panggilan mengganggu kemesraan keduanya. Brey memasang wajah kesal meraih Hp dan segera mematikan panggilan itu karena telah merusak moment mesranya bersama Ara.


"Sudah waktunya kerja?" tanya Ara, dan Ia pun sebentar lagi akan masuk kelas menyusul Ila.


"Sebenarnya_..."


"Pergilah, Ara tahu kakak sibuk. Bukankah ara harus belajar mengerti?"


"Boleh aku mengecup keningmu?" izin Brey, karena ini untuk yang pertama kali. Tapi Ia juga tak akan memaksa jika Ara belum siap untuk memberikannya.


Namun ketika brey mulai pasrah, Ara justru meraih tangan Brey dan menciumnya. Ia juga menunjuk dahi pertanda Brey boleh mengecupnya sekali pagin ini.


Brey menggigit bibir bagian dalamnya, tersenyum, lalu meraih Ara untuk mengecupnya. Begitu hangat, seakan breyhan enggan untuk melepaskannya.


Sifat tegasnya mulai terlihat dimata Ara, seakan Brey sudah memperlihatkan sifat aslinya. Tapi Ara yakin, Brey bukan pria yang kasar karena Ia sendiri anak kesayangan mami selama ini.


Ara pamit keluar dari mobil itu, Ia melambaikan tangan ketika Brey pamit pergi padanya dan segera berbalik untuk berjalan memasuki ruanganya.


"Ngapain, lama banget?" tanya Ila penasaran.


"Mau tahu banget, atau mau tahu aja?"


"Araaaaa," Sekarang Ila yang gemas, penasaran akan obrolan mereka berdua yang bahkan Ia sama sekali tak boleh mendengarnya.

__ADS_1


Sementara itu, sepanjang di kantor Brey berada dalam lamunan. Sean sampai menegurnya karena pertama kalinya Brey melamun selain pekerjaan.


"Padahal bekel udah dikasih. Terus, apa salahnya?" tanya Sean yang penasaran.


"Menurutmu, bagaimana pernikahan terpaksa?"


"Terpaksa menikah? Siapa?"


"Aku dan Ara..."


"Hah? Serius?"


"Aku bertanya, kenapa kau justru memberikan pertanyaan? Aku meminta pendapat!" sergah Brey dengan wajah yang mulai kesal.


"Lah... Aku bertanya agar pertanyaanmu itu semakin jelas, hingga aku bisa menjawab semua pertanyaan yang kau pertanyakan padamu."


"Haissshh! Aarrrrgggh! Memang salah aku bertanya padamu. Kenapa aku tak langsung meminta pendapat dengan papamu?!"


"Kau punya Papi, kenapa harus terus mengganggu papaku?"


"SEAN!!!" pekik Brey padanya.


Sean yang awalnya duduk dengan santai, langsung berdiri dan lari dengan segala rasa takutnya. Bahkan ia nyaris menabrak pintu karena tak memperhatikan jalan yang ada didepan matanya.

__ADS_1


__ADS_2