
Pagi ini menjadi pagi pertama ara melayani breyhan sebagai suaminya. Ia bangun cepat, lalu memasak dengan semua bahan yang ada berbekal saluran youtub yang ia tonton saat itu.
Ara begitu serius memperhatikan semuanya sembari terus memasukkan semua bahan yang ada. Ia juga terus mengkoreksi rasa agar pas dan tak berlebihan hingga brey menyukainya.
"Sepertinya pas," lirih ara ketika mencicipi masakan yang ia buat. Hingga tiba-tiba brey datang meraih sendok dan mengambil sedikit yang ada dipanci.
Saat itu ara memasak sup ayam, dan tampaknya memang sangat sempurna dan menggiurkan. "Aaah, nikmatnya makanan istriku," puji Brey yang dengan iseng mencubit pipo cubby ara saat itu.
"Beneran, pas?" tanya ara yang kembali memastikan.
"Lebih pas lagi kalau nyicipnya begini,"
Cupp! Brey justru mengecup bibir ara menikmati rasa yang tersisa disana. Dan ara masih juga kaget dengan apa yang dilakukan brey padanya. Ada saja spontanitas breyhan yang selalu bisa membuat ara terkejut karenanya.
" Harusnya ngga perlu kaget dong. Kakak udah sering cium ara begitu,"
"Kenapa selalu tiba-tiba? Ara kan kaget." Breyhan kemudian menyipitkan matanya, tersenyum dan melangkah maju mendekati ara yang masih malu-malu padanya.
"Jadi... Kalau kakak minta yang seperti tadi, Ara mau kasih?" bisik brey pada istrinya.
__ADS_1
"Yang gimana? Cium?" tanya ara dan brey mengangguk semangat mendengarnya.
"Boleh, kan udah suami istri."
"Yang lain?" tatap brey tajam.
Ara menundukkan kepala. Ia berfikir dan teringat ucapan berikut nasehat sang mama mengenai pelayanan terhadap suami. Yang mama bilang, ara harus siap kapanpun breyhan menginginkannya dan jangan pernah menolak kecuali ia tengah berhalangan.
Meski ia juga tak tahu, melayani itu yang seperti apa karena mama tak bisa menjawabnya sedetail itu dan semua penjelasan lewat video call. Ara akan tahu sendiri, yang jelas ara harus menurut sebagai istri. Apalagi brey begitu pengertian terhadap dirinya selama ini.
Perlahan ara menganggukkan kepala. Ia pasrah ketika breyhan mau melakukan apa saja untuknya sebagai naluri seorang suami pada istrinya. Ia lama kelamaan akan terbiasa dan paham akan itu semua. Toh, Ara sudah memberikan tipis-tipis beberapa hari ini walau masih begitu banyak jarak yang harus ditepis.
"Emang harus malem?" Ara kembali dengan kepolosanya.
Brey kemudian meraih pinggang ara, dan mengangkatnya naik keatas meja kompor yang bersih itu. Untung ara memang bukan gadis yang berantakan, hingga apapun itu segera ia rapikan.
Mereka sejajar saat ini. Kedua mata mereka saling beremu satu sama lain dan berbalas tatapan dengan sangat intens. Breyhan meraih dagu ara, dengan satu jempol bermain terlebih dulu ke bibir manisnya yang ranum. Yang meski ia sudah beberapa kali menikmati, tapi rasanya begitu lapar dan dahaga hingga sulit untuk berhenti.
"Begini, boleh?" tanya ara yang merangkulkan kedua tangan dileher breyhan saat itu. Tak ada jawaban kecuali hanya senyum bahagai terpancar dari wajahnya.
__ADS_1
Brey perlahan mendekatkan bibir keduanya, menaikkan dagu ara agar lebih mudah ia jangkau dan ia nikmati saat itu. Mulai dari mendekatkan, perlahan breyhan masuk kecelah dan menguasai bagian dalamnya dengan begitu lembut.
Tapi breyhan tak sendiri. Ara sudah bisa membahas semuanya secara perlahan. Dan sesekali terdengar lengu han ara yang mulai mencari cela untuk bernapas. Dan saat itu breyhan perlahan menghentikan aksinya untuk memberikan ara kesempatan menarik napas sejenak.
Kemudian breyhan mengulangnya lagi, bahkan lebih hangat dari sebelumnya karena ara sudah bisa mengekspresikan dirinya dengan apa yang ia terima. Brey mengangkat dan menggendong tubuh mungil ara, berniat membawanya kembali kekamar mereka.
Karena semalam akhirnya ara kekamar breyhan, karena takut tengah malam sendirian dan begitu sunyi disana.
Langkah demi langkah, perlahan tapi pasti breyhan mendekat ke kamar besarnya. Hanya tinggal masuk dan membuka pintu hingga gangguan itu datang lagi.
Ya, suara bell berbunyi beberapa kali tanpa jeda. Breyhan sampai sakit kepala mendengarnya dan spontan ara turun dari gendongannya.
"Siapa sih?" gumam ara yang merapikan sedikit kaos oblongnya.
"Sipa lagi kalau bukan_... Ah, udahlah... Kesel."
Breyhan geram, langsung masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri. Jika ia membiarkan bel terus berbunyi, pasti ia akan mendapat pengaduan dari tetangga karena mengganggu kenyamanan mereka.
Karena brey tahu, yang datang bukanlah tamu biasa. Ia tak akan berhenti jika tak segera mendapat jawaban dari keduanya, atau salah satu dari mereka berdua.
__ADS_1
"Ara... Kok lama buka pintunya? Kita ada kelas hari ini, mau bagi kantor buat magang!"