
"Pak Breyhan?" panggil Aya ketika brey akan keluar dari ruangan rapat mereka. Breyhan langsung menoleh dan memberi senyum ramah padanya.
"Ya, Bu aya? Ada apa?"
Aya langsung menghampiri, Ia tertunduk ingin menghadap Breyhan namun rasanya tak bisa dan entah kenapa. Ia hanya bisa diam, tubuhnya terasa membeku dan amat sulit untuk dijelaskan.
"Aya?" panggil Brey lagi, tanpa embel-embel dibelakang namanya.
"Ah, iya?"
"Ada apa? Ada yang perlu ditanyakan?"
"Mengenai pernikahan itu, tadi." jawab Aya dengan gugup. Matanya tampak berkaca-kaca, tapi Breyhan tak terlalu ingin membahasnya.
"Ada apa dengan pernikahan saya?"
Aya menarik napas dengan amat dalam. Lalu mulai mempertanyakan alasan Breyhan menikahi gadis yang Ia anggap masih terlalu belia untuknya. Padahal selama ini ia tahu benar jika begitu banyak yang menaruh hati pada Breyhan. Termasuk pula dirinya.
" Kau tahu, aku bahkan menunggunya selama Lima belas tahun." ujar Breyhan dengan santainya.
"Hah?" Ayaa kaget mendengarnya. Bahkan seorang Breyhan begitu menginginkna gadis itu sejak lama. Pantas saja, Brey sama sekali tak bergeming dengan semua gadis yang mendekatinya selama ini meski ramahnya dan perhatiannya bisa langsung membuat siapa saja terpesona.
__ADS_1
Breyhan lantas menceritakan masa kecil indah itu padanya. Aya seamakin tak menyangka dengan semua yang ada. Sesetia itukha Breyhan dengan gadis masa kecilnya.
"Atau hanya beranggapan jika, kai bertanggung jawab?"
"Atas apa?"
"Mungkin karena permainan kecil itu, kau terbayang-bayang dan terjebak padanya. Atau hanya penasaran untuk_..."
"Tidak," jawab tegas Breyhan padanya. Ia memberi senyuman, lalu pergi dari hadapan aya tanpa penjelasan lagi untuknya.
Tubuh gadis itu gemetar. Rasanya ia sudah terlanjur dalam menambatkba hatinya pada Breyhan. Ia merasa selama ini Breyan beda dengan yang lain untuk perlakuan pada dirinya.
Saat Brey masuk keruangan, Ia segera meraih Hpnya. Menatap layar dengan beberapa panggilan disana dan salah satunya dari yang tercinta. Ia segera menghubingi Ara kembali setelahnya.
"Hey Sayang?" panggil Brey ketika teleponnya dijawab. Ara disana langsung terdiam seketika, mengedipkan matanya kaget dengan panggilan baru yang brey sematkan padanya.
"Ara?"
"Eh, Iya Kak... Maaf, Ara bengong." jujurnya.
"Kenapa bengong? Maaf, tadi ada rapat sebentar. Jadi_..."
__ADS_1
"Iya kak, Ara paham. Cuma mau nanya, kakak udah sarapan apa belum tadi." balas Ara. Ia juga menceritakan, jika hari ini Ila dan Sherena akan mulai ke kost untuk membantu ara membereskan semuanya.
"Dosen ngga masuk, jadi Ara bisa mempercepat beres-beres dan pindahnya."
"Apa itu tandanya, aku juga harus cepat pergi dari rumah? Ah, rasanya aku terusir."
"Eh... Bukan gitu, maksudnya_... Ehmmm,"
Breyhan tertawa mendengarnya. Ia juga gemas membayangkan mimik wajah Ara saat ini yang pasti bingung karena ulahnya.
"Tak apa kan, jika aku masih dirumah semalam lagi? Belajar hidup bersama," goda brey.
"Kakaaaaak!" Brey kembali terkekeh, pasti Ara sudah sangat salah tingkah disana.
Memang benar. Apalagi dengan Ila dan she yang sedari tadi hanya bisa heran menatapnya.
"Tolong tolong... Aku baru lihat soalnya. Dia kalau telponannsama kak Brey, emang begitu apa?" tanya She pada Ila dengan segala rasa penasaran dalam hatinya.
Ila hanya menganggukkan kepala, dan itu sudah mampu menjawab semua pertanyaan yang ada.
"Jatuh cinta emang gitu ya?"
__ADS_1