
"Pi, pulang yuk?" ajak Mami yang baru saja pergi dari kamar putranya.
"Loh, ngga bantu beres-beres? Kan_..." Saat itu Ila yang menyaut maminya.
Tapi mami terus mengajak mereka pulang dengan berbagai alasan. Apalagi melihat apartemen juga tak terlalu berantakan, dan berkata jika mereka berdua bisa melakukannya sendiri.
"Lah, sean disuruh pulang juga, Mi?" tanya sean pada yang saat itu tengah duduk santai bersama papi.
Mami saat itu hanya melirik sean dan beberapa kali mengedipkan matanya. Sean sejenak berfikir kode yang dimaksud oleh mami padanya. Sementara papi sudah paham dan hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala.
"Oh... Iya anu. La, pulang sama kita yuk," panggil sean saat itu. Saat ila tengah sibuk merapikan dapur usai membuat teh.
"Ilaaa," panggil lembut sean padanya. She akhirnya meraih lengan ila dan membawanya menghadap sang kakak.
"Ila masih pengen disini. Ila nginep ya? Semalam aja? Lagian mereka mana sih?" kesal ila, karna merasa saat ini tak ada yang membela dan mendukung keinginannya.
"Yaudah, Ila panggil mereka du_" Ila yang baru saja akan berdiri, langsung ditarik mami untuk duduk lagi.
Mami justru berteriak kuat dan memanggil pasangan itu untuk keluar karena mereka akan segera pamit pulang.
"Kok cepet?" tanya ara yang keluar, dan segera merapikan rambut karena ulah brey padanya. Padahal hanya karena brey memaksanya untuk dipeluk, tapi bisa seberantakan itu.
"Iya nih, mereka paksa buat. Aaaauuuhh!" Tangan Ila justru dicubit mami ketika ingin bicara jujur. Saat itu rasanya ila ngenes, merasa di anak tirikan dan selalu saja salah dimata mereka hingga ia berkaca-kaca.
__ADS_1
Tapi untung she langsung meraih dan memeluk ila untuk menenangkannya.
" Kami pulang ya, sayang? Brey mana? Ini papi ada panggilan kerja mendadak. Kan ngga mungkin, kalau breyhan yang dateng. Nanti kamu sama siapa dirumah?"
"Tapi ara bisa kok, kalau dirumah sendirian. Kan_..."
"Engga, ngga usah. Biar papi aja yang datang, okey?"
"Okey," ucap ara mengacungkan jempolnya.
Hingga akhirnya brey keluar. Ia telah mengganti pakaian santai dengan celana jogger dan kaos oblongnya saat itu. Santai seperti ini pun tampan, cukup membuat jantung ara berdebar dengan kuat. Apalagi kaos yang ia pakai itu cukup memperlihatkan bahu dan dadanya yang berisi.
"Mami pulang? Ngga sekalian makan siang bareng?" tanya brey yang langsung menghampiri.
"Ara kira mami papi doang," bengong ara saat itu.
"Kami mau ajak ila ke pantai. Kasihan, sedih mulu." ucap Sean yang merangkul adiknya saat itu.
"Ah, iya..." Ara mengangguk, bahkan sedikit pasrah ketika ila meraih tangan ara dan menciumnya. Rasanya sungkan, dan ia takut ini menjadi pembatas untuk persahabatan mereka nanti.
"Besok ketemu dikampus, ya." ucap Ara pada adik iparnya.
Dan mereka satu persatu keluar, pergi meninggalkan ara dan breyhan di appartemen sendirian.
__ADS_1
Brey melepas mereka hingga sedikit jaug keluar dari pintu, dan ara menunggunya disana hingga brey kembali.
"Kok mereka cepet pulang sih? Padahal kan enak, rame, banyak temen." keluh ara yang kembali sepi disana.
Brey hanya melirik, lalu tersenyum menatapnya dengan intens saat itu. Ia menutup pintu, lalu menguncinya dengan rapat. Kemudian menghampiri ara yang bersandar ditembok bersedekap di dada.
" Kakak, mau apa lagi?" tatap ara mengerenyitkan dahinya.
Brey hanya menaikkan bahu. Kedua tangan yang tadinya disaku, satunya ia keluarkan untuk menyentuh dinding yang menjadi sandaran ara saat ini. Saat ara mulai akan pergi, brey mengeluarkan satu tangannya lagi dari sakunya.
Ara terhimpit di dinding saat ini, apalagi ketika brey semakin lama semakin melekatkan tubuh keduanya.
"Kita aman sekarang," ucap brey yang tertunduk menatap intens pada istrinya.
"Aman buat apa?"
"Aman buatku, membuatmu siap menjadi istri seutuhnya. Ingat kata mama? Jika kau harus siap kapanpun aku mau kamu,"
Ara hanya bisa membulatkan mata dengan mulut ternganga ketika mendengar brey mengucapkan itu padanya.
Breyhan meraih pinggang ara dengan cukup kuat hingga ara nyaris tersentak karenanya. Tangan besar kembali meraih wajah ara dan membelainya dengan begitu lembut, hingga terasa oleh ara perasaan aneh yang menyerang sekujur tubuhnya saat ini.
"Ini... Apa?" gumam ara dalam hati dengan degupan jantung yang begitu sulit ia kendalikan saat ini.
__ADS_1