
Ara meninggalkan dua adik barunya itu untuk mandi dan mengurus suaminya. Ia benar-benar tengah
berusaha untuk menjadi seorang istri yang baik, berkaca dari kebiasaan mama dan papanya selama ini. Semua hal ara usahakan agar membuat brey semakin mencintainya. Padahal itu tak begitu perlu mengingat sejak awal breyhan lah yang sudah begitu mencintai ara selama ini.
“Ara hari ini mau belanja sama Ila dan sherena,”
“Baiklah, ATM dan credit card ada diatas meja dan tinggal ara pilih mau pakai yang mana. Kodenya
tanggal pernikahan kita,”
“Hah?”
“Kenapa hahh? Bagus bukan? Supaya sama-sama ingat. Atau ara mau transferan sendiri untuk jatah bulanan?” tanya bray padanya. Tapi ara menggegelengkan kepala. Ia merasa belum siap untuk mengatur semuanya dengan cermat saat ini, karena ia takut akan menyalahgunakan uang yang ada hanya sekedar untuk belanja yang tak berguna.
“Kan kakak tahu. Begini ara mantan anak orang kaya yang kadang suka belanja,” ucap ara menundukkan
kepala.
“Lalu, apa bedanya? Apa itu yang membuat ara selalu menjauh saat itu?” Dan ara mengangguk menjawabnya.
Brey kemudian mengecup kening ara, yang saat itu masih memakai kimono mandinyya. Andai taka ada
__ADS_1
dua cecunguk disana, pasti brey sudah memulai aksinya saat itu juga dengan pajangan indah yang luar biasa didepan mata.
“Ara, kok lama? Udah siang nih,” panggil ila padanya. Gadis itu memang sudah tak sabar
untuk berbelanja dan jalan-jalan bersama. Apalagi akan memanfaatkan moment ketika ara akan mau membayarkan semua yang diambilnya. “Kan mayan, yang dikasih mami ila simpen,” tawanya dalam hati.
Brey terlebih dulu keluar untuk sarapan, dan saat itu ila segera datang untuk melayani kakaknya. Ia sudah sarapan dirumah bersama papi mami, dan lagi-lagi menceritakan keduanya yang makin hari semakin mesra. “ Pokoknya ila ngga mau punya adek,” tukasnya.
“Kalau ngga mau punya adek, jangan pergi mulu. Tapi ponakan mau?” Brey melempar pertanyaan
pada adiknya. Dan saat itu ila menganggukkan kepala dengan begitu antusiasnya, semangat, seakan ingin cepat dan tak bisa ditunda lagi.
“Ap aini? Kok semangat banget?” tanya ara yang menghampiri keduanya. Ia lanjut duduk dan ikut
Brey dan ila tak menjawab, hingga semakin menambah rasa penasaran dihati ara.
Hingga akhirnya mereka berdua berpisah ketika breyhan sudah memberi kecupan dikening, pipi dan
bibir sang istri meski didepan mereka berdua. Hingga ila membulatkan mata dengan mulut ternganga melihatnya. “Pengen? Sini, aku tium…” tawar she yang kemudian memonyongkan bibirnya.
“Sherena… Apaan sih?” kesal ila yang menyingkirkan ara dari depannya.
__ADS_1
Tiga dara itu segera pergi bersama, dengan mobil sherena menuju mall terbesar dikota
mereka, ara saat itu membeli beberapa keperluan untuk kekantor, karena ia balum memiliki stiletto yang akan ia gunakan kekantor nanti. Dan lagi, kemeja yang ada terada sudah sesak dibagian dada saat ini hingga membuatnya sedikit tak nyaman.
“Ara belum beli sama sekali?” tanya Sherena yang sedikit heran melihatnya.
“Yang ada sepatu kets buat ngampus. Yang ada malah ngga pantes nanti. Yaudah beli satu aja,” jawab ara yang tengah mencoba sepatunya.
Dapat, dan mereka segera berganti tempat dari yang satu ketempat yang lainnya. Apalagi ketika
ila menarik mereka masuk ketoko khusus Wanita yang menyediakan underwear dan perlengkapan lainnya.
“Ara,” bisik sherena menunjuk sebuah lingerie cantik yang terpajang agak jauh disana.
Mata ara melotot seketika, dan ia tertunduk dengan muka memerah. Meski ia akui, jika warna dan modelnya cantik jika ia pakai dirumah hanya bersama sang suami.
Keduanya menghampiri itu, dan pramuniaga yang ada kemudian menjelaskan keunggulan produk yang ada
disana. Dengan lengan yang begitu tipis, dengan bagian dada yang cukup terbuka jika dikenakan, itu bisa seketika menambah pesona seorang Wanita menggoda suaminya.
Ara mengatupkan bibir melihat itu semua, membayangkan ketika ia memakainya didepan suami
__ADS_1
tercinta. Ia langsung salah tingkah dan menutup mata karenanya. “IIih… Jadi malu,” cicit ara dengan gemasnya.
“IIih… Kok PArt bajunya gitu? Ngga sopan!!” Ila kembali datang merusak suasana yang ada.