
Ara sudah cantik malam ini, dan ia telah siap pergi untuk kencan bersama suaminya yang juga
telah rapi. Namun ara hanya menghela napas ketika melihat rapinya brey tampak begitu kaku baginya yang masih dengan kemeja formal dan celana jeans hitam yang ia kenakan. Sedangkan ara sendiri begitu santai dengan dress pendek dan tas selempang yang ia pakai.
“Apa ada yang salah?”
“Ara kayak bocil yang mau jalan sama om-om,”
“Tapi om-omnya nngangenin kan?” Breyhan mengedipkan mata dan kemudian merangkul
istrinya lalu berbisik ditelinga ara, “Bocilnya juga selalu bikin nagih. Nanti malam lagi ya?” godanya, membuat ara langsung membulatkan mata saat itu juga.
“Iiiih, terus deh…” rengek ara melepaskan rangkulan sang suami lalu berjalan pergi.
Brey hanya tersenyum dan kemudian berjalan santai menyusul istrinya didepan, tak lupa ia mengunci
pintu apartemen itu sebelum pergi. Ia meraih dan menggandeng ara lagi ketika sudah memasuki lift, digenggamnya erat tangan itu dan sesekali ia kecup dengan mesra seakan tak perduli dimanapun berada.
“Kita mau kemana?”
“Kemana aja, asal berdua, mesra dan ngga ada anak-anaknya seperti ketika kakak melamar
ara.” Brey langsung tertawa gemas mendengar cicitan istrinya. Hingga keduanya keluar, lalu berjalan menuju mobil dan pergi menyusuri jalanan yang ramai. Ya, Namanya juga malam minggu dan itu masih termasuk sore untuk para pemuda yang tengah jalan-jalan, sama seperti breyhan dan ara.
Pemberhantian pertama adalah sebuah restaurant, dan breyhan mengajak ara makan malam cukup
__ADS_1
mewah disana. Ara begitu bahagia ketika brey bahkan sudah memesankan menu paforitnya, merasa terharu karena brey mengetahui semua tentang dirinya. “Ini rayuan?” tata para menyipitkan mata.
Brey mengedikkan bahu, dan tangannya meminum segelas wine yang terhidang disana. Bahkan brey
sudah memesan sebuah hotel untuk keduanya, berharap mala mini seperti sebuah bulan madu yang sangat istimewa. Tapi, ia harus memanjakan dan memberikan mood bagus terlebih dahulu untuk bocilnya yang satu itu.
“Ara ma uke kamar mandi dulu,”
“Hmmm.” Brey menganggukkan kepala lalu melanjutkan makan malamnya sembari menunggu ara.
Wanita itu berjalan santai menuju toilet, bahkan tak segan bertanya pada waiters yang sedang berdiri disana untuk menunjukkan arahnya. “Makasih,” jawab ara dengan ramah dan ia masuk ke salah satu bilik ketika telah masuk didalam sana.
Namun seperti aneh yang ara rasakan, seperti ada yang tengah mengikutinya saat ini. Itu sontak
membuat tubuhnya merinding, dan rasanya mengganjal dihati. “Masa iya ada yang ikutin? Ngga ada kerjaan ikutin ara sampai kesini,” gumamnya, dan ia segera merapikan diri kembali untuk menghampiri sang suami yang masih setia menunggunya.
“Ya sayang? Ada apa?”
“Ehm, ngga jadi deh, nanti aja.” Ara tak melanjutkan ucapannya. Tapi brey tak curiga, hingga
ia menyelesaikan makan malam dan kembali mengajak ara fokus untuk kencan mereka.
Akan tetapi, ara tak meminta ke mall atau ke tempat yang terlalu ramai. Ia memilih duduk di
tepi danau dengan cahaya sinar rembulan yang indah, yang terasa begitu mesra untuk keduanya. Disana lebih damai, dan mereka bisa menghabiskan waktu berdua dengan kemesraan yang ada.
__ADS_1
“Hallo, Mam?” sapa ara ketika mami menelpon mereka.
“Malam minggu, kok ngga kesini? Mami kangen loh,”
“Kak brey ajak ara kencan, Mam. Nanti, kami mampir kesana kalau ngga kemalaman.”
“Oh_”
“Jangan ditunggu Mam, sepertinya kami tak mampir karena akan langsung ke hotel. Sahut breyhan
pada obrolan mereka berdua.
“Hah, hotel? Hotel apaan? Kakak ngga bilang kalau mau ke_... Lagian ngapai ke hotel?” cengo
ara mendengar ucapan suaminya.
“Ya, adalah… ngapain lagi?” tatap breyhan penuh goda.
Ara melirik dengan tatapan tajamnya penuh tanya, apalagi brey yang terlalu jujur dengamaminya.
“Oh, mau kehotel. Yaudah ngga papa, mami dukung. Sering-sering ya, sayang… Nanti mami carikan voucher bulan madu buat kalian,”ucap mami pada keduanya.
“Hah? Loh, Mam… Mami?! Yah, dimatiin teleponnya. Kakak sih, aaah!!” kesal ara.
Tapi breyhan hanya terkekeh lalu melu mat jari jemarinya sendiri yang penuh dengan saos pizza
__ADS_1
disana.