
Akhirnya Ila turun tangan. Ia meraih sebuah gaun miliknya dan ia pinjamkan ke ara untuk ia pakai malam ini. Ila tak tahu apa rencana brey dan kemana mereka akan kencan, tapi setidaknya itu lebih pantas sesuai rencana keduanya.
"Tapi, La?"
"Udah, ngga usah malu. Kayak sama siapa aja kamu tuh. Besok beli gaun banyak-banyak, sekalian gaun tidur,"
"Hah, gaun tidur?" Ara kembali bengong memikirkan ucapan Ila padanya. Untung asa She yang menengahi mereka. Ia raih Ara untuk diikat rambutnya dan sedikit memoles make up diwajah manis itu.
"Udah, omongan Ila jangan terlalu di dengerin."
"Paan sih, She? Kan aku cuma kasih tau. Lihat mami tuh, gaun malamnya cantik-cantik," lirih Ika dengan bibirnya yang mengerucut.
Ara kini sudah cantik. Ia digandeng keluar oleh sherena untuk turun menemui Breyhan yang telah menunggu dibawah sana.
Breyhan menoleh ketika dipanggil adiknya, lalu terkesima dengan penampilan Ara untuknya.
" Ih, jangan lebay. Ini aja gaunnya Ila kok. Ara... Ara ngga ada gaun lagi buat pergi, makanya lama. Lama bingungnya," tepis ara ketika brey tak henti memuji kecantikannya.
Brey hanya mengulas senyum. Padahal Ia juga tak memaksa ara dengan penampilannya, karena itu pasti akan ia perbaiki nanti. Baginya hanya dengan Ara memberikan hati, itu semua sudah cukup untuknya..
__ADS_1
Tak perlu banyak bicara. Brey segera menggandeng tangan ara untuk keluar dan menuju mobilnya. Ini kencan pertama mereka, hingga brey ingin mengajaknya kesebuah tempat istimewa.
"Kita, ngga mau dinner kan?"
"Lah, kan kita udah makan malam bareng Ila. Kenapa harus dinner lagi?"
"Ya, ngga papa. Biasanya kalau kencan gitu, pasti dinner bareng di tempat yang romantis." Ara menggigit bibir usai bicara. Bisa-bisa nyeletuk seperti itu, seakan ia memberi isyarat pada brey untuk melakukan itu padanya.
Breyhan hanya tersenyum. Ia tahu itu keinginan setiap wanita, dan bahkan saat itu mungkin terbayang si pria akan melamar gadisnya. Tapi tidak bagi Brey, Ia memiliki kejutannya sendiri untuk ara malam ini. Bukan diresto, atau bahkan di cafe mewah seperti pertanyaannya.
Mobil berhenti. Ara memperhatikan suasana yang ada didepan mata, dan amat tak asing untuknya. Dalam hatinya penuh tanya, hingga brey mengulurkan tangan membawanya keluar.
"Ini taman, tempat kita sering main dulu. Kamu inget?"
"Iya, pantes familiar." jawab Ara. Apalagi disana begitu banyak balon berwarna ungu terjejer dengan rapi, lilin juga menyala dengan bentuk hati begitu rapi.
Mendadak, beberapa anak hadir disana dengan membawa buket bunga, buket makanan ringan dan mereka berikan untuk ara dan sebuah kotak cincin untuk breyhan.
"Terimkasih," ucap Breyhan yang menunduk menerima cincin itu ditangannya.
__ADS_1
"Aku memang pria yang tak bisa basa basi, Ra. Aku tak bisa membuat sesuatu yang lebih indah dan bahkan sedikit lebih romantis dari ini untuk kamu. Aku hanya bisa to the point, dan_..."
Breyhan berlutut didepan Ara, membuka kotak cincin itu dan mendongak menatapnya.
" Will You Marrie Me?" tanya Breyhan padanya. Sekian lama terus berada dalam bayangan pernikahan masa kecil mereka, kini brey akan menjadikan ara istri sebenarnya.
Ara menutup mulutnya. Ia tak menyangka jika brey akan berbuat seperti ini padanya, meski memang sederhana dibandingkan dengan apa yang sempat ia banyaknya tentang sebuah lamaran romantis ala novel atau orang kaya.
Ia tak dapat berkata apa-apa, selain hanya menganggukkan kepala untuk menjawabnya. Apalagi dengan air mata, yang begitu sering tumpah tiba-tiba karena sensitifnya.
Brey kemudian berdiri lagi. Ia memakaikan cincin itu pada calon istrinya. Benar-benar pas, seperti memang ditakdirkan akan menjadi milik ara.
Ia yang amat terharu, spontan memeluk meloncat dan memeluk tubuh breyhan yang begitu tingi darinya. Begitu erat, bahkan brey sampai menunduk menyejajarkan keduanya.
"Aaaaarrrrkhhh! Lariiiiii!"
Namanya anak-anak, ada saja tingkah untuk membuyarkan moment uwwu mereka. Semua membubarkan diri, bahkan ada yang sampai menabrak tiang dan jatuh karenanya.
"Aduuuuh, atiiiit!"
__ADS_1