Huru Hara Cinta Sang Penguasa

Huru Hara Cinta Sang Penguasa
Part 48


__ADS_3

Breyhan saat itu seperti kucing diberi umpan cereal didepan matanya. Ia merekatkan tubuh ara hingga menghimpit pada dengan cara merengkuh pinggang mungil sang istri.


Ara mencoba tak gengsi lagi. Ia semakin kuat merangkul leher suami dan bahkan meloncat kedalam gendongannya saat itu juga, dan brey langsung menangkap dengan kedua tangannya.


Untung brey bisa melepas sepatu tanpa tangannya. Ia lantas membawa ara masuk kekamar mereka, bahkan ara juga sudah membuat suasananya remang begitu menggoda jiwa.


"Siapa yang ngajarin?"


"Ngga ada. Ara cuma malu kalau... Ehm _kalau..."


Cup...


Brey mengecup ara di keningnya.


Cup...


Mendarat ke hidungnya yang manis lalu ke pipi beberapa kali.

__ADS_1


Cup...


Kini kecupan itu mendarat ke bibir sang istri. Dan saag itu, ara sedikit membuka bibirnya memberi akses agar brey semakin mudah melancarkan aksinya.


Sembari terus bergerilya menyeimbangkan gerakan suaminya, ara perlahan membuka satu persatu kancing kemeja yang brey kenakan saat itu. Breyhan bergerak, mempercepat kemeja itu terbuka untuk ara.


Mereka melepaskan pangu tannya, dan kini saling menatap dan mengagumi keindahan tubuh masing-masing yang ada didepan mata.


Ara menuntun breyhan untuk duduk diranjang mereka, lalu ara duduk diatasnya. Kecupan kembali ia daratkan di bibir suami yang mulai sangat membuatnya terbiasa meski masih terus membuat getaran didalam dada.


Brey perlahan melepas pangutan ara darinya. Ia mengecupi pipi ara bertubi-tubi, lalu perlahan turun ke leher hingga ara menggeliat geli karenanya.


Breyhan melirik istrinya. Saat itu ara menggigit bibir dengan begitu gemasnya, dan brey tahu jika wajah ara pasti tengan begitu merah merona. "Ara yakin? Karena_" Ucapan brey terpotong dengan tatapan ara.


"Kata mama ngga papa, sakitnya cuma sebentar. Begitu kan?"


"Mana kakak tahu. Kakak baru akan mencobanya dengan ara," ucap breyhan padanya.

__ADS_1


Ara tertunduk, tapi breyhan dengan cepat kembali meraih dagunya. Mengecupkan kembali bibir itu, tapi kali ini lebih intens dan menuntut. Apalagi dengan satu tangan brey yang mulai lincah bermain dibagian sensitif ara.


Ara kalah. Untuk pertama kalinya ia mende sah saat itu, membuat brey begitu puas mendengarnya. Brey kemudian menidurkan tubuh ara dan merubah posiis untuk menguasai dirinya.


(Skip)


Ara tidur dengan amat pulas dan saat ini memunggungi brey meski masih berbantal tangan suaminya. Ia begitu pulas dan tampaknya benar-benar kelelahan saat ini akibat olahraga malam mereka yang membuat tubuhnya sakit semua.


Entah, besok pagi ia akan bisa bangun atau tidak dari tidurnya. Dan jika mendadak ia izin, pasti akan membuat ila terus mencecarnya dengan segala pertanyaan yang ada.


Brey perlahan melepas tangan dari bawah leher istrinya. Kemudian, ia kecup punggung polos ara dengan begitu mesranya. Rasa ingin mengulanginya lagi, tapi ia tahu ara masih sakit saat ini.


"Kakak mau kemana?" tanya ara yang mendadak terbangun karena kecupan dibahunya.


"Ngga kemana-mana. Hanya ingin mengambil laptop yang ada diruang kerja. Kenapa?" tanya brey sembari mengenakan celana pendeknya.


Ara membalik tubuh, meski sesekali merintih karena rasa perih di bagian pangkal paha dan diseluruh tubuhnya. Meski brey mengaku perlahan, tapi entah pelan bagaimana menurut brey hingga membuat tubuh istrinya lemah tak berdaya seperti itu.

__ADS_1


"Ara mau apa? Tidur aja dulu, kalau ara capek. Atau_"


"Atau apa?" tanya ara membulatkan mata, "Jangan dulu, ini masih sakit. Besok lagi aja," tolaknya bahkan sebelum brey meminta.


__ADS_2