
Ting! Suara itu pertanda lift sudah tiba ditempatnya.
Ara segera melepas genggaman breyhan darinya lalu menghampiri sherena yang ada didepan saat itu. Mereka keluar dan tak lupa membungkuk para bos perusahaan yang akan mereka masuki sebentar lagi.
Begitu juga brey. Ia segera berjalan keluar dan langsung saja menuju ruangan pribarinya. Ia benar-benar menjaga diri agar tak ikut campur dalam urusan sang istri saay ini. Ia menahan diri agar menjaga sikap ketika mereka bertemu meski kadang tak ingat waktu ingin segera memeluknya..
"Pak_" panggil sang sekretaris padanya. Ia masuk, tapi panggilannya tak kunjung di jawab oleh brey saat itu.
"Ya?" tatap breyhan padanya.
Kania memberikan beberapa berkas untuknya serta memberikan jadwal hari ini. Sean saat itu tengah ada di proyek, hingga tak dapat menemani brey kemanapun ia pergi.
"Anak magang juga sudah datang,"
"Ya, aku tahu..." jawab brey yang mulai mengenakan kacamatanya. Andai ara lihat, pasti ia akan terkesima ketika ketampanan suaminya menjadi berkali lipat dalam mode serius seperti ini.
Pintu diketuk. Dan benar saja, saat itu ara datang bersama sherena diantar staf untuk menemui calon bos mereka.
Ara seketika tertegun melihat penampilan suaminya didepan mata. Tatapan yang diberikan brey sangat serius dan penuh kharisma, tapi juga memperlihatkan sisi tegas pada semua karyawan yang ada disana. Serasa begitu beda ketika ada di Appertemn mereka dengan sikapnya yang begitu lembut dan terkesan manja.
"Masuk," ucap Brey dengan deep voicenya yang mendebarkan jiwa.
__ADS_1
"Pak, kami membawa Dua mahasiswi yang akan magang disini." Erwin datang dna segera memberi surat pengantar untuk bosnya.
Breyhan dengan amat profesional lalu membuka surat itu dan membacanya. Ia mengusap nama ara yang ada disana cukup lama, "Eheeemmm!" tegur kania padanya.
"Ya, mulai kapan kalian masuk?" tanya brey pada keduanya
"Tiga hari lagi... Pak," jawab ara gugup padanya.
Brey hanya mengangguk, kemudian mempersilahkan mereka membubarkan diri dan sampai bertemu beberapa hari lagi. Breyhan mengatupkan bibirnya, ia mengepalkan tangannya sendiri dengan begitu kuat dan menghela napasnya begitu panjang.
"Pokoknya, malam ini harus dapat." gumam Brey dalam hati.
Buugh! Seorang pria menabrak bahu ara saat itu. Begitu sakit hingga ara merintih kesakitan karenanya.
"Mas, kalau jalan lihat-lihat dong. Main tabrak aja," tegur she pada pria itu. Tapi bukannya minta maaf, pria itu justru terus melirik dan memperhatikan ara dari atas hingga kebawah dan tersenyum padanya.
"Anak magang?"
"Iya, kenapa?" sinis she yang mengusap bahu ara. Tapi pria itu tak menjawabnya lagi, hanya kembali tersenyum aneh lalu pergi dari hadapan mereka semua.
"Ih, apaan sih? Aneh tau ngga?" tukas she padanya. Ara menggenggem tangan sherena, melerai lalu segera mengajaknya pergi dari sana.
__ADS_1
Tugas mereka hari ini selesai. Ara hanya minta diantar pulang ke apartemen untuk mengistirahatkan diri dan membersihkan rumah barunya. Ara mulai menjalankan peran penuh sebagai seorang istri mulai hari ini.
Meski breyhan menawarkan seorang asisten rumah tangga, tapi ara masih menolak karena ia bisa sendiri melakukannya. Hanya sesekali memanggil tukang cuci dan layanan setrika karena ara masih kesulitan melakukan itu semua.
Perjalanan singkat untuk hari ini, yang tanpa terasa hari sudah semakin malam. Brey pamit lembur, dan ara terus menunggunya karena belum bisa tidur.
Ia sempat memejamkan mata tadi siang usai mendapat panggilan dari sang mama yang memberikan beberapa petuah untuk putri kesayangannya.
"Assalamualaikum," ucap Breyhan yang rupanya sudah datang dan masuk kedalam rumah mereka.
Ara yang mendengar suaranya seketika berdiri dan datang untuk menghampiri suaminya. Ia tersenyum, meraih tangan brey kemudian mengecupnya dengan begitu mesra sembari menjawab salam yang terucap.
Ada pemandangan indah yang terpampang di depan breyhan saat itu. Saat ara mengenakan sebuah baju tidur yang minim hingga memperlihatkan semua lekuk tubuhnya yang indah. Talinya juga tipis, yang mungkin bisa putus hanya dengan sekali tarikan tangan brey padanya.
"Ara sengaja?"
"Apa?" tanya ara yang langsung merangkulkan tangan di leher suaminya. Meski ia harus berjinjit menyesuaikan tubuh mereka.
"Itu, pakai ini."
"Kan dirumah, buat suami..." bisik ara dengan mesra ditelinga suaminya.
__ADS_1