
"Kakak mau kemana?" pekik Ila yang keluar kamar dan berlari menghampirinya. Brey begitu rapi dengan setelan kemeja dan celana bahan hitamnya, Ia semakin tampan dan berwibawa. Kadang Ila sampai lupa jika Breyhan adalah kakak kandungnya.
"Mau pergi, kenapa?"
"Kemana? Kok rapi banget?" Ila sampai berputar mengelilingi tubuh besar kakaknya itu, bahkan mengendus wangi maskulin yang menyeruak bahkan keseluruh ruangan itu.
"Ila... Ngapain sih? Nanti kakak telat,"
"Mencurigakan tapi! Ini udah malem, sebentar lagi makan malem kenapa harus pergi?" Ila makin cerewet, seperti anak kecil yang penuh curiga ketika akan ditinggal orang tuanya.
"Ya... Nanti kakak balik lagi, bawa tamu buat kita."
"Siapa?" Ila menyipitkan mata.
"Udah ih," Brey meraup wajah sang adik dengan tangan besarnya, hingga Ila sedikit mundur menjauh darinya.
Brey kemudian pergi, Ia berjalan dengan cepat menghindari serbuan pertanyaan dari sang adik yang masih saja mengikuti. Untuk Mami mencegahnya, hingga Ila berhenti seketika.
"Mau kemana?"
"Itu, Kak Brey."
__ADS_1
"Kakak kenapa, Sayang?" tanya Papi yang juga cukup rapi malam ini. Ila menoleh kanan kiri, Ia seperti orang yang paling tak tahu apa-apa dari mereka saat ini.
"Apa sih?" tanya Ila mengerenyitkan dahi.
"Ila sekarang rapikan diri aja, akan ada tamu istimewa buat kita malam ini."
"Tamu?" Tapi meski bingung, ara tetap berjalan untuk menuruti perintah Mami dan Papinya. Entah kenapa langkahnya bergerak spontan, kembali kekamar dan meraih sebuah pakaian terbaiknya.
Ara berdandan malam ini, Ia memakai dress terbaiknya agar tempak lebih feminim didepan breyhan. Wajahnya ia poles dengan make up tipis alakadarnya karena ia sudah tak memiliki alat lengkap saat ini. Ia saja meminjam catokan rambut pada tetangga kost agar lebih rapi dan indah karena Brey menyukai rambutnya yang terurai.
Pintu diketuk, padahal Ara tak mendengar suara mobilnya datang. Atau sangking fokusnya ara berbenah diri, ia sampai tak mendengar apapun disekitarnya. Ara langsung berdiri membukakan pintu untuk breyhan disana.
"Kak Brey?" tatap Ara malu-malu.
Ara hanya tertunduk sembari menyibak anak rambut yang turun maju kedepan.
"Kita langsung? Mami sudah menunggu."
"Mami tahu, Ara mau dateng? Terus tahu, kita mau ngomongin apa?" cecar ara dengan segala pertanyaan yang keluar dari bibirnya.
"Belum... Tapi Mami nunggu kita sekarang. Yuk," Brey mengulurkan tangannya. Ara yang gugup, lalu menyambut dan keluar dari kamar tak lupa menguncinya.
__ADS_1
"Eh tunggu!" ucap Ara menghentikan langkah keduanya. Rupanya tas ara tertinggal didalam, meski hanya formalitas dan tak ada isinya sama sekali.
Keduanya melakukan perjalanan. Wajah Brey mulai tampak sedikit tegang terlihat oleh Ara, begitu serius hingga Ia mulai mengajak bicara.
"Boleh, Ara minta sesuatu untuk pernikahan kita?"
"Apa? Rumah, mobil, atau..."
"Eng-engga, bukan itu. Tapi_..."
"Ya? Katakan saja,"
"Boleh ngga, kita tinggal dirumah sendiri?"
"Kamar terpisah?" tanya Brey.
"Kok tahu?" lirih Ara malu-malu. Ia tak enak hati, ketika Brey bahkan sudah tahu apa niat dan syaratnya untuk pernikahan itu.
"Ara hanya butuh mmepersiapkan diri hingga benar-benar siap menjalani peran sebagai istri. Tapi Ara janji, perlahan... Ara pasti menjalani kewajiban dengan baik seperti yang seharusnya," ucap Ara sembari terus memainkan jari-jarinya.
Apalagi Brey tampak semakin diam didepannya. Brey tak memberi ekpresi apa-apa padanya, dan Brey bahkan seakan tak ingin membuka mulutnya.
__ADS_1
"Apa kak Brey kecewa sama ara?"