
Hari yang ditunggu telah tiba. Hari pernikahan mereka berdua, yang akan dilangsungkan dengan sederhana.
Usai malam lamaran itu Brey dibawa sean pulang ke apartemen miliknya. Saat itu kedua sejoli itu serasa melakukan pingitan karena sama sekali tak boleh dipertemukan. Ara yang baru membuka hati, langsung merasa amat sepi tanpa kabar dari breyhan sama sekali.
Rumah mewah itu telah dihias dengan begitu indah. Ditaman belakang rumah telah dibuat tempat untuk ijab qabul keduanya.
Ara saat ini tengah dirias. Dengan kebaya putih dan mahkota mewah diatas kepala menambah cantik penampilannya hari ini. Jangan ditanya perasaan, karena begitu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
"Ara mau minum dulu ngga?"
"Ngga mau, nanti ara kebelet. Aduh, deg-degan banget." Ara terus saja memegangi dan mengelus dadanya saat ini.
Apalagi hari sudah semakin siang, pertanda sebentar lagi acara inti akan segera dimulai.
"Kakak aku ganteng banget," puji Ila yang mengintip kakaknya. Mereka sudah duduk dibawah, wajahnya juga tak kalah tegang dengan ara saat ini. Dan saat serius seperti itu, ketamapanan seakan bertambah berkali-kali lipat.
Suara langkah kaki terdengar memasuki ruangan itu. Tak lari, hanya saja langkahnya cukup cepat dan tak santai hingga tiba di kamar mereka.
__ADS_1
"Ara mana?"
"Apa, She? Ara udah siap nih, apa udah suruh turun?" tanya Ila yang mulai gelisah.
"Ah, belum..." jawab she dengan santai. Ia kemudian mengeluarkan Hp dan beberapa kali memotret sahabatnya itu.
"Eh, jangan dikirim ke kak brey loh." larang Ila, pamali katanya. Tapi lebih tepatnya agar brey semakin penasaran dengan mempelai cantiknya hari ini.
Ila kemudian menarik sherena, ia mengajak mereka bertiga untuk foto bersama. Bahkan saling ledek siapa setelah ini yang mendapat giliran untuk menikah secepatnya.
"Ya kamu, sana." ucap Ila pada she dengan tawanya. Mereka hanya saling melempar ledekan disela galaunya ara saat ini. Dan mereka kembali diam seketika setelah mendengar dengusan napas kasar ara.
"Iya, maaf." kompak mereka berdua.
Hingga tante Diana muncul. Ia adalah istri Om gibran, dan ia datang meminta ara segera turun kebawah untuk prosesi selanjutnya.
Semakin gemetar tubuh ara, tapi ia berusaha untuk tetap bisa melangkah anggun didepan calon suami yang sudah menunggunya disana.
__ADS_1
Langkah demi langkah membawa ara turun kebawah, hingga sedikit keluar menuju ke taman dan membawanya menuju pada Breyhan yang sudah duduk didepan penghulu yang akan menikahkan keduanya. Papa Reza disana, Ia yang akan menjabat tangan Breyhan saat itu sementara Video call bersama Papa Ara terus menyala.
"Andai ingin lihat putri anda, Tuan?" tawar Om Gibran pada Papa Johan. Kemudian kamera diarahkan pada ara yang berjalan menuju altarnya.
"Ya Allah, Anakku." haru Mama dari sana, yang bahkan menyesal tak dapat hadir dalam pernikahan putri semata wayangnya.
Tak hanya mama dan Papa yang sedih, Mami Papi juga begitu terharu dalam moment kali ini.
"Mami bentar lagi punya cucu," tangisnya saat itu.
"Baru mantu, Mi. Cucunya masih lama," elus papi dibahunya.
"Bisa dipercepat ngga?" celetuk Mami, dan bibirnya langsung disentil papi saat itu juga. Untung saja tak spontan berteriak ditengah keramaian yang ada.
Brey kemudian berdiri, tatapan matanya begitu fokus pada sang calon istri dan seakan tak bisa berkedip sama sekali saat ini. Bibirnya seakan terkunci, bahkan begitu sulit hanya untuk memuji.
"Masya allah, cantiknya..."
__ADS_1
"Hey... Itu istrku!" sergah Brey, ketika Sean nyeletuk dengan ucapan yang seharusnya ia katakan saat itu.
"Aku mewakili kamu loh ini," kilah Sean padanya.