
Mereka pulang cepat di akhir pekan ini. Brey menunggu suasana sepi, dan mendatangi sang istri memeluknya dari belakang dengan kecupan bertubi-tubi. Sontak ara kegelian karena semua kelakuan sang suami yang menyerang pipi, ceruk leher hingga bahunya.
"Hssstt! Ngga boleh..." Ara berusaha keras untuk menolak semuanya.
"Kau belum pulang?"
"Tunggu she, dia lagi ada urusan bentar."
"Suasana sepi, pulang barenga aja." Brey terus berbisik dan sesekali bibir nakalnya menggigiti telinga ara. Memang tampaknya brey yang tak bisa menahan gelora dan gelombang cinta yang sering tiba-tiba datang mengetuk hasratnya..
"Yaudah, ara telepon she dulu." Ara meraih hp lalu menelpon sepupunya itu. Ia tengah melakukan sebuah waeancara untuk tugasnya dengan seorang manager personalia saat ini..
"Iya," jawab ara yang kemudian menutup teleponnya.
"Apa yang iya?"
"Iya, ara pulang sama kakak. Tapi, ara keluar duluan deh. Nanti kita ketemu dipersimpangan sana," ucap ara yang kemudian menyandang tasnya. Tak lupa dengan boneka yang ia dapat barusan, tapi ia belum sempat menjelaskan itu pada breyhan karena serangan yang terus diberikan..
Brey turun, ia disapa oleh beberapa anak buah lain selama perjalanannya. Hingga akhirnya mereka berpisah menuju kendaraan masing-masing dan pulang. Saat itu brey mencari celah, agar mereka semua tak melihatnya ketika berhenti didepan ara.
__ADS_1
Akan tetapi, brey keduluan seseorang yang saat itu tengah menyapa istrinya. Mungkin mereka menawarkan tumpangan karena kasihan ara sendirian disana. "Aaah, menyebalkan... Seperti ini punya istri cantik, yang pasti akan selalu digoda bawahan." cicit brey yang memperhatikan mereka dari tempatnya.
Tampak pula ara membalas keramahan itu dengan senyumnya, begitu tulus tapi brey seakan tak pernah ingin membagi senyum manis itu pada siapapun. Apalagi, ia adalah pria yang tampak begitu perhatian pada istrinya.
"Yaudah kalau begitu, hati-hati ya," pamit pria itu padanya, yang tak lain ada salah seorang staf senior di kantor.
Brey segera menghampiri, lalu memasang wajah cemburu dan bibir mengerucut ketika sampai didepan sang istri. Membuat ara mengerenyitkan dahi, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
"Ara sering digodain begitu?".
"Loh, kan ara sering bilang kalau di kantor banyak yang godain ara. Ara udah jujur loh." Jawaban itu sontak membuat breyhan semakin mengerucutkan bibirnya.
"Apa?" tanya ara pura-pura tak mengerti.
Brey tak menjawab. Ia hanya melonggarkan dasi dan bergerak sedikit seperti tengah meregangkan ototnya saat ini seperti tengah melakukan sebuah persiapan. Entah persiapan apa, ara saja melihatnya dengan penuh tanda tanya.
Hingga keduanya tiba di appartement. Brey membukakan pintu untuk ara dan menggandengnya naik kerumah mereka. Seakan tak sabar, brey langsung memeluk ara dari belakang dan terus mengecupi bagian belakangnya bertubi-tubi.
"Sebentar," ringis ara yang mulai merasakan sebuah sentruman ditubuhnya. Bahkan sesekali mendongakan kepala membuang napas untuk tak mende sah akibat kelakuan suaminya.
__ADS_1
Kreeek! Pintu dibuka, dan ara bahkan tak sempat untuk menyalakan lampu ketika brey mengangkat tubuhnya.
"Kakak!" pekik indah ara ditelinga breyhan. Yang bukan membuatnya berhenti, melainkan membuatnya semakin ganas memberikan serangan demi serangan indahnya pada sang istri.
Mereka berdua bahkan tak sempat ke kemar lagi, dan saat itu sofa besar mereka menjadi sasaran pelampiasan untuk keduanya berpacu dalam hangatnya cinta yang mereka rasakan.
Ara baru sekali ini melakukannya disana. Terasa lebih memabukkan dengan beragam posisi baru yang ia coba, dan begitu terasa panas dirinya ketika brey memenuhi dirinya dengan posisi duduk disofa mengangkat kedua kakinya. Memekik, menge rang dan mende sah hingga akhirnya mereka terbang bersama menuju cakrawala yang indah.
"Malam minggu, kencan yuk?" ajak brey yang duduk bersimbah peluh membelai lelah sang istri.
"Kemana?"
"Kemanapun ara suka. Asal jangan mendadak ajak jenguk papa mama karena jauh."
"Yaaah, padahal kangen." Ara mengerucutkan bibirnya.
"Besok, selesai magang kita cuti beberapa hari."
"Janji?" tatap ara dengan penuh harap, apalagi ketika breyhan menganggukkan kepala untuk memberi jawaban padanya.
__ADS_1
Ara dengan sigap bersemangat, lalu berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap kencan malam ini. Entah kemana, yang penting bisa jalan berdua dengan sang suami karena waktu yang begitu sulit ia dapat saat ini.