I Am The Queen

I Am The Queen
#10.


__ADS_3

"Hah ??!  Apa yang terjadi ?? Kenapa gumpalan awan yang tadi berwarna hitam pekat, malah berubah menjadi warna putih orange cerah seperti di sore hari ? Apakah Aku sedang berhalusinasi ? " Lagi dan lagi, Clara bertanya pada diri sendiri sambil menatap ke arah langit dan awan.


Clara menatap nya dengan rasa bingung dan sedikit takut, karena berpikir mungkin diri nya sudah mati dan berada di alam lain. Padahal baru beberapa saat yang lalu, Clara memiliki keinginan untuk balas dendam. Jadi kalo langsung pindah alam, itu tidak lucu Bestie (๑•̀д•́๑)


Dan... Di tengah kebingungan dan rasa ketakutan Clara yang bercampur aduk menjadi satu, bola mata Clara menangkap sesuatu yang baru pertama kali Dia lihat seumur hidup.


"Apakah itu manusia ?" Gumam nya, karena dari gumpalan awan putih bercampur orange itu, muncul seorang pria dengan kain putih berhias benang emas, yang menutup hanya dari pinggang sampai ke bawah. Sedangkan bagian atas tubuh nya tidak terdapat sehelai benang pun, sehingga otot tubuh nya terekspos dengan sangat sempurna.



Rambut keemasan yang tak terdapat di kehidupan manusia normal, mahkota yang terpatri di kepala nya, semua aksesoris yang ada pada tubuh pria itu tampak sangat berbeda. Bahkan untuk menyebutnya sebagai manusia saja,  serasa enggan karena ciri ciri nya terlalu sempurna.



Wajah nya benar benar sangat tampan, atau mungkin kata tampan belum dapat mendeskripsikan wajah pria itu.


Saat pria itu semakin dekat dengan Clara, warna rambut emas nya berubah menjadi warna putih keemasan dan memendek, di tangan nya terpatri sebuah alat musik, yang Clara juga tak tau apa alat musik itu. Clara terus melihat ke arah pria itu dengan saksama karena rasa penasaran nya.


Clara hanya ingin tau, siapa sosok yang ada di depan nya saat ini. Karena jika tidak, maka yany bisa Clara lakukan hanya lah menatap sosok itu dengan sangat intens.


"Apakah Aku setampan itu, sampai Kamu tidak memalingkan pandangan Mu dari wajah Ku ini ?"


Dengan suara yang sangat merdu dan dengan halus nya masuk ke telinga, membuat pertanyaan yang di lontarkan nya itu tak bisa di jawab langsung oleh Clara, dan malah di jawab oleh orang lain.


"Ckck... “ Mendecakkan lidah. “Apakah Kamu tak bosan mengatakan hal yang sama saat bertemu dengan setiap Gadis polos Gali ?"

__ADS_1



Ucap seorang perempuan yang saat ini sedang berada di samping Clara, dengan laut di belakang nya, dan petir yang sedang berputar di telapak tangan , serta kilatan petir bertenaga kecil di langit belakang sebagai backroud.


“Sejak kapan ada wanita ini di samping Ku ? Dan sejak kapan ada laut di dekatnya ? Tunggu, apakah Aku sedang berhalusinasi?”


Dengan sangat bingung, Clara bermonolog dengan diri nya sendiri, sampai menimbulkan perempatan di kening nya.


Saat Clara baru saja habis bergumam, wanita yang tiba tiba ada di sebelah nya itu berubah dan menampakkan wajah nya lebih jelas lagi, dengan mahkota unik yang terpatri di atas kepala nya.



"Hei Gisel, mau sampai kapan Kamu akan menceramahi Gali ? Apakah kamu tak kunjung lelah ? Aku yang mendengar nya saja sampai hafal setiap kata, bahkan irama yang kamu lontarkan."


Sambung seorang wanita lagi, yang saat ini baru turun dari gumpalan awan dengan tarian ?? Tarian atau balet ? Entah lah, Author juga rada gak tau   ( ͡°❥ ͡°).



Dan Clara pun melihat betapa cantik nya wanita yang dia lihat saat ini. Walaupun tak ada mahkota di kepala nya seperti Gali dan Gisel, tapi di sekujur rambut dan tubuh nya, bertebaran serbuk awan, bukan serbuk bunga kering dan sejenis nya.



"Gres benar banget Gisel, sampai kapan Kamu akan menceramahi dan mengomeli Ku seperti anak kecil?" Protes Gali sambil menatap Gisel dengan tatapan tak terima.


"Dan kamu Gali, sampai  kapan kamu akan terus berlagak paling tampan di dunia ini ? Dan lagi, tingkat kepedean diri Mu itu sudah jadi penyakit yang tak bisa di sembukan lagi." Sambung Gres lagi, karena pada dasar nya Gres tak pernah memihak satu di antara ke dua sahabat nya itu.

__ADS_1


"Hahaha, lihatlah pria bodoh ini.. Kamu beranggapan bahwa Gres akan membela Mu ? Hmpt, mimpi." Dengan nada tertawa yang sangat renyah di pendengaran, Gisel mengejek Gali yang sudah merasa akan di bela oleh Gres.


"KAMU....!!! " Karena tak terima dengan ejekan Gisel, Gali mengepal tangan nya sekuat tenaga, sambil menatap Gisel dengan tatapan menantang.


"IYAA AKU, KENAPA ? MAU BERANTEM LAGI KAYA TADI ?? AYOK." sambung Gisel tak gentar sedikit pun.


"HENTIKAN!" Kata Gres menengahi, karena Gres tak mau ada pertengkaran di antara sahabat nya, untuk beberapa jam saja. Karena Gres sangat ingin mendapatkan ketenangan, benar benar hanya menginginkan ketenangan untuk sesaat.


"KENAPA GRES ? "


Sambil menoleh ke arah Gres dengan kecepatan tinggi, Gali dan Gisel bertanya secara kompak. Masuk akal memang, Karena mereka belum puas berkelahi tadi.


Padahal Gali dan Gisel jarang berada di satu jalur pemikiran. Tapi kali ini, mereka berdua secata tak sadar mengambil sisi yang sama, karena ini menyangkut rasa puas mereka belum terpenuhi saat berkelahi tadi.


"AKU TAU KALIAN BERDUA BELUM PUAS BERKELAHI, KARENA BARU SATU JAM. TAPI SEBAIK NYA KALIAN BERDUA HENTIKAN." Tegas Gres dengan intonasi suara yang sudah berbeda.


"................ "


"................. "


Gali dan Gisel menatap mata Gres dengan tatapan kesal, bingung, dan butuh penjelasan. Karena dari awal persahabatan mereka terjalin, sudah di sepakati jika terjadi perkelahian, maka dapat bertarung dalam jangka waktu lima jam saja. Tidak boleh kurang, apalagi lebih.


Namun kenapa sekarang Gres menghentikan mereka berdua ? Itulah yang membuat Gali dan Gisel merasa ada yang tak beres dengan otak Gres.


"HAAAHH “ Gres Menghembuskan nafas panjang, dan berkata “ ALASAN PERTAMA, GALI LIHAT LAH TANGAN MU. TANGAN MU SUDAH BERDARAH KARENA MEMAINKAN ALAT MUSIK DENGAN MELODI YANG SANGAT SUSAH DAN MEMAKAN BANYAK TENAGA." Ucap Gres memberikan alasan pertama Sambil menunjuk tangan gali.

__ADS_1


Gali yang sadar tangan nya yang berdarah sedang di adili, langsung dengan cepat menyembunyikan nya ke belakang, seperti anak kecil yang ketahuan bermain lumpur saat hujan tengah turun.


Melihat respon Gali yang baru bertindak setelah di adili membuat Gres menggelengkan kepala nya sambil berkata,  "Tak usah Kamu sembunyikan ke belakang Gali, Aku sudah melihat nya." Ucap Gres dengan ujung mata nya yang hanya tertuju pada sang biang kerok berjenis kelamin laki laki itu.


__ADS_2