
Langit terus bergemuruh, dan langsung di ikuti oleh sambaran kilat yang terus turun. Sahut menyahut bagaikan sedang melantunkan paduan suara, tapi dengan melodi yang berbeda dan cukup ekstrem.
...*CTAAAAAAARRRRR.....* ...
...*CTAAAAAAARRRRR..... * ...
...*CTAAAAAAARRRRR..... * ...
...*CTAAAAAAAAAARRRRR...* ...
Kilat terus turun, layak nya sedang mencambuk tempat tujuan nya karena punya dendam pribadi. Lalu karena eksistensi kilatan tadi sangat besar, sehingga mengubah awan yang berwarna putih kehitaman tadi menjadi warna hitam keunguan.
Di tengah suara bising nya gemuruh langit dan kilat yang terus menyambar, seakan belum cukup dengan keributan itu saja, kini langit pun menurunkan air nya setetes demi setetes, dan akhirnya menjadi hujan deras.
Lengkaplah sudah fenomena alam malam ini. Warna langit yang kadang berkelap-kelip karena kilat, lalu kilat dengan kekuatan yang besar terus turun, suara guntur yang terdengar sangat mengerikan, dan suara air hujan yang semakin deras dan semakin menjadi.
Suasana dingin dan mencekam sudah pasti menyelimuti kawasan hutan Kematian yang amat luas itu.
__ADS_1
Lalu, di tengah keributan itu semua, terdapat seorang gadis yang meringis kesakitan, dan merangkak dengan tangan nya agar dapat keluar dari hutan yang menyeramkan itu. Setidak nya gadis itu sedang menuju jalan tol yang berjarak 200 meter dari pandangan nya.
Gadis itu juga dapat mengetahui bahwa Ia sedang mengarah ke jalan tol, berkat langit yang tadi mendadak menjadi terang dan membuat penglihatan Clara dapat menangkap dengan cepat ke mana arah menuju jalan tol.
"Ugghhh..."Keluh Clara menahan segala rasa sakit di tubuh nya.
Entah itu karena banyak nya luka cambukan dan sayatan yang baru di dapat tubuh nya, atau memar di semua badan karena di tendang dan di lempari dengan benda padat, semua nya bercampur menjadi satu.
Satu hal yang tak bisa Dia rasakan, yaitu kaki nya. Seakan mati rasa atau memang sudah di hancurkan oleh sahabat dan tunangan nya, sehingga saat ini Clara hanya bisa bergerak dengan bantuan tangan nya.
Bergeser sedikit demi sedikit seperti suster ngesot, Clara benar benar bernasib sial kali ini. Memang semua anggota tubuh Clara kali ini terasa sangat sakit, apalagi terkena air hujan yang menambah kepedihan. Tapi entah kenapa, sesuatu dari lubuk hati nya seakan di remas dan di remukkan, sehingga rasa sakit nya lebih mendominasi dari pada luka yang menimbul kan darah.
"Cuihh...." Dengan sangat jengkel, Clara pun meludah dengan emosi yang sudah kembali menguasai pikiran nya.
"Aku sungguh bodoh ya... Bisa bisanya Aku mempercayai manusia busuk dan munafik itu, yang membuat Aku sampai jadi begini." Clara mulai mengumpat lagi. Karena sudah kesal tak kunjung sampai di jalan tol yang sempat Dia lihat tadi.
Clara pun kembali merutuki diri nya, dan saat dia tengah berusaha memenuhi pikiran nya agar tidak kosong, Clara pun lagi lagi berdecak tawa karena ulah pikiran nya sendiri.
"Hikssss... Hahaha... Hahaha... Benar benar lucu. Aku benar benar merasa konyol dengan pikiran yang terlintas di benak Ku dua detik yang lalu." Ucap nya sambil menengadah ke atas, dengan satu tangan yang menyapu anak rambut nya.
"BALAS DENDAM ??? Hahaha... Hahaha, Aku tak bisa menahan tawa untuk yang satu ini, sungguh. Jangan kan balas dendam, cara berkelahi saja Aku tak tahu."
Celetuk Clara pada diri nya sendiri dengan suara berteriak, karena tak ada yang dapat mendengar suara nya yang penuh umpatan juga kan ?
__ADS_1
Di tambah dengan suara petir, guntur, dan tetesan air hujan yang deras, mau setajam apa pun pendengar seseorang, mustahil dapat mendengar umpatan yang keluar dari mulut Clara.
"Bagaimana Aku bisa balas dendam dengan kaki yang sudah tak berfungsi lagi? Ah... Sekalipun kaki Ku masih berfungsi, apa yang bisa Aku lakukan ? Pergi ke hadapan Sonya dan Jodi untuk menyerahkan diri, agar langsung di bunuh dan di makamkan di makam keluarga ? Itu pun kalau mereka bersedia. Tapi bagaimana kalo setelah Aku mati, dan mereka berdua malah menyuruh para pengawal untuk membuang jenazah Ku di kandang binatang buas?"
Sambil mengusap wajah nya dengan kasar karena penuh dengan air hujan, Clara bermonolog dengan diri nya sendiri. Clara sudah mati rasa akan luka yang didapati di wajah nya.
"...." Clara pun terdiam sesaat. Keheningan untuk diri nya sendiri, seolah tidak mempedulikan fenomena alam malam ini. Kemudian, Clara menggigit ujung bibir nya dengan sekuat tenaga, dan berteriak...
"SUNGGUH.... AKU TAK AKAN PERNAH PERGI DAN MEMOHON PADA DUA MANUSIA SAMPAH ITU. KALAU AKU MENDAPAT SEDIKIT KEAJAIBAN SAJA, APAKAH AKU BISA MEMBALASKAN DENDAM INI ? UGH.... AKU BERSUMPAH, JIKA KEAJAIBAN ITU TERJADI, MAKA AKU AKAN MEMBUAT HIDUP SONYA DAN JODI BENAR BENAR MENDERITA. SAMPAI MEREKA BERDUA MERASA KAN SAKIT DAN PENDERITAAN YANG AKU RASAKAN SAAT INI. "
Dengan benak yang dipenuhi akan emosi, Clara seakan bersumpah pada diri nya, dan alam di sekitar. Clara bahkan tak ada niatan untuk menarik kembali perkataan yang telah dia keluarkan dengan mimik wajah yang belum pernah Clara tampilkan selama ini.
Saat Clara sedang mengumpat meluapkan kekesalan nya, seketika Clara langsung mematung dan terdiam. Karena ada sesuatu yang sangat ganjil di rasa nya.
"Hujan nya berhenti ?" Spontan Clara langsung menengadahkan kepala nya ke langit, dengan beberapa pernyataan yang keluar begitu saja dari mulur nya.
Semua kondisi tubuh Clara masih sama saja, perbedaan nya saat ini langit sudah tidak bergemuruh lagi, petir tak menyambar lagi, bahkan hujan yang sangat amat deras tadi berhenti bagaikan waktu yang berhenti berjalan.
“Tidak mungkin... Aku pernah membaca dan memahami beberapa materi, jika terjadi gemuruh , petir, dan hujan secara bersamaan, maka fenomena ini akan berlangsung selama lima jam. Tapi bukankah semua fenomena ini baru terjadi sekitar satu jam yang lalu ?" Pikir Clara.
"Apakah ada kekeliruan pada materi yang ku baca ? Atau fenomena ini adalah fenomena terbaru ??” Clara terus berpikir, bertanya sendiri lalu di jawab sendiri pula oleh benak nya.
Benar benar seperti saat sedang memikirkan rumus yang akan di pakai saat mengerjakan ujian fisika. Karena rumus yang terdapat di dalam nya sangat banyak dan beraneka ragam.
__ADS_1
Saking fokus nya memikirkan, Clara sampai lupa bahwa tadi dia sedang menangis, meratapi, dan mengutuk nasib nya.
"Hah ??! Apa yang terjadi ?? Kenapa gumpalan awan yang tadi berwarna hitam pekat, malah berubah menjadi warna putih orange cerah seperti di sore hari ? Apakah Aku sedang berhalusinasi ? "