I Am The Queen

I Am The Queen
#19.


__ADS_3

Entah karena terlalu bersemangat, atau karena kekuatan tiga Semi Dewa Dewi yang belum menyerap sempurna, sehingga membuat Clara sendiri kesusahan dalam mengkntrol detak jantung nya yang berdebar kencang.


Saking berdebar nya, membuat darah yang di pompa semakin banyak, dan Clara mulai kesulitan dalam menarik nafas.


"Ah.. Mereka sudah mau pulang yaah.. Bagus sih, tapi entah kenapa... Aku tak mau kehilangan mereka, ada yang salah dengan perasaan ku. Sadarlah Clara, mereka sudah sangat amat banyak memberi pertolongan, jangan membuat nya semakin rumit. Ka- "


*Sruukk.. *


Batin Clara seketika terhenti, karena Gres langsung memeluk nya. Gres yang lebih tinggi dari Clara pun, membuat kepala Clara hanya bisa bersandar di dada nya.


"Jangan panik sayang. Aku tau kamu kuat, jelas.. Hanya beberapa orang saja yang bisa bertahan setelah melewati cobaan yang menimpah kamu ini. Jadi jangan takut yah, " dengan nada yang lembut, Gres menasehati Clara seperti sosok kakak yang sangat sayang dan pengertian pada adik nya, sambil mengusap puncak kepala Clara.


"I know.. But.. Aku tak mau berpisah dengan Mu, walaupun baru bertemu beberapa jam yang lalu, Aku sudah nyaman sama Kamu. Perasaan ini... Ugghh... " Clara mulai membenamkan wajah nya di dada Gres. Dia tak mau menangis, karena tak mau membasahi baju Gres, dan karena Clara tak mau tampil lemah lemah amat di depan Gres.


"Astaga.. Kenapa kamu manja sekali ? Dengar yah, Kita memang tak berada di tempat yang sama, tapi Aku akan selalu melihat Mu dari tempat yang berbeda itu. "


"Kenapa kamu ingin melihat Ku dari tempat yang berbeda ? Apakah Kamu tidak suka berapa di sini bersama dengan Ku ?" Kali ini Clara menengadahkan kepala nya ke atas, sehingga Netra hitam nya bertatapan langsung dengan Gres yang sedang menunduk itu.


"Bukan sayang, seandainya bisa maka Aku akan tinggal dengan Mu. Tapi itu akan melanggar hukum kasual yang telah di tentukan sejak awal. Akan ada bencana besar yang terjadi, jika Kami para Semi Dewa Dewi maupun Dewa Dewi melanggar peraturan yang ada. Sampai sini paham kan ? " Berusaha memberikan penjelasan yang tak akan melukai perasaan Clara, Gres memegang ke dua pipi Clara yang cabi sambil menatap serius.


"Hehehe.. Paham kok, kak Gres benar benar paket komplit deh. " Dengan tawa renyah Clara merespon penjelasan Gres yang tadi.


"Paket komplit ? Maksud nya ? " Dengan beberapa persen rasa penasaran, Gres bertanya pada Clara.


"Udah cantik, kuat, punya kekuatan yang sangat besar, bisa menempatkan diri di beberapa tempat dan posisi, dan lain lain. Jadi cocok banget sama sebutan paket komplit. " Puji Clara yang sudah tak terlalu sedih atau takut kehilangan, karena sudah cukup dengan pelukan Gres tadi.

__ADS_1


*Tak* Bunyi sentilan jari Gres pada kening Clara.


"Aaauuu..... Sakitt...!! " Sambil menggembungkan pipi ya, Clara mengeluh dan terus menggosok tempat Gres mengentilnya itu.


"Terserah Kamu, tapi Aku yakin Kamu itu lebih kuat dari Aku kok ! "


"Yah, walaupun Aku tau itu hanya kalimat penghibur dan untuk menambah semangat saja, tapi terimakasih sudah mau membuat Ku bahagia dengan perkataan yang sederhana itu. " Clara tak bisa mempercayai kalimat Gres begitu saja, tapi tak apa bukan? Toh Dia akan mengetahui kekuatan nya sendiri kelak.


"Fyyuuhh.. " Gres yang tak mau menjelaskan lebih dalam lagi akhirnya menghembuskan nafas panjang, dan terus mengusap puncak kepala Clara sampai rambut nya benar benar berantakan.


"Jaga diri Kamu ya sayang, Aku menunggu kesepakatan yang telah Kita setujui. "


Badan Gres seketika melayang dari tanah beberapa senti, karena Gali dan Gisel yang sedari tadi hanya berkelahi semenjak di beri kode oleh Gres, sehingga tidak memperhatikan obrolan Gres dan Clara. Alhasil, sekarang pun mereka berdua panik dan memeluk Clara singkat lalu badan mereka ikut melayang seperti Gres.


"Tapi entah kenapa, Aku rasa saat ini Kamu akan selalu mendapatkan pertolongan mulai detik ini. Aku sangat yakin akan insting Ku kali ini. " Suara bisikan dari Gres, yang di sampaikan oleh beberapa serpihan awan.


"KAK GRES..... APAKAH AKU JUGA DAPAT MENGGUNAKAN SERPIHAN AWAN ? " Teriak Clara sekencang kencang nya.


"............. "


Tak ada jawaban, mungkin sudah tak terdengar lagi, karena perbedaan ketinggian membuat gelombang suara tak sampai di pendengaran ketiga Semi S


Dewa Dewi itu.


"Apakah Aku coba sekarang saja ? " Clara bermonolog dengan diri nya sendiri, mengangkat tangan nya, lalu mulai memikirkan tentang serpihan awan.

__ADS_1


"Ah tunggu, apakah saat Aku selesai menggunakan kekuatan penyembuh atau serpihan awan, Aku akan ngos ngosan seperti tadi ? Ihh, amit amit... Mending pergi ke jalan tol aja deh, siapa tau ada kendaraan yang lewat. " Setelah berpikir panjang, dan tak mau mengambil resiko yang berdampak pada tubuh nya kali ini, Clara pun tak jadi menggunakan serpihan awan.


Dia sendiri saat ini, tak ada lagi Gres, Gisel dan Gali. Sehingga jika Dia ngos ngosan seperti tadi, siapa yang akan menolong nya ? Memang Clara tidak takut jika diri nya beristirahat di hutan kematian ini, karena untuk saat ini, hutan kematian tifak semenakutkan yang terlihat.


***


Lalu saat ketiga Semi Dewa Dewi itu menghilang di antara awan awan, warna langit yang tadi seperti sore hari yang hangat dan indah karena berbagai warna menyatu, kini berubah menjadi langit malam yang hitam dan pekat seperti malam biasa nya.


Ah, perbedaan nya hanya satu. Banyak sekali taburan bintang di langit, ratusan, ribuan, jutaan, miliaran, dan triliunan yang menghiasi langit.


Sehingga jalan yang dipijak oleh Clara tidak tersandung sedikit pun, lantaran sinar dari banyak nya bintang yang bersinar sudah seperti lampu bagi nya.


Clara sempat menengok langit malam dengan taburan bintang itu, Dia terpaku pada keindahan langit malam ini hingga lima menit lama nya kepala Clara hanya menengadah ke atas.




".......... " Clara masih diam seribu bahasa, karena pemandangan langit malam ini adalah yang pertama kali dia lihat yang paling indah.


Sehingga Clara tak melanjutkan perjalan nya yang tinggal beberapa langkah sudah sampai di jalan tol. Lalu di tengah Clara sedang menikmati keindahan langit dengan senyuman tulus, netra nya melihat sesuatu yang sangat langkah.



Ya, bintang jatuh.

__ADS_1


Sangat langkah ? Entahlah bagi orang lain, inti nya bintang jatuh sangat amat langkah bagi Clara. Karena terakhir kali Clara melihat bintang jatuh adalah saat berumur enam tahun.


__ADS_2