
Lalu karena mengingat perkataan Detrian yang menyatakan bahwa hari ini Clara akan melatih kekuatan fisik dan otot, Clara memutuskan untuk mengikat rambut nya seperti ekor kuda.
Sedangkan beberapa helai rambut yang masih pendek dan tak bisa di satukan untuk di ikat, Clara biarkan saja dan terlihat seperti guntingan poni.
Clara yang merasa sudah cukup dengan tampilan seperti ini langsung memakai sepatu apa saja yang terlihat rata dan nyaman.
Clara Langsung keluar dari kamar tanpa mengenakan make up atau sejenisnya, karena warna bibir nya yang seperti bunga sakura, garis alis mata yang tersusun rapi seperti di warnai dengan pensil alis padahal tidak, Dan warna netra yang berupa Coklat tua, yang akan nampak sangat terang jika terkena cahaya, sudah menjadi satu aset lengkap tanpa mengenakan make up.
"Aku sudah selesai. Sekarang antar kan Aku ke meja makan, karena sudah lewat sepuluh menit semenjak kedatangan kalian. Kasian Detrian yang menunggu lama. " Ujar Clara yang mata nya baru saja memindai jam yang tergantung di dinding.
"Ba.. Baik.. Akan saya antar kan."
Satu pelayan langsung berdiri di hadapan Clara untuk menuntun jalan, sedangkan tiga lain nya berjalan di belakang Clara sambil berbisik.
"Sungguh Nona Clara cantik sekali... "
"Tanpa berdandan saja sudah secantik itu, apalagi di dandan dengan ketrampilan kita ini... Pasti Dia akan terlihat seperti bidadari. "
"Kau benar. Mari kira berdoa dengan sungguh sungguh, agar akan ada kesempatan di mana kita bisa mendadani Nona Clara."
Ke tiga pelayan di belakang itu berbisik dengan sangat pelan, bahkan pelayan yang sedang menuntun jalan saja tidak mendengar.
__ADS_1
Namun Clara dapat mendengar semua nya dengan jelas, seperti mereka bertiga sedang berbisik dengan volume suara yang cukup besar.
Memang di beberapa kesempatan pendengaran ini sangat berguna untuk Clara, tetapi tidak dengan momen dan tema yang seperti ini. Clara yang jarang di puji dan di komentari dengan jujur seperti itupun berusaha sekuat tenaga agar semburat merah merona tidak nampak di wajah nya.
Selang beberapa menit, sebuah pintu besar di buka oleh dua pria yang mengenakan baju seorang prajurit dengan ciri khas kerajaan Roman, dan pelayan yang lain tidak ikut masuk ke dalam, Hanya Clara saja.
Saat Clara baru masuk ke ruangan itu, netra nya langsung melihat Detrian yang sedang mengenakan kaca mata dengan kemeja putih lengan panjang, sedang menunggu nya sambil menatap buah apel yang ada di depan nya. Sebagai informasi tambahan, Detrian adalah pecinta buah apel.
"Selamat pagi. Maaf membuat Mu menunggu lama... " Tanpa berlama lama, Clara langsung duduk di sebuah kursi kayu dengan banyak nya ukiran dan membentangkan kain putih kecil di pangkuan nya, agar jika ada remah remah makanan yang jatuh, tidak mengotori celana nya.
"Menunggu lama ? Aku rasa baru kali ini ada perempuan yang bersiap dalam waktu sepuluh menit. Padahal biasa nya lebih dari itu loh." Sambil ikut membentangkan kain di pangkuan nya, Detrian menjawab perkataan Clara tadi.
"Tidak, Aku hanya menonton dari Drakor saja. Tapi menurut logika Ku, perempuan kalo make up itu lama loh. Karena banyak sekali jenis make up yang di taruh di wajah mereka, mungkin make up Kamu tidak ketebalan, jadi berdandan nya cepat sekali. "
Sambil mengangkat gelas jus untuk di minum, Detrian menjelaskan logika nya tentang make up perempuan. Padahal dia sendiri juga tak yakin dengan jawaban nya, maklum.. Jomblo dari lahir soal nya.
"Aku tidak make up sama sekali Detrian. Hanya mandi, membasuh muka dengan sabun yang sama, lalu di bilas dengan air. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang." Jawab Clara sambil memakan roti tawar yang sudah di olesi dengan selai coklat.
"Puuuuuuuffffff" Detrian menyemburkan jus yang baru saja Dia minum saat mendengar jawaban dari Clara.
__ADS_1
"Wow.. Kekuatan semburan Mu seperti ikan paus ya. Lihat lah, roti tawar yang di hidang kan di atas meja sudah penuh dengan semburan jus surgawi Mu. Sungguh luar biasa, " sambil terus mengunyah roti yang sudah di olesi selai tadi, Clara berkomentar dengan wajah datar tanpa menunjukkan rasa jijik atau sebagainya. Karena berpikir kalau Detrian itu keselek, jadi wajar jika Detrian menyemburkan jus nya.
"Ka.. Kamu tidak make up sama sekali ?? " Sambil menyapu beberapa tetesan yang masih berada di sekitaran mulut nya, Detrian menanyakan pada Clara tentang make up dan sejenis nya.
"Ya. Dan ini tisu, tolong di lap dengan benar mulut Mu itu. Karena bisa jadi Aku merasa jijik padahal tadi merasa biasa saja."
Sambil memberikan beberapa helai tisu pada Detrian, Clara menatap wajah pemilik netra hitam yang seakan tidak percaya dengan yang di sampaikan oleh Clara barusan.
"....... " Detrian yang membersihkan mulut nya dengan tisu yang di dapat dari Clara tadi, masih tetap tercengang dengan kenyataan.
"Detrian ? Apa karena keselek jus, rasa sakit yang Kamu rasa membuat Kamu kehilangan fokus seperti saat di atas mobil ? " Sambil meneguk susu hangat, Clara bertanya dengan mata ekor yang melihat Detrian.
"Ah.. Tidak.. Aku pikir wajah Mu saat bertemu kemarin itu full make up, padahal natural ya.. Wow, Aku memang tak salah memilih wanita. " Gumam Detrian dengan suara kecil, karena berharap Clara tak bisa mendengar nya. Namun sayang, pemikiran nya tidak sesuai dengan kenyataan.
"Tak salah memilih wanita ? Maksud Mu siapa ? Aku ? " Secara tetang terangan, Clara bertanya pada Detrian. Clara tidak tau bahwa pertanyaan nya itu dapat bermaksud lain. Mungkin karena sudah lama tidak mengobrol, sehingga daya kosakata yang keluar dari mulut Clara tidak bisa di analisa lebih dalam.
Detrian yang kaget karena gumaman nya di dengar oleh Clara langsung membulatkan mata nya, dan sedang membuka ribuan arsip jawaban yang tertumpuk di benak nya, agar dapat menjawab pertanyaan Clara yang terlalu jujur ini.
"I... Iya.. Iya kamu, Aku tak salah pilih wanita yang akan membantu Ku dalam menjalan kan kesepakatan Kita tadi malam. " Entah sebuah mukjizat atau apapun, tetapi Detrian sangat bersyukur karena mendapatkan jawaban yang masuk akal untuk saat ini.
"Oh, iya juga sih. Berhubung kerajaan yang masih tersisa hingga detik ini hanya tiga kerajaan. Jadi mau tidak mau, hanya Aku yang bisa membantu Mu."
__ADS_1
Clara yang tidak ingin merasa curiga sedikit pun lanjut menyantap roti nya sampai habis, dan meminum dua gelas susu.
Para pelayan yang bertugas mengangkat roti tawar yang terberkati karena semburan jus dari Detrian pun menahan tawa, karena baru kali ini mereka melihat tuan mereka yang salting dan kelabakan mencari jawaban.