I Am The Queen

I Am The Queen
#38.


__ADS_3

Clara berhenti sejenak untuk mengesap teh yang Dia seduh sendiri.


"Apa nya yang nikmat Ra ? " Karena merasa penasaran, Detrian pun langsung berjalan mendekat dan berdiri di belakang kursi yang sedang Clara duduki.


Entah apa pikiran nya, padahal jika duduk berhadapan seperti tadi lebih normal jika melakukan percakapan.


Dan lagi panggilan nama yang awal nya *Clara* Kini telah berubah menjadi *Ra* saja. Clara tidak masalah akan nama panggilan itu, karena selama empat bulan bersama Detrian, mereka berdua sudah saling mengenal (Sebatas teman saja untuk Clara, tapi tidak dengan Detrian)


Tetapi saat Detrian meminta Clara untuk memanggil nama nya dengan beberapa huruf saja seperti *Det* *Ian* *Ri* *Rian* atau *De* saja, langsung di tolak mentah mentah oleh Clara.


Clara bahkan bilang, Dia tak mau menjalin hubungan sahabat dengan Detrian. Cukup dengan kata TEMAN, boleh kurang tapi tidak boleh lebih.


"Nikmat sekali melihat Sonya merasa tinggal selangkah lagi untuk menjadi ratu, namun tak akan pernah bisa mencapai hal yang dia mau, padahal hanya tinggal selangkah saja. Coba bayangkan reaksi wajah nya... Pftt.. Hahhaha.... Aku akan sangat menikmati hal itu. "


Sambil cengar cenyir, Clara terus membayangkan dan lanjut menuangkan rancangan rancangan nya yang matang untuk pembangunan perusahaan nya nanti, dan lain sebagai nya.


Saat Clara tengah fokus menggerakkan pena nya di atas benda tipis dan putih itu, Detrian pun membuka pembicaraan lagi.


" Ra.. Aku boleh minum teh milik Mu ? " Kata nya sambil menunjuk ke arah gelas teh milik Clara, padahal Clara tidak melihat yang Detrian tunjuk.


"Ya Kalo mau minum yaaa tinggal di minum saja. Tapi tak ada balok gula Detrian. Soalnya Aku gak suka yang manis manis. Kalo mau, ambil sendiri di dapur. " Karena terlalu fokus pada kertas putih dan tinta hitam nya, Clara tidak melihat bahwa yang di tunjuk oleh Detrian adalah gelas teh nya, bukan teko tempat Clara menyeduh.


Sruupp.. Detrian yang Menyeruput teh.


"Hem~, Aku pikir pikir lagi rasa teh hitam gak buruk buruk amat. " Komen Detrian, setelah selesai meneguk seteguk teh hitam, tepat di tempat Clara menempelkan bibir nya saat menyeruput teh tadi.


"Tentu. Jika kamu membiasakan lidah Mu untuk mengecap rasa teh hitam setiap hari, Aku juga berpikir bahwa kamu bisa terbiasa dengan rasa teh hitam. " Respon Clara sambil mengambil gelas teh tadi, dan meminum teh tepat di tempat yang sama dengan Detrian.

__ADS_1


"Hehehe ~~ " Tawa puas dari Detrian sambil menatap Clara, karena Clara telah meminum teh dari bekas bibir Detrian, di mana Detrian meminum teh di tempat Clara menempelkan bibir sebelum nya.


"Kamu kenapa ? " Sambil meletakkan gelas kembali ke piring kecil nya, Clara menatap bingung ke arah Detrian.


"Gak papa kok.. Aku mau tidur dulu ya, soalnya semalaman gak tidur sama sekali karena Mamu yang melatih kekuatan sampai pagi. Daahh ~~ " Detrian pun telah meninggalkan ruangan kerja Clara dengan tersenyum lebar, lalu berjalan ke kamar nya.


Clara yang merasa ada yang aneh dengan tingkah Detrian pun, hanya bisa menaikan satu alis nya sambil menggelengkan kepala. Saat Clara ingin tunduk lagi untuk lanjut menulis, ada sesuatu yang janggal di rasa nya.


"Tunggu.. Di mana gelas teh yang Dia gunakan ? Sebentar... " Sambil menoleh ke arah teko dan tiga gelas yang masih berada di tempat yang sama tanpa ada nya perubahan tempat sedikitpun. "Jangan bilang.... " Kali ini Clara menengok ke arah gelas teh nya, dan...


"DEEEEEETTTRRIIIIIAAAANNNNNN !!!!!! "


Teriak Clara yang membuat banyak burung yang sedang bertengger di ujung pepohonan dekat vila itu, terbang menjauh ke angkasa.


"GAK USAH BILANG MAKASIH, RA."


Jawab Detrian yang ikut berteriak dari dalam kamar nya, yang hanya berjarak dua ruangan dari ruangan kerja Clara.


"Anjir. Dasar bajingan.. Keparat !! Buka pintu nya gak ?? "


Buk... Buk.. Buk...


Dengan umpatan yang sudah tak bisa di saring lagi, Clara mengeluarkan semua nya sambil berteriak teriak. Bahkan memukul keras keras pintu kamar Detrian, seperti rentenir yang sedang menangi uang.


Bukan nya takut atau kabur, justru Detrian duduk seperti seorang putri / putra duyung 🧜‍♂️🧜‍♀️ (???) di atas kasur, dan cengar cengir tak jelas. Bahkan sesekali Detrian tertawa pelan, karena Clara tak bisa mendobrak pintu kamar Detrian.


Bukan nya karena Clara masih lemah, tapi karena kehidupan selain di hutan kematian sedang di hentikan, otomatis tak ada tokoh yang menjual atau menyediakan jasa ganti pintu. Clara bahkan sempat mengumpat untuk menghancurkan vila itu dengan kekuatan petir dan hujan angin yang kencang.

__ADS_1


Namun saat Clara baru mau menyebutkan nama dari kekuatan yang ingin dia keluarkan, Detrian bersuara dari dalam kamar.


"Kalau vila ini hancur, kita berdua akan tinggal di satu rumah pelayan yang sama persis dengan rumah yang pernah kamu hancurkan waktu itu Ra. Kita akan tidur di atas ranjang yang sama, Tak ada bantahan, tak ada penolakan, tak menerima keluhan dan lain sebagai nya. Paham Ra ~~?? " Dengan suara yang bergelombang, Detrian berhasil membuat emosi Clara membumbung tinggi ke angkasa.


"! #! #(#?#"!? @;#;;#! @? #) @? #) @? @! #! #!  " Umpatan Clara pun tak bisa di hentikan lagi.


[⚠️Mohon maaf, umpatan Clara terlalu kasar, sehingga hanya bisa di lihat seperti di atas, itu pun telah melalui banyak pemikiran yang berulang ulang. Em, gak tau juga sih, soalnya Otor mau yang ke gitu ٩( ᐛ )و ⚠️]


.... ...


.... ...


.... ...


...[Dua bulan kemudian] ...


Seperti yang di nyatakan sebelum nya, Clara memerlukan waktu dua bulan untuk mematangkan segala nya. Entah itu di percaya atau tidak, 61 hari itu terasa sangat singkat bagi Clara.


...[Di jalan Tol, tempat mobil terparkir] ...



"Aku akan menggerakkan kembali waktu seperti sebelum nya, apa Kamu sudah siap untuk bertarung atas nama balas dendam Ra ? " Sambil menengok ke samping di mana Clara berdiri,Detrian bertanya pada Clara.



"Aku memang masih harus melakukan persiapan lain nya, tapi Aku rasa saat ini Aku sudah sangat siap. " Sambil balas menatap Detrian, Clara menjawab dengan penuh percaya diri.

__ADS_1



Tanpa menunggu lama lagi, Detrian langsung mengatur jam tangan nya. Memerlukan waktu lima menit, dan akhirnya kehidupan di dunia fana pun kembali normal dan berjalan seperti sebelum nya. Dan jam tangan yang di pakai Clara yang menunjukkan detik, menit, jam, tanggal, hari, bulan, dan tahun itu, jarum jam nya langsung berputar kembali ke belakang dengan sangat cepat, yang menunjukkan enam bulan sebelum nya saat Clara masuk bersama Detrian ke dalam hutan kematian itu.


__ADS_2