
Dan ya, reaksi Leo tidak sama seperti Detrian. Berbanding terbalik malah, Leo memberikan umpatan terbaik dan menjadi wawasan baru bagi Clara yang juga suka mengumpat.
"Apakah Aku harus pergi dan membunuh ke dua manusia sampah itu ?? " Dengan emosi yang bertahta di benak Leo saat ini, membuat diri nya memunculkan ide yang sangat ekstrim.
"Hahaha.. Tak perlu Leo. Apakah Kamu berpikir Aku akan membiarkan mereka hidup bahagia untuk sisa waktu mereka ? "
"....... " Leo hanya mengangguk kemudian menggelengkan kepala, karena dia juga tak tau jawaban mana yang benar.
"Tentu saja tidak bodoh. Aku akan balas dendam tentu nya. Padahal saat pagi tadi Aku masih pusing memikirkan bagaimana cara mendapatkan prajurit atau anak buah yang setia, tetapi takdir mempertemukan Aku dan Kamu. Sungguh sesuatu yang sangat tidak pernah terkira kan sebelum nya. "
Sambil memutar cincin yang ada di jari telunjuk nya, Clara mengutarakan apa saja yang ada di otak nya saat ini.
"Em... Karena kelompok the black fire adalah kelompok terbaik yang ada di muka bumi ini, jadi takdir memilih kelompok ku untuk membantu kak Clara dalam balas dendam. Hem, sungguh analisa yang sangat memuaskan. "
Dengan wajah yang tampak sombong, Leo sedang membanggakan diri nya di hadapan gadis yang baru menjadi kaka nya beberapa jam yang lalu itu.
"Ternyata pede yang berlebihan itu tak bagus sama sekali ya." Batin Clara yang melihat Leo dengan ujung netra nya.
"Ah Leo, aku ingin bertanya. Seberapa percaya kamu pada anak buah Mu ? "
"Dalam hal apa kak ? " Karena tak mau memberikan jawaban yang salah, Leo mempertajam otaknya demi pertanyaan yang satu ini.
"Dalam segala hal." Tegas Clara yang berarti di semua aspek.
"100%. Tidak, Bahkan 1.000%. Ah tidak juga sih. Yang lebih tepatnya itu tak terhingga. " Dengan penuh percaya diri, Leo menjawab pertanyaan Clara. Karena Leo telah mengenal 1.000 anak buah nya dalam rentan waktu yang lama.
"Baiklah, maka beritahukan saja kisah Ku pada mereka. Aku tak mau menutup fakta tentang diri ku pada mereka, lalu aku juga ingin mendapatkan pengakuan dari mereka." Ujar Clara yang sudah yakin bahwa diri nya tidak salah merangkum sekutu.
"Baik.. Akan aku sebarkan dongeng yang sangat bagus di markas. "
__ADS_1
"Ah, leon. Ada berapa anak buah Mu yang sudah masuk dalam dunia kotor pembunuhan ? "
"Ada 1.000 orang. Sebenar nya masih bisa lebih, tetapi aku yang tak mau. Cukup kami saja, jangan anak anak lain yang tak tau apa apa. "
"Hem ~ " Clara menaruh jemari di dagu nya, seakan sedang memperhitungkan sesuatu. "Kalau begitu, ada berapa anak yang umurnya sekitar 19-22 tahun ? "
"Em, kalo itu sekitar ada dua ratus lebih. "
"Berapa jumlah anak balita sampai remaja? "
"Aku gak terlalu yakin sih kak, tetapi kisaran nya hampir lebih dari 600 anak. Karena ada 10 panti asuhan yang aku lindungi dan yang aku buka. "
"Mereka bersekolah ? "
"Tidak. Karena sekalipun kelompok kami terkenal akan kekuatan dan kekokohan nya, kami masih tidak bisa menghasilkan uang di bidang lain selain di bidang pembunuhan. Hal ini membuat uang yang ada hanya bisa untuk kebutuhan sehari hari."
"Oke, tunggu sebentar. " Clara pun langsung mengambil handphone nya dan mengirim pesan untuk seseorang. Memakan waktu sekitar lima menitan Clara berbalasan dengan orang di seberang sana.
***
Clara langsung turun dan berjalan menuju ke arah pintu masuk rumah, Leo juga berjalan di samping Clara.
Clara berjalan sambil terus menengok ke segala arah, dan langsung memunculkan perempatan di kening nya.
"Kaka kenapa ? " Tanya Leo yang sadar akan perubahan ekspresi Clara.
__ADS_1
"Kamu bilang kalian kesusahan dalam keuangan, tetapi Mansion ini seakan tidak membenarkan hal itu."
"Ah, aku juga awal nya tak mau membeli mansion yang mahal ini. Tetapi karena senjata dan alat lain yang berbahaya harus selalu aman, aku memutuskan untuk membeli mansion dengan keamanan tinggi, yang di bantu juga oleh alat dan juga beberapa anak buah ku. "
"Masuk akal. Tetapi di mana 1.000 anak buah mu ? Tak mungkin mereka tak menyambut mu dan aku kan ? "
Clara mulai merasa gelisah, karena ini adalah pertama kali nya Clara bertatap muka dengan orang orang yang tak pernah di bayangkan sebelum nya.
"Mereka semua sudah menunggu di Aula kak, mereka sudah menyiapkan sambutan dadakan yang terbaik sebisa mereka. "
Klek
Sambil membuka pintu, Leo menjawab Clara dengan sangat rinci.
Saat Clara baru masuk, banyak nya dekorasi dadakan yang di tempel di dinding terpampang jelas di penglihatan. Terompet yang di tiup saat Clara masuk, seakan sedang perarakan membawa barang peninggalan sejarah.
Banyak nya wajah wajah yang baru di lihat, tidak membuat Clara takut. Tetapi Clara merasakan perasaan akrab, karena dari mereka semua, memancarkan tatapan senang, bersukacita, gembira, dan seolah sangat menantikan kehadiran Clara dari tadi.
Clara pun naik ke anak tangga agar dapat sampai di balkon atas, sehingga 1.000 anak buah yang ada di aula dapat melihat wajah nya. Leo juga memberikan alat pengeras suara pada Clara, dan Clara langsung memasangkan nya di baju yang ia pakai.
"Huuhh.... " Clara menghembuskan nafas dalam dalam.
"Selamat malam untuk kalian semua, senang berjumpa dengan kalian hari ini. " Sebagai kata pembuka, Clara berusaha agar tidak tercipta suasana canggung di pertemuan pertama.
Bunyi tepuk tangan dan siulan dari berbagai sisi terdengar jelas di pendengaran Clara.
Clara pun langsung memperkenalkan diri nya pada mereka semua, dan semakin waktu berlalu, Clara semakin rileks, dan dapat berbicara dengan santai.
***
__ADS_1
"Oke baik, karena aku sudah berbicara dengan sangat banyak dari tadi, maka info ini adalah info yang terakhir. Aku melarang keras kalian untuk membunuh mulai dari sekarang, kecuali kalau Aku yang menyuruh nya. "
Perkataan Clara itu sontak mendapat respon negatif dan positif. Entah mana yang harus di syukuri