
Detrian tidak menjawab pertanyaan Clara sedikitpun. Tapi dia juga akan menceritakan nya saat sudah masuk ke dalam kastil, jadi Clara tidak terlalu ambil pusing dan mengikuti kemana Detrian melangkah.
Saat tengah menaiki anak tangga, Detrian berbalik ke arah Clara dan Mengucapkan sesuatu. "Apakah kamu ingin membersihkan diri mu dengan mandi dulu Clara ? Aku bisa memanggil pelayan wanita untuk melayani Mu. "
"Tidak, Trimakasih. Aku lebih merasa nyaman saat ini, karena tubuhku sudah di bersihkan dan di sejuk kan dengan serpihan awan milik Kak Gres. " Sambil menggelengkan kepala nya, Clara menolak tawaran Detrian.
"Ah, kamu bilang kaka siapa tadi nama nya ? Gres ? Apakah dia Semi Dewi yang meminjamkan pada Mu kekuatan miliknya dan teman teman nya ? "
"Yaah, kak Gres sendiri yang menyuruhku untuk mencari keturunan Roman, karena di keturunan kerajaan Roman, telah terdapat pil yang dapat memulihkan kondisi tubuh setelah menggunakan satu atau lebih kekuatan dalam beberapa jam saja. Dan Kak Gres yakin bahwa sekarang pil itu sudah di kembangkan, dan dapat memulihkan kondisi tubuh yang melemah dalam tiga atau empat jam saja. "
Jelas Clara sambil melihat lukisan lukisan keturunan kerajaan Roman yang tergantung di dinding. Clara juga berharap dapat melihat foto Gres saat masih muda dulu.
"Apakah dia memberitahu pada Mu nama tengah nya ? Atau dari kerajaan mana dia berasal ? " Tanya Detrian penasaran.
"Em, kak Gres tidak memberitahu nama tengah nya sih. Tapi Dia berkata bahwa Dia berasal dari kerajaan Roman saat menjadi manusi fana. Em, rentan waktu nya kalau tak salah 100 tahun yang lalu... Mungkin informasi ini dapat Kamu manfaatkan untuk mengingat keturunan dari satu abad yang lalu."
Jawab Clara yang kali ini menatap netra hitam pekat milik Detrian.
"Hem, akan Aku bongkar album lama bersama dengan Mu besok. Untuk saat ini, mari kita bahas dulu kesepakatan yang belum terjalin sama sekali. "
Sambil membuka satu pintu setelah melewati banyak nya anak tangga, Detrian mempersilahkan Clara untuk masuk dan duduk di meja bundar yang terletak di dalam ruangan itu.
__ADS_1
Ada nya beberapa bunga hidup yang indah di dalam pot, memperindah setiap sudut ruangan.
Jendela yang cukup besar terlihat jelas di pandangan mata Clara. Clara yang penasaran langsung membuka jendela itu, dan didapati lah pemandangan dari rumah kaca yang atap nya terbuka saat ini.
Lampu lampu yang memperjelas penglihatan Clara membuat Clara mendapatkan ketenangan saat menghirup berbagai macam harum bunga yang berbeda.
Saat Clara sedang menikmati keindahan bunga dari satu sisi ke sisi yang lain, harum dari teh hitam yang numpang lewat dari indra penciuman nya, mengalihkan pandangan netra nya pada meja yang dia lewati begitu saja tadi.
Di meja itu, Detrian sedang menyeduh kan teh dengan sangat elegan layaknya seorang bangsawan yang telah terlatih sejak kecil.
"Apakah kamu memang suka minum teh?"
Sambil melangkah mendekati meja, Clara bertanya pada sang pemilik netra hitam yang saat ini melihat Clara sambil memegang teko yang berisi air panas.
Sambil menggeser kursi, Detrian mempersilahkan Clara duduk dan berjalan ke bangku untuk diri nya sendiri, yang berhadapan langsung dengan Clara.
Clara mengesap teh yang ada di hadapan nya, dan langsung meneguk teh itu dua kali. Karena rasa pahit dan sepat dari teh itu, membuat Clara mengingat ingat kapan terakhir kali dia meminum teh seperti ini ? Rasa nya sudah sangat lama sekali.
Sedangkan Detrian sedang meneguk teh dengan berusaha tampil elegan sesuai tata krama seperti Clara, awal nya berjalan lancar. Namun karena rasa yang timbul dari teh menyebar dengan cepat di seluruh indra perasa di mulut nya, Detrian langsung dengan cepat menjulurkan lidah nya, dan memasang wajah yang seakan baru saja meminum jamu pereda nyeri saat menstruasi.
"Ugghh.. Kenapa rasa nya beda sekali dengan yang Aku minum dulu ? Bukan kah Aku pernah minum teh ini dulu ? "
__ADS_1
Dengan muka yang masih tampak masam di segala sisi, Detrian menampakkan dengan jelas penolakan nya pada minuman bernama teh di tangan nya itu.
Karena tingkah Detrian yang seperti anak kecil, membuat Clara tertawa pelan sambil memasukan empat balok gula (Gula putih yang bentuk nya seperti boba yang bulat. Namun gula ini berbentuk kotak. ) yang berwarna putih ke dalam gelas teh Detrian.
"Hem ? Kamu memasukan apa ? " Dengan mata yang saat ini hanya melihat ke dalam teh, Detrian bertanya dengan wajah bingung nya.
"Sudah coba saja, Kamu pasti akan mengerti setelah merasa kan teh itu sekarang."
Perintah Clara sambil meneguk teh nya sampai habis, padahal menurut tata krama, harus di teguk sedikit demi sedikit.
Tapi Clara tak peduli lagi, Dia tak mau terlalu mengambil pusing hal kecil yang tidak akan melukai orang lain jika meminum teh dengan sekali atau dua teguk saja.
Detrian dengan ragu ragu menelan seteguk teh yang entah apa yang sudah di masukan Clara tadi, namun wajah berkerut nya langsung berubah cerah saat semua indra perasa nya di pulihkan dengan rasa manis yang menyeruak.
"Wow.. Padahal tadi kamu tidak memasukkan sesendok gula pasir, tapi kenapa rasanya jadi lumayan manis dan enak begini ?? " Dengan bola mata yang membulat sempurna, Detrian sangat antusias dalam menanyakan sesuatu pada Clara.
"Dasar bodoh, di sudut ranjang tempat penyimpanan serbuk teh dan keperluan minum teh lain nya terdapat gula yang berbentuk kotak berwarna putih. Aku pikir dengan kamu yang sudah hidup lama di sini telah mengetahui semua nya. Atau kalau kamu belum tau juga susunan lengkap dalam menyeduh dan menyajikan teh, setidaknya seduh lah kopi. Karena itu minuman yang sudah kamu kuasa kan ? Jangan menyeduhkan sesuatu yang bukan bagian dari Keahlian Mu. Karena akan sangat memalukan jika Kamu melakukan nya di depan keluarga besar yanh tengah berkumpul."
Sambil menopang wajah dengan tangan nya, Clara mengomentari Detrian habis habisan. Sampai sampai Detrian sedikit tampak malu.
"Maaf Nona, tapi Aku rasa kamu perbaiki dulu tata krama Mu. Karena tak boleh menopang wajah di atas meja seperti itu, menurut buku tata krama halaman ke 10." Karena tak mau malu sendirian, Detrian mengomentari Clara juga. Namun sayang nya, respon Clara berbeda dari yang di harapkan.
__ADS_1
"Ya bodoh amat. Aku juga sudah tak peduli lagi sama yang nama nya tata krama. Toh tak ada lagi yang akan memarahi Ku seperti dulu, dan karena Aku akan balas dendam, tak mungkin hanya dengan menguasai seluruh tata krama, dendam yang Aku pendam ini dapat terbalas semua nya kan ?"
Sambil memutari bibir gelas teh dengan jari telunjuk nya, Clara menjawab Detrian dengan sangat mudah, dan dengan tampang masa bodoh