I Am The Queen

I Am The Queen
#63


__ADS_3

Walaupun Detrian selalu mendapat pujian seperti itu, namun lain cerita nya jika pujian itu keluar dari mulut Clara.


"Emm.." Jawab Clara sambil berdehem dan mengangguk kan kepala nya. Detrian pun tampak menghembuskan nafas lega, karena merasa masalah ini sudah selesai.


"Walaupun Aku suka pada Mu, tapi..."


Detrian terus memberikan berbagai perkataan seperti nasehat mungkin ? Sampai melupakan kalau tangan nya masih menutup mulut Clara.


Clara yang mulut nya masih di tutup oleh Detrian, langsung memasang Smirk jahil, lalu perlahan menjulurkan lidah nya agar mengenai telapak tangan Detrian.


Seketika itu juga, seluruh badan Detrian sontak bergidik ngeri dan ada sesuatu yang langsung bangun. Entah apa itu.


"A...APA YANG KAMU LAKUKAN ? AARRRGGHH, APAKAH KAMU MENGINGINKAN AKU UNTUK LEPAS KENDALI ? MEMANG RUMAH KACA BAGUS JUGA UNTUK MELAKUKAN ITU, TAPI TAK ADA TEMPAT TIDUR YANG EMPUK DAN YANG BAGUS. JIKA AKU..HPMT .."


Detrian yang seakan kehilangan pengendalian diri pun sontak langsung menutup mulut nya sendiri. Karena dia sadar bahwa perkataan nya sudah keluar dari jalur aman, dan takut jika Clara merasa terganggu akan hal itu.


"Pft... Puahahhahahahah... Hahaha... lihat lah wajah mu, tingkah laku mu, respon mu, dan semua tentang mu jika Aku menggoda Mu sedikit saja.. Hahha.. Sebaik nya mulai dari saat ini Kamu jangan mencari cara agar dapat menjahili Ku Det, jika tidak, Aku akan membuat Mu lebih parah dari saat ini.. Hahaha..."


Clara terus terbahak bahak di tempat duduk nya sambil memegang perut, Detrian yang sedari tadi peredaraan darah nya seakan tak normal, perlahan kembali membaik. Melihat wajah Clara saat tertawa dan suara tawa nya yang lembut di pendengaran nya, membuat keadaan Detrian kembali stabil.


"Emm.. Akan lebih baik jika sejak awal Aku di jodohkan dengan keturunan kerajaan Abelia, bukan dengan keturunan kerajaan Achete. Sehingga Aku dapat melindungi kepolosan Mu dulu, dan menjaga Mu agar tak hancur oleh keadaan yang pernah Kamu alami. Entah kenapa, Aku sedikit menginginkan diri Mu yang dulu berlaku kembali di hadapan Ku. Cukup di hadapan Ku saja, karena melihat Mu yang tampak sangat rapuh dan berusaha tampil sekuat baja.. Entah kenapa menciptakan nyeri di suatu tempat pada tubuh ku." Batin Detrian yang menatap Clara yang saat ini sedang berusaha sekuat tenaga agar tidak tertawa.


"Oke.. Oke... Sekarang berhentilah mengerjai satu sama lain. Akan lebih baik jika kita segera menyelesaikan masalah Mata mata L ini. " Kata Clara setelah berhasil mengontrol pola tawa dan pola serius dalam diri nya.


"Baiklah.. Pastikan mata Mu tidak beralih sedikit pun dari layar laptop. " Kata Detrian yang memberikan saran baik.

__ADS_1


"Tentu.Memang nya Aku akan berpaling jika masalah ini menyangkut mata-mata L?" Sambung Clara.


Detrian pun menekan beberapa tombol di keyboard, lalu seketika gambar atau pergerakan manusia yang terjadi di ruang bawah tanah milik Kerajaan Abelia tampak jelas di depan mata Detrian dan Clara.


Di layar itu menampakkan dengan jelas bahwa saat ini Jodi dan Sonya sedang berdiri dengan sangat berdempetan atau lebih tepat nya sangat menempel seperti perangko.


Bahkan tangan mereka berdua saling bertautan di tubuh satu sama lain. Tindakan yang sebenar nya sangat tidak cocok di dalam ruang penyiksaan.


"UGGHHH..." Dengus kesal Detrian dan Clara secara bersamaan, lalu menggerlingkan mata mereka ke arah yang berlawanan. Ke mana saja tak masalah, asalkan tidak melihat Jodi dan Sonya yang menjadi pemandangan pertama.


"Cih.. Aku masih heran, kok bisa mereka memasang CCTV di tempat seperti ini ? apakah mereka tak takut di hack oleh orang-orang selain Aku ? "


Kata Detrian sambil mengatur agar yang mereka lihat bukanlah Jodi dan Sonya lagi. Lebih tepat nya, yang mereka lihat bukan memfokuskan pada Jodi dan sonya, tetapi pada semua orang yang ada di ruang penyiksaan itu.


Jelas Clara yang mata nya sudah fokus melihat kembali ke layar laptop, karena yang ditampilkan oleh layar laptop sudah tidak memfokuskan pada Jodi dan Sonya, tetapi fokus pada seisi ruangan.


Mendengar jawaban Clara, membuat Detrian menengok ke arah nya dan angkat bicara. " Kalau mata-mata L sudah berhasil memasang cctv, kenapa tidak memakainya saat dalam keadaan genting seperti tadi Ra ? " Tanya Detrian yang merasa sedikit penasaran.


Lalu seketika itu juga, wajah Clara langsung memerah. Dia seperti malu dan keberatan untuk menjawab pertanyaan Detrian yang satu ini.


"Karena.. Karena Aku belum mendapatkan cara untuk melihat CCTV yang dipasang di sana. Dan lagi Aku bukan lah seorang hacker. Bahkan aku tak tahu apa-apa tentang dunia Perhackeran. Aku harap Kamu paham dengan jawaban Ku. " 


Jelaskan Clara yang meskipun harus mengakui kekurangan nya di depan Detrian, Clara tetap menjawab nya karena tahu Detrian sudah membantu nya hingga detik ini.


"Imutnya... " Batin Detrian yang merasa pemandangan yang dia lihat saat ini sangat langka. Masuk akal sih, kapan lagi Dia dapat melihat Clara yang wajah nya bersemu merah ?

__ADS_1


Karena wajah nya di tatap lekat lekat  oleh Detrian, membuat Clara merasa tak nyaman. Alhasil Clara pun bertindak.


BUUUKK. Clara pun meninju Detrian tepat di rahang kanan nya.


"Jika kamu menatap wajahku seperti itu, bisa bolong juga wajahku Det.. " Tegur Clara dengan muka yang semakin bersemu merah. Entah karena malu, emosi, atau Salting. Seperti nya ketiga hal itu bercampur menjadi satu.


"Sakit Ra.. " Keluh Detrian dengan suara yang sengaja di imut-imutin.


"JIJIK. NAJIS. INGAT UMUR DET.  Seenggak nya, sesuaikan tindakan dengan kelakuanmu, Tolong. Haahh, mending kita fokus ke layar laptop aja deh, kurasa itu lebih bagus. " Kata Clara memberi saran yang dapat menguntungkan di situasi seperti ini.


"Iya iya iya iya iya. " Jawab Detrian sambil membuat bibir nya manyun, lalu ikut menatap ke layar laptop.


Saat melihat keadaan di dalam ruang penyekapan, ekspresi wajah Detrian dan Clara kemarin normal. Tak ada lagi wajah yang bersemu merah atau yang tampak manyun, kedua wajah itu kini tampak sangat serius.


"Laila.. " panggil Sonya dan itu membuat Detrian dan Clara merasa malas harus melihat ke arah Sonya. "Selama ini aku membiarkan Mu berada di sisi Jodi, walaupun Aku mengetahui kau sangat tergila-gila dan kegatelan dengan milikku, namun aku tetap bersabar karena cara kerja Mu yang kompeten. Tapi jika kamu sudah berhubungan dengan Clara, Aku harus membunuh Mu. " Ujar Sonya sambil semakin menempel dengan Jodi.


"Tapi jika kamu sudah berhubungan dengan Clara, Aku harus membunuh Mu. " Ujar Sonya sambil semakin menempel dengan Jodi.


"Bukan kah membunuh nya akan menjadi lebih baik ? Karena menyiksa nya itu sama dengan menjalani kehidupan di neraka. Ya, walaupun tak apa melakukan gladi resik sebelum menuju ke neraka, tapi tindakan itu tidak masuk dalam bentuk persiapan." Batin Clara yang tetap menatap layar laptop. Seolah tak mau kehilangan satu pergerakan pun di dalam sana.


"Tembak Dia." Perintah Jodi dan Sonya secara kompak.


*DOOORR!!*


Sepersekian detik setelah mendapat perintah dari Jodi dan Sonya, sebuah bunyi pistol yang melepaskan peluru ke arah Laila pun berbunyi. Membuat Detrian merasa cukup terhibur dengan bunyi pistol yang sudah lama tidak Dia dengar, Namun berbanding terbalik dengan Clara.

__ADS_1


__ADS_2