I Am The Queen

I Am The Queen
#62


__ADS_3

Saat tiba di hadapan nya, Sonya menarik rambut si wanita itu, agar dapat berbicara sambil melihat kontak mata.


Sonya dapat yakin sekali bahwa diri nya dapat membedakan yang di katakan adalah fakta atau sebuah kebohongan, hanya percaya diri saja, Tidak lebih dan tidak kurang.


"Apakah Clara si manusia sampah itu mendapat dukungan dari kerajaan lain? Atau dia punya dukungan dari peninggalan kedua orang tuanya yang tidak a


Aku dan Jodi ketahui ? Jawab aku wanita murahan... Selagi aku masih berbicara baik-baik kepada mu, sebelum aku mencincang habis daging mu dan memberikannya pada binatang liar di hutan."


Dengan suara yang terdengar serak karena sudah berteriak sedari tadi, Sonya memberikan pertanyaan yang sepertinya merupakan pertanyaan terakhir, karena sudah lelah mengajukan pertanyaan.


Lelah karena tidak membawakan hasil sama sekali. Jika saja Sonya sudah mendapatkan jawaban dari orang yang dianggap mata-mata L di hadapan nya, sudah pasti Sonya sudah membunuh nya sedari tadi.


Karena bukannya membantu, tetapi menginterogasi wanita ini malah membuat suasana menjadi semakin kacau, dan membuat tensi darah nya dan Jodi naik secara signifikan.


"Sungguh..Saya tak tau apapun.. Nona.." Jawab Wanita itu dengan sekuat tenaga, lebih tepat nya dengan tenanga yang sudah terkumpul secara susah payah.


Clara yang mendengar suara itu kembali membelalak kan mata nya, karena Clara akhirnya mengetahui suara siapa yang disiksa saat ini.


"Orang yang disiksa bukanlah mata-mata L." Ujar Clara sambil menatap Detrian dengan mata yang terpancar kan keyakinan.


"Siapa? " Tanya Detrian yang balas menatap ke  arah Clara.


"Dia bukan mata-mata Detrian. Dia adalah-"

__ADS_1


"Laila... Jangan membuat kesabaran Ku dan Sonya habis. cepat katakan apa yang kau ketahui, agar kau dapat mati dengan mudah. Apakah kau sungguh ingin mati di panggang? " Ujar Jodi dengan suara yang lantang, yang juga menjadi penyebab perkataan clara tadi terpotong.


Detrian pun menghentikan pergerakan jemari nya dan menatap Clara setelah dengan mulut yang tidak terbuka sedikit pun, atau yang menunjukkan glagad ingin bersuara setelah mendengar Jodi berbicara tadi.


"Ya... Seperti yang dia katakan barusan.. Orang yang disiksa adalah Laila.. Yang merupakan salah satu sekretaris setia dan terpercaya dari Jodi.. Laila sangat kompoten Detrian. Kemampuan nya dalam menjalankan tugas nya sebagai sekretaris perusahaan ayah Ku yang sudah diambil alih oleh Jodi nyata nya sangat mengesankan. Terlalu panjang jika harus Aku jabar kan satu per satu, inti nya Dia adalah orang Kompoten. Saking kompoten nya Dia, akan sangat di sayang kan sekali jika harus mati saat ini. Itupun mati di tangan Jodi dan Sonya."


Clara pun selesai menjelaskan, karena walaupun Jodi sudah memberitahukan kenyataan nya tadi, Detrian hanya mau mendengar kenyataan yang di beritahukan oleh Clara saja. Dan Clara pun seakan tau dengan maksud dari tatapan Detrian, sehingga Clara pun menjelaskan tanpa di suruh.


"Lalu kenapa diri nya di siksa seperti ini ? Apakah kelakuan nya tampak sangat mencurigakan, sehingga menjadi tersangka dari permasalahan ini ? " Tanya Detrian yang merasa heran.


"Dia memang kompoten Detrian, tapi itu dalam hal yang berhubungan dengan pekerjaan di kantor. Nyata nya, Laila ternyata sangat mencintai dan tergila gila pada Jodi. Sudah begitu, ada satu fakta lain yang lebih menarik Det. Kau tau ? Laila adalah wanita yang sangat mata duitan. Karena sejak dulu, mau urusan apapun, asalkan ada uang nya, Laila akan nampak sepertu seekor anjing yang penurut. Dia bahkan sampai di fonis menjadi Wanita yang selalu haus akan uang."


"Ahh, Tapi jika itu Aku, maka Aku masih belum bisa menjadi kan Laila sebagai tersangka. Karena belum ada bukti yang jelas, dan Aku akan menjadi pihak yang di rugikan jika nanti kehilangan orang orang yang kompoten."


"Aahh.." Respon Detrian dan kembali memainkan jemari di atas tombol tombol laptop. Kali ini tempo irama jemari Detrian lebih cepat dari sebelum nya. Dan itu membuat Clara sedikit bingung, karena respon Detrian terlalu biasa biasa saja.


Padahal tadi Dia yang bertanya, setelah mendapatkan jawaban malah terlihat masa bodoh ? Clara pun memilih tidak memberikan kritikan pada sikap Detrian, karena pasti akan menjadi panjang perdebatan nya. Berhubung Detrian suka sekali mencari masalah dengan Clara, agar dapat berdebat atau berkelahi.


"Selesai." Ucap Detrian setelah dua menit memainkan jemari di atas keyboard laptop nya.


"Hem ? " Clara menaikan satu alis mata nya. " Selesai apa nya Det ? "Tanya Clara.


"Mendekatlah Clara. Karena Aku telah berhasil membobol CCTV yang ada di ruang bawah tanah Kerajaan Abelia. " Kata Detrian dengan wajah yang tampak cerah, seakan menantikan pujian dari Clara.

__ADS_1


Mengabaikan wajah Detrian yang sedang menantikan pujian, Clara malah mengatakan hal lain." Benarkah ?" Kata nya.


"......" Detrian seketika terdiam dan merasa cukup bete dengan Clara yang entah tidak peka, atau memang sengaja tidak mempedulikan Detrian.


Clara sudah memindahkan kursi nya tepat di sebelah Detrian. Sangat dekat, seperti kursi kursi yang ada di bioskop. Hal ini bukan di sengaja, lantaran di karenakan layar laptop milik Detrian tak segede layar lebar yang ada di Bioskop, sehingga mengharuskan jarak duduk antara Detrian dan Clara tidak berjauhan.


Detrian masih bete dan melihat ke arah lain, dan Clara merasa ada yang aneh dengan layar laptop. Karena masih tampak sangat gelap, Clara pun menyiku pinggang Detrian cukup pelan.


"Mana gambar yang di tampilkan oleh layar laptop Mu Det ? Kok gelap banget ? Kaya masa depan para bedebah itu saja ." Kata Clara.


"Oh. " Sambil melirik sekilas ke arah Clara, Detrian hanya ber-Oh saja dan kembali melihat bunga yang sudah dia letakkan di dalam Vas bunga.


"Haahh.. " Clara menghembuskan nafas panjang, Dia seperti nya sadar apa yang bermasalah di sini, dan bagaimana cara menangani nya.


"Astaga... Ternyata Detrian sangat hebat. Dapat membobol CCTV milik kerajaan Abelia. Tidak sampai di situ, dengan wajah yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan banyak lagi kelebihan yang di miliki. Apakah Detrian sungguh manusia ? Hei... benarkan ? Aku rasa setiap menarik nafas, para malaikat di dalam surga akan merasa iri pada Mu. Aahhh, beruntung nya. Lalu hmpt -"


Perkataan Clara terhenti, lebih tepat nya di hentikan oleh tangan Detrian.


Clara membelalak kan mata nya, karena saat ini wajah Detrian yang menatap nya sudah memerah seperti kepiting rebus.


Nafas nya bahkan tak beraturan, mungkin jika Clara berkata lebih jauh lagi dan tak dapat di hentikan oleh Detrian, maka sudah sejak tadi Detrian mimisan.


"Berhentilah berkata seperti itu. Walaupun Kamu mengatakan hal itu karena mau membujuk ku untuk kepentingan Mu, lebih baik jangan berlebihan. Tak baik untuk jantung ku, bahkan aliran darah Ku seakan hanya mengalir pada wajah. Jika di biarkan seperti rem blong, maka Aku sudah mimisan. Mengerti ?" Kata Detrian dengan wajah penuh harap. Diri nya sungguh tak kuasa jika yang memberikan pujian seperti itu adalah Clara.

__ADS_1


Walaupun Detrian selalu mendapat pujian seperti itu, namun lain cerita nya jika pujian itu keluar dari mulut Clara.


__ADS_2