
Membayangkan mata mata L di siksa apalagi jika di bunuh oleh Jodi dan Sonya, membuat perih netra Clara. Oh, jika seperti ini terus.. Clara akan menangis untuk yang ke dua kali nya setelah kesengsaraan nya di hutan kematian.
...*...
...*...
...*...
...*...
Clara pun akhirnya tiba di tempat yang dia tuju sebelum nya. Tempat itu adalah Kastel Roman.
Ya, Kastel Roman. Para pelayan yang melihat Clara langsung memberi salam, karena dari mereka tak ada yang tau tentang masalah Detrian dan Clara bertengkar satu minggu dua hari yang lalu. Hanya pengurus Feng saja yang tau.
Clara langsung berlari ke salah satu pelayan pria yang sedang menyalakan lampu di halaman kastel, menanyakan di mana Detrian sekarang.
Karena sudah mendapatkan lokasi nya, Clara langsung berlari ke arah rumah kaca. Tempat Detrian sedang menikmati waktu sendirian.
Sebelum Clara sampai di kastel, dia menelepon Pengurus Feng dan menanyakan di mana keberadaan Detrian.
Karena takut nya saat ini Detrian sedang berada di dunia malam, lantaran waktu sudah menunjukkan pukul delapan saat Clara masih menyetir. Alhasil, Clara pun bertanya sebelum menentukan arah tujuan nya. Dia benar benar belajar untuk berpikir sebelum bertindak.
"Hosh... Hosh... Hosh... " Nafas Clara menderu, kaki nya yang terus melaju tidak berhenti karena alasan capek atau sejenis nya.
Dia cuma berlari ke arah rumah kaca, yang entah kenapa menurut Clara jalan menuju rumah kaca menjadi semakin panjang dan jauh.
Bahkan Clara sempat sesekali tersungkur di tanah atau lantai karena kaki nya sendiri, atau karena terantuk. Luka memar dan goresan yang ada di lutut tidak Clara hiraukan. Toh dia sedang memakai celana panjang, jadi pasti tidak akan menimbulkan luka yang parah bukan ?
.......
.......
.......
__ADS_1
...Klek. Pintu kaca yang di buka...
.......
.......
.......
Clara yang ada di depan pintu langsung memindai isi di dalam sana, mencari keberadaan seseorang yang di butuhkan saat ini.
Lalu karena mendengar pintu terbuka, membuat Detrian menoleh ke arah pintu karena mengira pengurus Feng sudah datang untuk membawakan kopi yang dia minta tadi.
Tatapan Detrian dan Clara bertumbukan. Detrian sempat berpikir mungkin dia salah lihat atau berhalusinasi. Sedangkan Clara yang sudah tak bisa mengontrol perasaan nya langsung membeludak kan liquid bening dari kedua netra nya.
Clara langsung bersimpuh di atas lantai yang di mana tempat nya masih satu langkah di depan pintu. Jarak meja dan kursi yang Detrian tempati tidak terlalu jauh, sehingga dapat melihat dan mendengar dengan jelas.
"A.. AKU MINTA MAAF DETRIAN... HIKS... SUNGGUH... AKU TAU AKU SALAH.. AKU AKAN MENJUAL TUBUH KU PADA MU HARI INI JUGA.. HIKS.. TAK MASALAH KAMU INGIN MENJADIKAN AKU BUDAK ATAU SEMACAM NYA, HIKS... TAPI TOLONG... TOLONG BANTU AKU KALI INI LAGI.. HIKS... AKU... AKU SUDAH TAK TAU HARUS PERGI KE SIAPA LAGI UNTUK MEMINTA TOLONG... HIKS.. MATA MATA L.. DIAAA. HIKSSSS.... "
Isak tangis pun akhirnya terdengar dari Clara. Tangis nya semakin histeris karena mengingat lagi tentang mata mata L.
Padahal rasa sakit dan perih nya luka yang di dapat Clara tidak bisa di anggap luka gores biasa. Jangan kan menangis, mengeluh saja tidak.
Detrian langsung berjalan ke arah Clara dan langsung memeluk nya dengan wajah yang terlihat sedang marah dan berkerut di segala sisi.
Saat di peluk oleh Detrian, entah kenapa perasaan hangat yang asing itu dapat membuat Clara merasa nyaman.
Clara pun semakin histeris dalam menangis, karena berpikir betapa tak tau malu diri nya yang setelah menampar dan menjadikan Detrian sebagai tersangka, Clara justru datang dan meminta tolong pada nya. Dan yang lebih membuat Clara melow adalah, pelukan dari Detrian saat ini.
"Ra... Jujur, aku tak suka melihat kamu yang seperti ini. Menangis boleh, karena menangis itu manusiawi. Tapi jangan jual diri mu seperti barang murahan dong. Aku terobsesi pada mu, pada sikap ketus mu, pada sikap mu yang tak pernah lupa status, pada sikap mu yang selalu menjaga jarak pada semua orang termasuk aku dan Leo, pada sikap mu yang terang terangan dan ceplas ceplos saat mengomentari dan berdebat dengan ku. Ra, come on. Kamu gak semurah itu. Bahkan setelah menjual dan memberikan seluruh barang berharga yang ada di bumi ini, belum cukup untuk mendapatkan mu. "
Detrian pun akhirnya angkat bicara setelah dua menit hanya mendengar tangisan Clara saja.
"... Aku memang sangat tergila gila pada mu, tetapi aku tak mau mendapatkan mu dengan cara seperti ini. Aku akan mendapatkan mu dengan usaha ku sendiri, dan aku sendiri yang akan menghancurkan tembok tak terlihat yang kamu bangun di antara aku dan kamu Ra."
__ADS_1
Ah, entah kenapa perkataan Detrian adalah perkataan yang sangat tepat yang ingin sekali di dengar oleh Clara saat ini.
Clara pun kembali menangis dan mengencangkan pelukan nya pada Detrian.
karena merasa terharu dan malu karena betapa bodoh nya Clara dengan sangat gampang nya mempercayai bahwa Detrian lah yang memberitahukan identitas nya.
...*...
...*...
...*...
...*...
Selang beberapa menit kemudian, tangis Clara sudah terhenti.
Detrian langsung membawa Clara mendekat ke kran yang tersedia untuk menyiram bunga setiap hari.
Clara yang logika nya sudah tertata kembali, kini membasuh muka nya sendiri. Awalnya Detrian ingin membasuh wajah Clara, namun karena Clara sudah mendapatkan kesadaran nya kembali, hal itu tak akan pernah terjadi.
Bahkan tadi Clara mendorong Detrian sekuat tenaga saat berpelukan, karena kesadaran nya telah kembali. Sungguh betapa tidak tau malu nya Clara, Clara pun mengumpat pada diri nya karena bersikap sangat tidak sopan.
Namun mau bagaimana lagi ? Sifat dan watak Clara telah berubah saat diri nya seolah di lahir kan kembali saat mendapat pinjaman kekuatan untuk balas dendam.
Setelah selesai membasuh wajah nya dengan air dingin, wajah Clara yang sembab pun telah tiada. Dan tampak lebih segar dari sebelum nya. Walaupun di bawah garis bola mata nya masih nampak jelas bahwa Clara baru saja selesai menangis, tapi mau bagaimana lagi ?! Karena memang tadi Clara menangis lumayan histeris dan lama.
...***...
Kini Clara dan Detrian sudah duduk di kursi yang ada di dalam rumah kaca. Saat mereka berdua baru duduk, pengurus Feng datang dengan berbagai macam perlengkapan untuk membuat kopi. Saat melihat Clara, pengurus Feng tidak kaget lagi. Karena tadi Clara sudah menelepon pada diri nya terlebih dahulu.
Pengurus Feng berjalan mendekat dan menyeduh kan kopi dengan air panas yang baru saja dia panas kan.
Saat tengah menuangkan kopi pada ke dua gelas Detrian dan Clara, Pengurus Feng pun akhirnya angkat bicara. Karena sedari tadi tak ada obrolan sama sekali di dalam rumah kaca itu.
__ADS_1
"Tuan Muda, saya tau bahwa anda bertengkar dengan Nona Clara beberapa hari yang lalu. Saya harap anda tidak membuat Nona Clara menangis lagi seperti saat ini. Jagalah harga diri kita sebagai lelaki yang menghormati wanita yang lemah lembut seperti Nona Clara ini."
Sambil membenar kan kaca mata yang sudah menjadi kebiasaan Pengurus Feng, dia mengomentari perbuatan yang sama sekali tidak di lakukan oleh Detrian.