
Clara yang sudah sangat penasaran langsung masuk ke dalam, agar dapat melihat rumah sekecil itu dapat menampung apa saja.
[Di dalam Rumah]
Memang hanya terdapat satu tempat tidur, meja, sofa, dan tempat duduk. Namun itu sudah lebih dari cukup bagi Clara.
Karena Clara menelusuri ke samping, ternyata ada kamar mandi. Maka Clara langsung masuk dan mandi, lagi lagi tidak memikirkan apapun sebelum melakukan sesuatu.
Lima menit kemudian...
"DETTRRIIAAANNN... "
Teriak Clara dari dalam rumah.
Detrian yang berpikir mungkin ada ular di rumah Clara pun langsung masuk tergesa gesa, dengan cepat Detrian menelusuri isi dalam rumah itu. Namun tidak terlihat tanda tanda ada nya Clara.
"Clara... Kamu di mana ??? " Dengan kepala yang masih berputar di segala arah, Detrian langsung bertanya saja.
"Di... Di kamar mandi.. " Seru Clara dari dalam kamar mandi secara ragu.
"Ada apa di kamar mandi ? Apakah ada kecoak atau sejenis nya ? " Karena merasa sepele, Detrian langsung menghembuskan nafas lega. Setidaknya bukan sesuatu yang berbahaya.
"Itu... Rumah ini sangat bagus... Sangat cocok untuk ku malah, tapi... Apakah kamu tidak menyiapkan baju dan keperluan untuk wanita lain nya ? Seperti yang harus aku gunakan saat sehabis mandi.? Jangan kan baju, handuk saja tak ada. Apakah Aku harus memakai kembali baju yang sudah aku rendam di air ? "
Dari dalam kamar mandi, Clara berusaha menjelaskan sejelas jelas nya, agar Detrian dapat mudah mengerti.
__ADS_1
"...... " Detrian hanya bisa diam seribu bahasa, netra nya membulat dengan sempurna. Bahkan ada semburat merah di wajah nya, karena memikirkan sesuatu.
"Apakah kamu bodoh ? Para pelayan baru saja mengatur rumah ini, masih dalam proses penataan. Kenapa tanpa bertanya, kamu langsung mandi Clara ? " Tak kalah dengan volume suara Clara yang terdengar nyaring, Detrian melakukan itu karena sedang salting sekaligus marah.
Detrian berusaha agar Clara tidak menyadari perubahan sifat nya ini, sehingga volume suara yang naik hampir menghancurkan rumah serba minimalis itu.
"Yaah maaf lohh weee... Aku gak tau. Tapi Aku rasa saat ini yang terpenting itu, Aku harus pakai apa ? " Tanya Clara lagi yang sadar bahwa memang Dia yang salah. Jika tidak, maka saat ini kata kata tajam nya sudah menghujani kuping Detrian.
"Tunggu lah sebentar lagi, karena para pelayan wanita masih dalam perjalanan dari vila datang ke sini." Jawab Detrian sambil duduk di atas sofa, dengan terus memijat keningnya.
Karena suasana sangat hening, Clara lagi lagi ingin keluar dalam keadaan tanpa sehelai benangpun, karena berpikir tidak ada siapa siapa.
Klek.. Gagang pintu yang bergerak.
Mata Deteian dengan cepat nya langsung melihat itu, dan dengan sigap langsung berteriak "APA YANG INGIN KAMU LAKUKAN CLARA ??? APAKAH KAMU INGIN KELUAR DALAM KEADAAN TELANJANG ??? HAAHH??? " Kali ini suara Detrian terdengar sangat panik dan kalut.
Clara yang mendengar suara Detrian pun langsung menarik kembali pintu yang sudah terbuka sedikit itu, dan dengan dada yang bergemuruh karena kaget dan tak dapat menyangka apa yang akan terjadi jika tadi Dia keluar ??
"Pertanyaan konyol macam apa itu ? Jadi Aku harus berdiri di bawah terik matahari di luar, sampai jadi kaya ikan kering gitu?!"
Karena merasa diri tak salah, Detrian mulai mengeluarkan logika logika yang masuk akal, agar yang terpojok itu Clara, bukan diri nya yang notabene nya memang tidak salah.
"Bukan kan ini akan menjadi rumah Ku untuk satu tahun ke depan ? Berarti, Aku yang punya hak atas rumah ini."
Clara yang Tak mau kalah, membuat Clara juga berseru dari dalam kamar mandi. Saat ini debaran jantung nya sudah stabil, menyisakan rasa ingin berdebat untuk suatu kemenangan tunggal.
"Mau ini rumah Mu atau bukan, Hutan Kematian ini sudah menjadi milik Ku. Otomatis, apapun yang ada di atas tanah hutan ini, menjadi milik Ku ! " Seru Dertrian lagi yang semakin mendekatkan diri ke depan kamar mandi, agar suara nya dan suara Clara dapat terucap dan terdengar lebih jelas.
__ADS_1
"Haaaahhh ??? Sejak kapan Hutan kematian mempunyai pemilik ? Bukan kah ini milik negara ??? " Karena merasa tidak masuk akal, Clara mulai berpikir bahwa sedikit lagi Dia akan memenangkan debat ini.
"Sejak awal kerajaan Roman berdiri. Agar kepala dari suatu negara tidak terlalu di pandang sebelah mata, sehingga kami sepakat agar yang di ketahui publik itu hutan ini milik negara, padahal ini milik pribadi. Sampai sini paham ?! "
Detrian mulai mendekati kata menang, smirk kebahagiaan mulai terpampang dengan jelas di wajah nya yang tampan itu. Karena Dia tahu betul pasti saat ini Clara sedang kelabakan mencari kata selanjutnya.
"Ka-"
Tok.. Tok.. Tok..
Bunyi ketukan pintu pun terdengar, dan menyela perkataan Clara yang bahkan baru terucap dua huruf.
Perkataan Clara seketika terhenti karena mendengar ketukan pintu. Padahal Detrian saja tidak mendengar nya, tapi entah sejak kapan , pendengaran Clara seolah naik level.
"Tuan Detrian dan Nona Clara, saya membawakan perlengkapan sesudah mandi dan baju ganti untuk Nona Clara. Apakah saya boleh masuk.? " Tanya seorang pelayan dari pintu masuk yang belum terbuka.
"Detrian, cepat buka pintu sana.nHabis itu langsung tunggu di luar, karena Aku mau ganti. Paham ? " Perintah Clara yang berusaha lari dari pembicaraan sebelum nya. Dia juga tahu jelas, bahwa Dia sudah kalah debat.
Detrian yang masih belum ngeh sama keadaan pun langsung membukakan pintu, dan menunggu di luar.
Sedangkan pelayan wanita itu masuk dan menyerahkan handuk untuk mengeringkan badan, dan baju ganti untuk Clara. Ya, walaupun handuk itu sudah tidak berguna lagi.
Karena badan Clara sudah kering karena berdebat dalam durasi waktu yang tidak singkat [Menurut mereka berdua loh yah, padahal cuma lima menit.
***
Tak perlu waktu lama, Clara telah selesai berpakaian dan membuka pintu dengan semangat yang seolah bertambah.
__ADS_1
Klek...Pintu yang di buka.
"Ayo kita mulai latihan berkelahi nya Detrian." Seru Clara dengan senyum semangat nya, sambil menggenggam tangan yang telah memakai sarung hitam itu.