
"Benarkah ? Syukurlah kalau seperti itu. " Hembusan nafas lega dari Clara terdengar cukup jelas di pohon telinga Detrian, dan Detrian hanya bisa menutup smirk yang muncul di wajah nya saat mendengar helaan nafas lega dari Clara.
"Ya ampun susah jam 8:28, aku harus pergi ke aula seperti kata Leo tadi. Detrian, aku pergi dulu. Jangan membuat tempat ku berantakan oke ? "
Sambil berjalan ke arah pintu, Clara berbalik dan memberikan ultimatum pada Detrian dengan ekspresi wajah nomor 10. Dan hal itu berhasil membuat tawa Detrian pecah saat Clara sudah menutup pintu.
Setelah itu, Clara melanjutkan pekerjaan nya sesuai yang telah di bacakan olah Leo tadi.
Detrian masih Stand by di samping Clara di setiap saat dan di setiap sesi, untuk mengontrol dan menilai apapun yang terjadi. Bukan nya khawatir atau apa, tetapi Clara sendiri yang meminta hal ini pada Detrian.
Karena sekalipun Clara sudah jago berkelahi, memiliki otak yang encer dan tajam, serta tak mudah dibodohi, Clara masih baru dalam hal kepemimpinan dan dunia kerja.
Karena dulu, satu kali pun Clara tidak pernah kerja magang atau menambah wawasan kerja. Hal itu wajar saja, karena ke dua orang tua Clara sangat memanjakan putri semata wayang mereka itu.
***
Pukul Sembilan malam.
Clara yang sudah selesai makan malam bersama Detrian satu jam yang lalu, langsung pergi ke markas The Black Fire untuk memeriksa dan menandatangani berkas penting selama satu jam, hingga suara ketukan pintu menghentikan Clara dari kegiatan nya ini.
Tok.. Tok..
"Masuk. " Perintah Clara singkat dan Leo pun langsung masuk.
"Kak, Tim Alpha sudah selesai bersiap. Apakah kaka mau menuju lokasi sekarang? Atau di tunda beberapa jam lagi? " Leo memberikan laporan dan pertanyaan pada Clara dengan sebutan akrap yaitu kaka.
__ADS_1
Karena hal itu sudah di sepakati mereka, jika di kantor ya silakan panggil bos atau Nona atau panggilan hormat lain nya, sedangkan jika sedang berada di markas, maka cukup dengan panggilan kaka saja.
"Sebentar. " Sambil menggerakkan pena yang ada di jemari nya, Clara mewarnai kertas putih dengan coretan hitam nya. Sehingga tanda tangan nya terlihat rapi dan menjadi tanda tangan terakhir yang mengakhiri kerja kantor nya di malam ini.
"Aku sudah selesai dengan urusan kerja ku, kita berangkat sekarang. " Clara langsung berdiri dari kursi kebesaran nya itu, dan berjalan ke arah Leo yang sudah membuka pintu dengan pakaian serba hitam yang terbuat dari bahan karet.
Karena jika menjalan kan misi bersama Clara atau tidak, pasti berurusan dengan perkelahian yang tidak memberi untung jika Leo mengenakan celana jins yang ketat.
Sedangkan Clara memakai celana pendek dan dan baju hitam yang menutup bagian dada nya saja.
Namun tentu saja Clara tak akan berjalan ke markas musuh seperti itu, saat Clara baru saja ingin keluar dari mansion menuju pada mobil yang telah terparkir di depan, sudah ada salah satu anak buah nya yang langsung memakaikan mantel panjang berwarna hitam pada Clara. Clara pun langsung berjalan masuk pada satu mobil yang berada di antara dua mobil hitam yang sama.
Clara dan Leon langsung menaiki mobil yang berada di tengah itu, sedangkan dua anak buah Clara sudah duduk di bangku pengemudi dan bangku yang ada di samping pengemudi.
Earphone yang sudah di pasang di masing masing telinga termasuk Leon, apalagi Clara yang menjadi pusat komando, sudah pasti terpasang sempurna di daun telinga nya.
"Apa kalian sudah membawa senjata kalian seperti yang aku perintahkan malam sebelum nya ? " Tanya Clara sebagai pembahasan awal, dan juga mengecek earphone yang terpasang di pendengaran tim alpha berfungsi atau tidak.
"SUDAH PEMIMPIN. "
Jawab kesepuluh orang itu dengan sangat kompak dan keyakinan, di tambah dengan Leo yang sudah resmi menjadi asisten dan tangan kanan kepercayaan Clara saat ini.
"Kalau begitu tunggu apalagi ? Kita berangkat sekarang, karena sudah ada lokasi yang menunggu kunjungan limited dari kita." Perintah Clara dengan Smirk psiko nya. Tunggu, sejak kapan Clara menjadi psiko ? Entahlah..
__ADS_1
***
30 menit kemudian.
Karena jarak yang lumayan jauh dari markas, membuat Clara, Leo, dan tim Alpha menempuh waktu perjalanan selama 30 menit.
Sesampainya mereka di daerah sunyi dan tak berpenghuni, hanya terdapat bangunan bangunan terbengkalai yang sudah lama tidak di huni manusia.
Jelas, karena radiasi yang pernah mengepung daerah itu selama bertahun tahun membuat warga terpaksa harus mengungsi dan enggan untuk kembali lagi sekalipun sudah lewat 50 tahun.
Pemerintah juga tidak mau ambil resiko dengan menyuruh para warga untuk kembali ke sana, takut akan hal yang tak dinginkan terjadi. Hal itulah yang membuat daerah itu bernama daerah sunyi karena tidak berpenghuni.
Tetapi Jodi dan Sonya tanpa sepengetahuan pemerintah, mensterilkan daerah sunyi itu dan mendirikan bangunan mewah yang berfungsi sebagai markas dari kelompok yang sudah pasti berfungsi membatu dan menjalankan permintaan gila dari Jodi dan Sonya.
Kelompok itu bernama *Rick Devil* , yang bertugas untuk membunuh. Hanya membunuh saja yang menjadi pekerjaan tetap mereka, tak peduli siapapun yang di perintahkan untuk dibunuh, mereka akan membunuh nya sekalipun itu tokoh tokoh penting dalam negara.
"Parkir kan mobil kita di dekat pepohonan ini, agar tidak di rusak dan tidak di lihat oleh mereka." Perintah Clara.
"BAIK. " Jawab masing masing pengemudi yang hanya ada di 3 mobil ini.
Mereka semua langsung keluar, tentu nya dengan Leo yang membukakan pintu untuk Clara.
Detrian ? Clara tak mengijinkan nya untuk ikut, karena ini adalah dendam Clara, dendam yang harus Clara tangani sendiri agar tercapailah tujuan awal kehidupan baru nya ini.
Karena jika Detrian ikut serta, semua nya akan berjalan sangat gampang dan tak ada rasa yang memuaskan dahaga Clara yang keringan karena dendam.
__ADS_1
Tim alpha yang berjumlah sepuluh orang itu langsung berpencar ke segala arah sesuai dengan yang sudah di tentukan oleh Clara, karena sudah mendapatkan denah yang sangat strategis dari mata mata L.
Bahkan jumlah, kegiatan, dan kebiasaan dari kelompok Rick Devil di beritahukan oleh mata mata L secara rinci seolah sedang mengetik sebuah pertanyaan di Google.