I Am The Queen

I Am The Queen
#45.


__ADS_3

Perkataan Clara itu sontak mendapat respon negatif dan positif. Entah mana yang harus di syukuri.


"... Aku berkata seperti ini karena ada pekerjaan yang lebih baik untuk kalian. Selama 1 minggu ke depan, kalian semua akan mendapatkan kursus singkat agar dapat bekerja di perusahaan yang baru akan ku buka minggu depan. Aku sangat menantikan kerja keras dari kalian semua dalam  hal ini, karena besok jam 6 pagi, sudah akan ada 100 lebih pengajar profesional yang akan datang dan mengajar kalian. Aku tidak akan meragukan kemampuan kalian sama sekali karena aku percaya pada kalian semua. aku harap kalian juga mempercayai ku seperti aku yang baru menemui kalian dari beberapa menit yang lalu. "


"Dan yang terakhir -"


BRAAAKKK !!!!


Terdengar satu bunyi yang memotong perkataan Clara, dan menyita seluruh perhatian.


"Apa yang terjadi ?? " Tanya Clara yang ikut melihat ke arah suara berasal.


Di sana sudah ada pintu samping yang di dobrak , dan ada sekitar dua puluhan orang masuk dengan serba hitam, dan menutup wajah mereka. Mereka langsung melayangkan peluru dari pistol yang mereka pegang


DOR... DOR.. DOR...


Bukan nya panik, seluruh anak buah yang ada di aula langsung mengeluarkan pistol yang ada di saku mereka dan melumpuhkan dua puluh orang bodoh yang menyerang di markas musuh itu dengan menembak kaki dan tangan mereka.


Clara langsung turun dari atas balkon dan menuju ke arah bunyi pistol tadi, sedangkan seluruh anak buah yang melihat Clara langsung memberi jalan karena di samping Clara ada Leo yang seolah sedang mengawal Kaka nya itu.


"Tenang sana pemimpin, kami tidak membunuh mereka. Kami hanya menembak kaki dan tangan mereka. " Ujar seorang wanita yang tak mau Clara memarahi atau salah paham.


Netra Clara langsung memindai 20 orang yang saat ini sedang duduk di atas lantai menahan rasa sakit, tapi tak ada rasa ketakutan yang mereka pancarkan.


Otak Clara yang berputar dengan cepat pun langsung panik dan angkat bicara,


"SEMUA ORANG YANG ADA DI SINI, CEPAT PERGI KE LUAR DARI DALAM MANSION INI. " Perintah Clara dengan suara yang terdengar tegas tapi sedang panik.

__ADS_1


Banyak nya bisikan pun terdengar jelas di telinga Clara, Kenapa ? Ada apa ? Apa kita melakukan kesalahan ? Dan banyak keluhan lain nya. Hal itu membuat Clara seakan kehabisan ide dan hanya bisa menggunakan kekuasaan nya untuk memerintah.


"KALIAN SUDAH MENEMBAK TANPA AKU SURUH, PERGI KE HALAMAN DEPAN. AKU SENDIRI YANG AKAN MENGHUKUM KALIAN."


Ujar Clara penuh penekanan, dan hal itu langsung di lakukan mereka semua. Tak memakan waktu lama, hanya lima menit rungan itu langsung kosong melompong, hanya menyisakan 20 orang di atas lantai bersama Clara dan Leo yang tak mau meninggalkan kaka nya seorang diri.


"Apa yang kalian tunggu ? Kenapa tidak lakukan sekarang ? " Dengan tangan yang mendorong Leo menjauh dari sisi nya, Clara mulai merenggangkan jemari nya.


"Cih... Untuk apa kami lakukan, sedangkan hanya ada dua lalat di dalam ruangan ini. Tak akan memakan banyak korban kan ? " Jawab salah seorang yang menatap sinis ke arah Clara.


"Lalu kenapa kau TIDAK melakukan nya saat anak buah ku masih dalam proses pergi ke luar hah ? " Tak kalah sinis, Clara memberi kan pertanyaan lagi.


"Karena tangan ku di tembak di titik saraf, yang membuat ku kesusahan dalam memencet tombol nya. Dan kalo aku lakukan saat baru memasuki ruangan ini, tentu tak bisa. Karena 19 rekan ku belum mencapai ke titik yang di rencanakan."


"...... " Leo masih diam dan menatap Clara dengan tatapan bingung, wajah nya berkerut di segala sisi. "Sebenar nya apa yang terjadi ? " Batin nya masih bingung dan berusaha keras memikirkan apa yang terjadi.


"Terima kasih atas pujian nya, tetapi aku rasa kamu cukup bodoh. Apa kamu kira dengan menyuruh anak buah mu berdiri di luar, mereka tak akan terkena imbas nya ? "


"Heh, justru aku menyuruh mereka keluar karena aku sudah punya beberapa rencana untuk menghalau hal ini. " Sambil melirik Leo yang berada enam langkah di belakang nya, Clara melihat Leo masih belum tau apa yang terjadi saat ini.


"Ya, bodoh amat. Jika aku tidak menghubungi ke pusat markas 30 detik lagi, maka mereka akan menekan tombol dari sana dan kita semua akan mati bersama sama. Dan jika kami semua berkumpul di satu titik seperti ini, frekuensi ledakan nya sampai ke pintu gerbang kalian loh ~ " Ujar wanita yang sejak tadi terus menjawab Clara.


"TUNGGU ! LEDAKAN ? APA MEREKA MEMBAWA BOM ? " Dengan wajah kaget dan Syok, Leo menerobos pembicaraan. Clara hanya melirik dan mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu bodoh sekali ya, sampai sampai pemimpin Mu yang menyadari hal ini terlebih dahulu. " Dengan wajah meremehkan, wanita itu menatap Leo sambil memberikan komentar sinis.


"TIDAK.. KAKAK, MENJAUH LAH DARI SANA " Teriak Leo karena membayangkan ha yang mengerikan jika Clara terus berada di dekat 20 orang itu.

__ADS_1


"TIDAK ! KAMU TETAP LAH DI SANA" Balas Clara sambil berteriak.


Lalu, terdengarlah langit yang bergemuruh.


Langit yang bergemuruh, menghasilkan suara dentuman yang membuat sakit pendengaran.


"Kita akan sama sama mati." Dengan tatapan mengerikan, wanita dari pihak musuh itu tersenyum puas.


"TIDAK. KALIAN SAJA YANG AKAN MATI." Jawab Clara yang masih tenang dan menatap datar ke arah wanita itu.


"Apa maksud mu ? "


"Awan... " Gumam Clara dengan suara kecil.


Seketika ke 20 orang itu di tutup dengan awan yang berbentuk kotak dengan ketebalan yang lumayan, dan juga ada beberapa awan yang menutup penglihatan Leo.


PUUUUUMMMMMMM..


Bunyi yang keluar dari dalam gumpalan awan yang berbentuk kotak itu, terdengar sangat keras sampai di luar. Dan hal itu membuat seluruh anak buah yang ada di luar langsung berlari masuk ke dalam mansion kembali.


Tak ada lagi ke 20 orang yang masuk sebagai pembuat onar tadi, hanya menyisakan Clara yang sedang memangku Leo yang kehilangan kesadaran.


"Apa yang terjadi ? " Tanya mereka bersamaan sambil mengelilingi Clara dan Leo.


"Bawa Leo ke tempat tidur nya, dia seperti nya syok karena mendengar suara gemuruh tadi. "


Sebagai alasan, Clara memutar otak nya agar terdengar logis. Tak ada satu orang pun yang merasa curiga, karena Leo dari dulu tak suka pada hujan, guntur, dan petir. Fakta itu di ketahui oleh Clara saat berbincang dengan satu pria yang berganti mengawal Clara.

__ADS_1


__ADS_2